07

1678 Kata

Bak! Buk! Ana terus meronta dan mencoba melawan, sedangkan Jino tidak mau berhenti dan menyerah. Padahal Ana sudah memukulinya sampai mencakar. "Jino! Stop!" teriak Ana frustasi, kemudian ia mendorong Jino sekuat tenaga agar menjauh darinya. Posisi keduanya telah duduk. Jino bukannya menjauh, dia meraih kedua pipi Ana, menangkupnya kemudian mendekatkan wajah mereka, dengan menyisakan sedikit jarak. "Liat, bibir lo berdarah." Ucap Jino sembari mengusap sudut bibir Ana dengan ibu jarinya. Ana hanya diam sembari menatap Jino. Wajahnya memerah dan seluruh tubuhnya bergetar karena tadi melawan Jino, ditambah dengan emosinya yang membuncah. Bibir bawah Ana tak lama bergetar, dan dalam hitungan detik, tangisan Ana akhirnya pecah juga. Bukan tangisan karena sakit fisik, melainkan karena peras

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN