"Apa yang kau lakukan sayang, apa kau mencoba menutupi itu? Percuma aku sudah menikmati semalaman." Ujar Frans sambil mendudukan tubuhnya dan bersandar.
"Kau b******k Frans!" Teriak Renata
Renata berdiri sambil terus menutupi d**a menggunakan bantal, "aku tetap tidak sudi kau menyetuh tubuhku Frans. Meski kau sudah bilang kau sudah menikmati semalaman dan aku juga akan mandi semalaman agar bersih dari noda menjijikan darimu Frans." Bentak Renata.
Frans tangannya sudah mengepal siap untuk meninju wanita yang di depannya sekarang ini hanya saja hal itu akan sia-sia, dia berdiri dengan telanjang di hadapan Renata. Tubuhnya yang perfect di tambah dadanya yang sedikit berambut tidak seperti cowok prancis pada umumnya.
Dengan rasa takut Renata sedikit mundur karena Frans mencoba mendekatinya.
"Mundur kau Frans!" Teriak Renata
"TOLONG TOLONG!!!"
Namun usahanya untuk berteriak gagal. Tubuhnya yang mungil kini sudah menyentuh tembok di belakang, tidak ada ruang lagi untuk Renata kabur.
Frans terus mendekat hingga jarak mereka kini dekat sangat dekat. Tangan kanannya beserta kirinya menahan sisi kiri maupun kanan Renata dan menekan Renata di dinding.
"Ingatlah Nona Perkins aku sudah membelimu untuk menjadi wanitaku jika kau terus seperti ini jangan harap kau bisa melihat kakakmu lagi!" Ancam Frans yang membuat Renata sedikit menggigil ketakutan.
"A-apa yang akan kau lakukan terhadap kakak ku?" Tanya Renata gemetar.
Frans kini memberi ruang untuk Renata bernapas lega, masih dengan tatapan yang sama Frans melihat Renata namun kali ini bukan tubuhnya yang di lihat melainkan wajah cantiknya, keringat sudah mulai menetes dari dahi renata dan Frans tertawa kecil melihatnya.
"Apa sekarang kau takut? Hahaha tenanglah sayang selama kau menurutiku aku tidak akan menyakitimu maupun kakakmu."
Frans kembali mendekat dan berbisik pada Renata, "aku tidak memintamu takut padaku tapi cukup turuti perintahku karna hanya hal itu yang akan menolongmu dari mereka."
Mereka, batin Renata
Frans meraih piyama dari dalam almari di ambilnya dua piyama dan di pakainya sedangkan yang satunya ia serahkan ke Renata.
"Pakailah ini untuk sementara karna pakaianmu semalam sudah aku buang."
Renata meraih itu serta melihatnya pergi, "tunggu kau membuat perjanjian itu dengan kakakku sekarang aku ingin kita membuat sebuah perjanjian untuk pernikahan ini." Frans terdiam mendengar itu, lalu membalikan badannya.
Renata yang sudah memakai piyama itu membuat Frans menyilangkan tangannya, "Tidak akan. Bukan sebuah perjanjian yang aku buat tapi aku membelimu dengan sangat mahal jadi Aku tidak ingin pernikahanku akan menjadi sebuah pernikahan kontrak ataupun pernikahan yang hanya bertahan untuk beberapa tahun, dengar Nona Perkins kau membuat aku sangat bernafsu untuk hal ini, aku akan mepercepat pernikahan dan saat kau sudah menjadi istriku kau akan mendapat apapun yang kau inginkan."
Frans pergi meninggalkan Renata setelah mengatakan itu, tubuh Renata yang tadinya masih berdiri dengan tegap langsung terjatuh dan terbujur lemas. Ketakutan yang di alaminya membuat darahnya seakan mengalir dengan deras dalam tubuh, jika dia kalah dalam hal ini itu berati dia lemah. Hal itu yang selalu Renata pikirkan sekarang.
***
Langit sangat cerah hari ini, sinarnya yang sangat menyilaukan masuk melewati etalasi kamar Renata. Renata berdiam diri di atas ranjang matanya yang sayu bibirnya yang pucat dan tubuhnya yang terus meringkup di balik selimut. Makanan dan minuman tidak dia sentuh.
Kemarin malam dia mencoba kabur namun semua pintu dan jendela terkunci tidak ada sela sedikitpun untuk Renata kabur bahkan penjaga sudah stay di depan kamar maupun luar rumah, 'rumah siapa ini? Apa hanya aku yang ada disini?' Pertanyaan yang selalu Renata pikirkan tanpa ada satu jawabanpun.
Pernikahan yang tadinya akan di lakukan satu minggu lagi kini Frans mempercepatnya, hanya tersisa dua hari dari pernikahan itu.
Tok tok tok
Suara ketukan dari arah pintu membuat Renata langsung beranjak bangun dan mendudukan tubuhnya yang lemas menjadi tegap dan kuat seakan dia tidak apa-apa.
Pintu itu terbuka dan menampakan seorang wanita paruh baya yang membawa koper besar lalu wanita itu tersenyum.
Wajah itu tidak asing bagi Renata, wajah yang sudah merawatnya dengan kasih sayang. Renata yang melihat itu langsung bangun dari ranjang dan berlari ke arah wanita itu.
"Sanne." Teriaknya lalu memeluk sanne dengan erat, pelukan itupun sanne balas dengan erat.
Sanne melepaskan pelukannya, "Nona Renata, Anda baik-baik saja? Ya tuhan anda terlihat pucat." Ujarnya kemudian melirik ke meja dan di lihatnya makanan maupun minuman masih utuh.
"Apa yang anda lakukan nona? Mengapa makanan itu tidak anda makan?"
Renata menyuruh Sanne untuk duduk, "apa yang kau lakukan di sini sann? Apa itu?"
