"Kia! Kamu kenapa jadi begini? Kamu mau apa? Kamu marah kenapa? Aku mana tahu kalau kamu mendadak bisu begini?" Dari nada bicara, sepertinya Enggar mulai putus asa. Bukannya merespon, Kiara malah menutup telinga dan wajahnya dengan bantal, lalu menangis tersedu-sedu. Enggar jadi panik sendiri. Cepat-cepat dia merapatkan pintu dan mengunci, agar sedu-sedan Kiara tidak terdengar hingga keluar kamar. Bisa panjang urusannya jika Nirma sampai mendengar tangisannya dan ikut campur. Tak ada yang bisa dilakukan Enggar setelah itu, selain mondar-mandir sambil mengusap tengkuk. Sesekali ekor matanya melirik Kiara yang masih saja menangis. Sesekali ia memijit pelipis sambil berpikir keras. 'Apa malam tadi nyata? Tapi kurasa cuma seperti mimpi?' Enggar tidak yakin dengan perasaannya sebelum Kiar

