Waktu Itu

1019 Kata

Perjalanan menuju kantor selalu jadi bagian yang bisa menghiburku. Cukup membuatku berdebar jika mengingat aku mungkin akan bertemu lagi dengannya. Entahlah, sebelumnya aku bisa hidup baik-baik saja tanpa mengenalnya. Semakin baik ketika mengenalnya. Kembali baik meski harus merindukannya. Dan kini harusnya tetap baik saat hanya bisa memandangnya. Tetapi nyatanya tidak semudah itu. Aku harus berkali-kali menata hati. Aku harus menasehati jiwaku sendiri bahwa kami yang kembali sering bertemu sudah jadi bagian yang berbeda. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama. Atau justru tidak sama sekali. Dari kejauhan studio fotonya telah menjadi poin yang harus kuperhatikan. Dia ada di sana, melepas stiker yang selama ini menempel di kacanya. Dia tak menolehku yang sedang melewatinya. Pasti seda

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN