Chapter 3 : Monster in Your Head

1434 Kata
Matilda tiba-tiba saja tersenyum dalam tidurnya, dengan perlahan ia membuka matanya dan bergumam tanpa arti beserta senyuman yang masih terukir di wajahnya. Ia meregangkan tubuhnya, lantas bangkit meloncat dari ranjang dan berputar, menari-nari dengan melodi yang keluar dari mulutnya. Satu menit berlalu, kaki-kaki yang menari menuntunnya ke hadapan sebuah jendela. Ia ingat bagaimana perawat Jane membuka sebuah jendela, dengan tubuh yang masih menari ia berusaha mempraktekan apa yang Jane lakukan untuk membuka jendela tersebut. Tariannya berhenti setelah sepuluh menit, dan ia mengumpat—tak bisa membuka engsel jendela yang rumit baginya. Matilda mendesah lalu mengambil sebuah hairdyer dan memukul-mukulnya pada engsel jendela dengan sekuat tenaga. Akhirnya engselnya patah dengan paku-paku yang berhamburan, pun hairdyernya yang ikut rusak. Matilda menyembunyikan hairdyernya sebelum kembali focus terhadap jendela yang kini telah mampu ia buka dengan sekali dorongan. Matilda mulai mengedarkan pandangan, mencari seseorang yang ia rasa tak cukup berdaya untuk berpikir bahwa ia mengelabuinya. “Hei kau!!” teriak Matilda, merujuk pada seorang pria yang tengah mendorong sebuah kursi roda yang kosong. Awalnya pria itu tak menoleh ke arahnya sama sekali, sehingga seorang laki-laki dewasa yang memakai pakaian seorang pasien menghentikan tariannya untuk menepuk pundak si perawat agar memperhatikan Matilda yang berada di jendelanya. Matilda menghela napas saat pria itu akhirnya memberikan atensi kepadanya, dengan kedua tangan Matilda memintanya untuk mendekat. Tidak ada yang tidak mengetahui seorang Matilda, begitupun perawat itu. Ia segera berlari mendekati Matilda dan meninggalkan kursi rodanya di tengah sebuah taman. “Sialan, telingamu tidak memiliki lubang?!” tanya Matilda dengan sarkastis, namun si pria hanya terdiam tak memperdulikan ucapan tak sopan terhadapnya sebab ia mengetahui bahwa orang di hadapannya adalah seorang pasien, apalagi ketika mengingat orang yang berada di hadapannya ini merupakan seorang Matilda—primadona rumah sakit jiwa. Ish, Matilda benci mengingat orang-orang memanggilnya demikian. “Apa nona membutuhkan sesuatu?” tanya pria tersebut. “Siapa namamu?” “Darren,” singkat pria itu, masih sedikit bingung dan sedikit lainnya tampak terpesona karena mampu melihat Matilda dalam jarak sedekat itu. Sungguh ia kini percaya omongan orang-orang yang pada awalnya hanya ia kira bualan semata. Matilda—sempurna, ralat tiada yang sempurna. Ia hanya..indah. “Masuklah ke dalam, aku membutuhkan bantuanmu,” tutur Matilda. “Perawatmu?” tanya Darren, salah tingkah hanya mampu menjawab sekenanya saja. “Aku sudah memanggilnya, tapi ia tidak datang juga. Mungkin kau bisa lewat sini karena ruanganku dikunci olehnya.” Darren tampak menimbang-nimbang, ia sudah berpikir apa jadinya jika ada yang menuduhnya hal yang tidak-tidak? namun tatapan memelas Matilda sungguh membuatnya tak kuasa. Ia pun masuk melalui jendela ruangan Matilda, Matilda yang membantunya mendorong jendela agar tidak menghambat Darren masuk. “Apa yang bisa dibantu?” tanya Darren, lagi. “Tolong bukakan sleting bajuku,” ucap Matilda, ia segera membalikkan tubuhnya memunggungi Darren seraya menarik rambut coklatnya ke samping pundak. Darren terbelalak, ia meneguk salivanya dengan kasar. Permintaan macam apa ini? Matilda sungguh gila, bukannya ia biasa melucuti pakaiannya sendiri jika sedang kambuh? “Apa kau tahu cara membuka seleting baju?” pertanyaan Matilda membuyarkan pikiran Darren. “A—aku rasa ini bukan tugasku,” tutur Darren. “Kau perawat bukan? kau harus mengurus pasienmu.” “Tapi aku punya pasienku sendiri,” tukas Darren, merasa keadaan semakin menyudutkannya. “Aku juga pasien!!!” bentak Matilda. “Mungkin aku bisa keluar dan mencari perawat Jane untuk membantumu melepas pakaianmu,” balas Darren, ia berbalik hendak keluar melalui jendela kembali namun tangan Matilda menahan pergelangan tangannya. “Tidak, aku hanya memintamu untuk membuka seleting saja, setelah itu kau boleh pergi.” Darren terdiam sejemang, lantas menatap tangan Matilda yang masih melingkari pergelangan tangannya. Pikirannya masih melanglang buana, ia ingat semalam mimpi menumpang buang air besar di rumah kawannya dan kawannya bilang itu mimpi yang akan mendatangkan sial. Apa ini sialnya? “Baiklah,” Matilda kembali pada posisinya, dengan tangan bergetar Darren mencoba membuka seleting di punggung Matilda yang panjangnya hingga sebatas pinggang wanita itu. Disitu Darren mampu melihat punggung Matilda yang mulus, saking gugupnya ia dengan cepat berbalik hendak berlari dari sana, Matilda mengejarnya dan meraih kain seragam perawat yang dikenakan Darren tepat di pundaknya. Sebab terlalu panik, kali ini Darren tambah sial sebab pakaiannya menyangkut di engsel jendela, ditambah tarikan Matilda akhirnya ia harus merelakan pakaiannya robek. *** Pandangan Matilda terlihat kosong, ia duduk memeluk kedua lututnya seraya mengadah ke arah ventilasi favoritnya. Beberapa menit kemudian ruangannya terbuka, Mr.Michael tiba dengan diekori oleh perawat Jane, Mary, dan juga si pria malang Darren. Mr.Michael berdehem sebelum mengganggu aktivitas Matilda yang mulai diketahui semua orang bahwa ia tidak suka diganggu ketika sedang memperhatikan sebuah ventilasi. “Nona Matilda, bisakah kita bicara?” tanya Mr.Michael dengan sangat pelan dan sopan, Jane dan Mary bergidig melihat bagaimana orang gila mampu membuat atasannya yang apatis itu bertransformasi dari harimau menjadi seekor kucing. Sepuluh detik berlalu, Jane dan Mary dalam hati menertawai Mr.Michael yang bahkan tak berkutik hanya menunggu Matilda menjawabnya. Mr.Michael menegakan tubuhnya ketika tanpa sadar kekehan Mary keluar karena tak sanggup melihat suasana canggung di hadapannya. “Emm..ini mengenai kejadian kemarin, aku bisa memecatnya jika kau menginginkannya, nona,” sambung Mr.Michael, tak kuasa melihat harga dirinya semakin dilecehkan oleh kedua anak buahnya di belakang. “Biarkan ia bekerja,” ucap Matilda tanpa menoleh ke arah mereka. “Tapi dia—“ “Aku ingin dia menjadi perawatku,” ucapnya mutlak, membuat semua orang yang berada di belakangnya membelalakan mata mereka serempak. “Kau sudah memiliki perawat Jane, nona. Kau memerlukan perawat wanita untuk ke kamar mandi.” Mr.Michael berusaha menolaknya. “Aku bisa memintanya datang jika kuingin bukan?” “Tapi—“ “Apa uang dari orang membiayaiku itu kurang untuk membayar dua orang perawat untukku?!” kali ini bentakan Matilda membuat Mr.Michael tak bergeming. “Keluar!! dan tinggalkan Darren bersamaku,” Mr.Michael