Sanne memegang tangan Renata yang dingin, mengusap dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Tuan Frans yang menyuruh aku untuk menemani anda sekarang dan aku sudah membawakan pakaian nona muda." Ujarnya
"Nona jangan menyerah jangan lemah itu bukan sifat nona bukan, jika nona muda seperti ini nona hanya akan kesulitan jadilah diri sendiri apapun yang terjadi karna tuan Arjan pasti kawatir dengan anda." Ujar Sanne yang membuat Renata terdiam sesaat lalu dia mengangguk dan tersenyum pada Renata.
Perkataan Sanne benar tidak ada gunanya Renata seperti ini karna itu hanya akan mempersulit dirinya. Seperti waktu lalu saat dirinya masih menginjak bangku kuliah, hanya karna masalah sepele Renata down dengan drastis dan itu justru membuat jauh lebih menderita tapi saat dia menjadi dirinya sendiri dengan sifatnya yang tidak ingin tertindas, kalah dan mudah menyerah membuatnya bertahan sampai sekarang.
Renata meminta sanne untuk menyiapkan air hangat dan makanan, setelah semuanya selesai Renata kini menjadi dirinya sendiri, wajah yang tadinya sayu sudah Renata tutupi dengan make up, tubuh yang hanya terbalutkan piyama kini sudah memakai pakaian yang nyaman.
Meski tanpa ponsel di tangan Renata sekarang dia harus tetap bertahan, tanpa di sangka hanya tinggal sehari lagi dan dia akan menikah dengan Frans. Renata hanya bertemu Istri ke dua Frans dan dia tidak tahu Frans memiliki berapa Istri, tapi berapun itu Renata siap dengan sifat-sifat Istri Frans yang akan di hadapi. Yang kedua cupuk kuat tapi tidak sekuat Renata.
**
Cklek
Pintu itu terbuka san masuklah Frans dengan seuntas senyumannya, menyuruh Sanne untuk pergi dan kini tinggalah Frans dan Renata.
Renata yang tengah duduk di kursi kaki yang tersilangkan serta tangannya yang masih memegang gelas berisi wine, Renata lalu melirik ke arah Frans, "Ada apa kau kesini?"
Frans tertawa dengan keras yang membuat Renata menghentakan gelasnya ke meja yang berlapisi kaca.
"Apa kau kesini hanya untuk tertawa? Tapi aku rasa tidak atau apa kau akan mengurungku lagi ke ruangan yang jauh lebih nikmat dari ini?" Tanya Renata
Frans mendekat dan kini duduk di hadapan Renata, sama seperti Renata Frans juga menyilangkan kaki dan tangannya, "hahaha." Tawa Frans lalu mengambil botol wine dan menuangkannya ke gelas
"Sepertinya sekarang kau tidak takut lagi tapi itu melegakan karna semua wanitaku tidak lemah. Aku sudah menyiapkan acara pernikahan besok kau hanya perlu siapkan dirimu saja." Ujarnya
"Bagaimana dengan temanku?"
"Tenanglah aku sudah mengundang mereka semua melalui ponselmu." Frans memberikan ponselnya pada Renata.
Di bukannya ponsel tersebut dan Renata cukup terkejut karna beberapa panggilan dan pesan tidak terjawab. Di bukanya salah satu pesan itu.
From: Adelia
Ren beneran kau akan menikah dengan Frans Alvarado laki-laki yang menyandang raja uang, saham dan wine di florida. OMG Ren tidak aku sangka kau akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik tapi bagaiman dengan Juan.
Sama sepeti pesan lainnya, mereka memberi selamat dan menyumpat tidak percaya. Hanya satu pesan yang berbeda yang sudah lama ingin Renata lihat bahkan panggilan yang selalu di tunggu-tunggu Renata setiap waktu, tidak ada kabar selama dua tahun terakhir dan kini dia menghubunginya karna sebuah berita akan pernikahan itu.
11 panggilan tidak terjawab dari Juan, bahkan sampai 11 dia menelfon dan 5 pesan itu sebuah ke ajaiban. Jemarinya enggan untuk membuka pesan tersebut tapi hatinya ingin sekali melihat pesan itu.
From Juan
Jumat, 12 mei.12 Am
Ren apa benar kau akan menikah?
Jumat, 12mei. 07:00 pm
Ren sorry baru kali ini aku menghubungimu karna jadwalku sangat sibuk di Itali.
Jumat, 12mei. 07:30 pm
Ren apa kau marah denganku sehingga kau tidak memberitahuku atas pernikahanmu itu? Aku menunggu balasanmu Ren
Minggu, 14mei. 09:00 am
Ren telefon aku jika kau membaca pesan ini atapu jika kau tidak marah denganku.
Senin, 15mei. 10:00 pm
Ren temui aku saat kau akan ke Itali dan jelaskan semuanya dan sorry aku tidak bisa datang ke pernikahanmu nanti sebagai sahabtmu aku sunggu minta maaf.
"Siapa Juan? Tadinya aku ingin membaca pesan itu tapi itu akan percuma saja."
"Bukan siapa-siapa."
Frans tidak curiga maupun bertanya lebih banyak lagi tentang Juan, siapun dia tidak akan menjadi ancaman dalam hubungannya dengan Renata karna baginya Renata sudah menjadi miliknya dan tidak adan seorangpun yang bisa ikut campur.
"Nanti Sanne akan membawamu ke gedung pernikahan besok serta dia akan menyiapkan segalanya nanti." Ujarnya lalu Frans pergi meninggalkan Renata.
Maaf sebelumnya karna telat buat up?
Jangan bosen" ya buat baca sama jangan lupa vote sama comennya.
Terimakasih juga buat eonni yang setia mengingatkan untuk selali up..