bergegas memberi isyarat pada Jane dan Mary untuk keluar. “Seperti yang dikatakannya barusan, mulai saat ini kau adalah—“ “Michael!!” panggilan Matilda menghentikan ucapan Mr.Michael, ia segera tahu apa yang diinginkan oleh Matilda. Dengan raut wajah kesal Mr.Michael segera pergi dari sana, baru kali ini selama hidupnya di tempat bekerja ia dipanggil tanpa embel-embel apapun dan sialnya ia tak berkutik saat wanita gila ini yang mengatakannya. Disisi lain Darren hanya mematung di tempat, tak tahu apa yang harus ia lakukan, ini kali pertamanya harus merawat pasien wanita belum lagi skandal yang terjadi kemarin membuatnya sangat berhati-hati sebelum melakukan apapun. “Mendekatlah,” titah Matilda. Darren tentu tidak bisa menolak, ia berjalan perlahan dan berhenti tepat di hadapan Matilda yang tengah terduduk di samping ranjangnya. "Peluk aku,” Darren mengumpat, wanita ini benar-benar ingin melecehkannya atau bagaimana? Darren pun segera menggeleng, ia harus bersikap tegas sebagai seorang pria yang hendak direndahkan oleh wanita gila. “Apa yang kau inginkan, nona?” tanya Darren, membuat Matilda kini mendongak menatap tajam ke arah mata Darren. “KUBILANG, PELUK AKU!” Darren tak bergeming kendati mendapat bentakan dari seorang Matilda, ia merasa benar-benar dipermainkan saat ini. Matilda sendiri tak mau kalah, ia menarik tangan Darren untuk memeluknya dengan paksa namun, PLAKK… Sebuah tamparan melayang ke pipi mulus Matilda. “BERANI SEKALI KAU MENAMPARKAU!!” kali ini Matilda melayangkan sebuah bantal ke wajah Darren, pun guling beserta selimut yang datang menyusul. Darren berhasil menepis semuanya kecuali ketika ia melihat Matilda menarik sebuah kipas angin untuk dilemparnya ke wajah Darren. GEPP… Darren memeluknya, membuat kipas angin tersebut terjatuh dan Matilda mematung di tempat. Sepuluh detik berlalu, hingga semuanya kembali menjadi sergah amarah. Kali ini bukan hanya badannya yang berontak, namun mulutnya ikut mencaci maki. Melihat reaksi itu membuat Darren segera mengeluarkan suntikan sebelum wanita itu semakin menggila. Matilda melemas, Darren dengan sigap menagkap tubuhnya sebelum terjatuh dan memindahkannya kembali ke ranjang. Sudut mata Matilda berair, ia masih dalam keadaan sadar kendati tubuhnya benar-benar lemas efek dari obat yang Darren suntikan. “Aku menemukan potongan memori yang kucari saat kau menyentuhku,” ucap Matilda dengan lemas, kali ini Darren memahami alasan Matilda ingin memeluknya. “Aku tidak paham dengan kondisi ini,” lanjut Matilda, membuat Darren terpaku dan duduk di samping ranjang untuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Matilda. “Pikiranku bereaksi refleks untuk memerintah tangan dan kakiku membanting barang, dan aku tidak bisa mengontrolnya. Semuanya tampak menyebalkan,” tutur Matilda, Darren sendiri hanya mengangguk-anggukan kepalanya bingung harus mengatakan apa. “Kau tahu apa yang ada di otakku? berantakan dan berisik sekali di dalam sana,” tanya Matilda sungguh-sungguh, namun manik matanya benar-benar tidak fokus saat ini. “Mungkin ada sebuah monster yang hidup dan menguasainya," ucap Darren tanpa sadar. “Apakah kau bisa mengeluarkannya?" “Kurasa kita bisa sama-sama menghentikan kebiasaan brutalnya terlebih dahulu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN