Sinar rembulan menerobos menerangi pahatan indah yang Tuhan cipta pada sosok Matilda yang kini tengah terlelap diatas ranjangnya. Rambut coklatnya tergerai bebas, aroma tubuh layaknya para putri bangsawan terkemuka, ditunjang dengan gaun satin bermerk terkenal yang ia kenakan bahkan ketika ia sedang sibuk dalam dunia mimpinya. Dalam keadaan seperti ini lancang sekali apabila ada yang mengatakannya gangguan jiwa-namun sayangnya benar demikian.
Darren berada tepat di samping ranjangnya, memperhatikan Matilda hanya dengan bantuan sinar rembulan. Matilda sempat mengamuk sebelum pergi tidur barusan, menurut perawat Jane ada jam tertentu yang membuat Matilda kembali hilang kendali. Matilda akan bereaksi bahkan dalam tidurnya apabila jam telah menunjukan pukul sepuluh malam dan lima dini hari dengan gelisah hingga kejang-kejang. Itu sebabnya perawat harus setia mununggu Matilda di jam-jam tersebut.
Pun perawat Jane mengatakan bahwa Matilda tidak suka diganggu ketika sedang memandangi ventilasi, membenci kaktus, jijik terhadap seutas tali, menakuti dengungan yang keluar dari sebuah mesin, serta menjauhi benda-benda runcing seperti pisau dan gunting. Darren sudah mulai menghapalnya sejak tadi siang, ia harap ia tidak melakukan kesalahan sedikitpun jika ingin tetap bekerja disana.
Sudut mata Matilda meneteskan air mata dengan tiba-tiba, sehingga tanpa sengaja Darren memperhatikannya. Ia mengingat ucapan Matilda sore tadi, apa hanya dirinya yang merasa bahwa Matilda masih bisa diselamatkan? Matilda masih bisa diajak bicara kendati banyak berita buruk di luar sana yang mengatakan bahwa Matilda tak ubahnya dengan binatang buas. Mungkin hanya ia yang masih menganggap Matilda tidak seliar itu, namun tidak pula ada yang percaya sebab lebih dulu mengetahui fakta bahwa Mr.Michael saja sangat takut dan tunduk terhadap Matilda.
Darren tetap berada di sana hingga tanpa sadar jam telah menunjukan pukul lima dini hari dan reaksi pada tubuh Matilda benar-benar membuktikan bahwa apa yang dikatakan Jane benar prihal jam-jam tertentu yang mengharuskan seorang perawat berada di samping Matilda pada saat itu.
Tubuh Matilda bergerak ke kanan dan ke kiri, semakin lama semakin menjadi, rambutnya berantakan, pun kasur serta selimut yang membalut tubuhnya kini jatuh ke lantai. Kedua tangannya mencengkram kuat seprai, ketika dengan tenang Darren menyuntikan obat penenang, tangan Matilda sempat berpindah mencengkram tangan Darren diikuti jeritannya yang tiba-tiba. Itu sering terjadi-orang-orang disana sudah tidak bertanya-tanya siapa yang akan berteriak setiap pukul lima pagi.
Tubuh Matilda seketika melemas, ia kembali tertidur pulas sedang Darren merapikan segala kekacauan. Merawat Matilda membuat ia lupa merawat dirinya sendiri, ia bahkan tidak tidur semalaman hanya untuk memastikan tidak ada reaksi mendadak pada pasiennya ini. Mungkin ia harus menyarankan untuk membagi shift untuk perawat Matilda, gila saja ini sangat menguras tenaga dan pikiran.
Darren mematung, masih mengatur napas yang kewalahan sembari mengacak pinggang. Untuk kesekian kalinya Matilda meneteskan air mata dalam tidurnya, membuat Darren bertanya-tanya apa yang dimimpikannya, dan trauma apa yang ia alami sehingga dalam tidur sekalipun ia terlihat begitu gelisah dan kesakitan.
***
(Kepingan memori kecil Matilda)
Ada sebuah dongeng tentang seorang puteri yang dikurung di sebuah kastil besar dan menghabiskan masa remaja layaknya seorang tawanan. Tidak, wanita itu tidak tinggal bersama ibu tiri atau penyihir macam Rapunzel-ia tinggal bersama kedua orang tua yang begitu menyayanginya.
Wanita itu adalah diriku..
Aku tidak pernah diperlakukan tidak layak, atau dilarang melakukan segala keinginanku kecuali keluar dari rumah tersebut. Aku diberi pelajaran di rumah, layaknya siswa-siswi di sekolah hingga perguruan tinggi. Pun diberi pelajaran moral, bagaimana seharusnya aku memandang dunia, dan bagaimana seharusnya aku bertindak di hadapan orang banyak. Hingga usia dua belas aku nyaman dengan segala perlakuan orang tuaku. Mereka sering membawa satu truk buku baru untuk mengisi ulang perpustakaanku dan mendonasikan beberapa rak buku yang telah habis k****a selama dua belas tahun kepada perpustakaan-perpustakaan kecil yang ada.
Kedua orang tuaku juga memberiku kebebasan dalam menggunakan teknologi. Jadi aku masih bisa mendapatkan teman. Salah satunya adalah Shopia dari Paris-yang awalnya juga tak lepas dari pengawasan kedua orang tuaku. Butuh setidaknya satu tahun untuk membuat mereka mempercayai orang-orang yang dekat denganku.
Aku mendapatkan banyak pelajaran baru dari Shopia, salah satunya terhadap lawan jenis dan sebuah kata 'cinta'. Shopia selalu mengenalkan teman prianya padaku apabila ayah dan ibuku tidak ada melalui panggilan video. Ia bilang jatuh cinta itu menyenangkan, menyalurkan getaran yang tak mampu dipahami-dan itu membuatku penasaran.
Shopia merekomendasikanku beberapa buku-buku romansa agar aku mampu memahami bagaimana rasanya jatuh cinta yang selama ini tak pernah aku rasakan dan tak pernah kudengar bagaimana rasanya. Aku membacanya secara diam-diam setiap malam melalui internet, dan sungguh aku merasa membacanya mampu meningkatkan moodku.
Aku ingin sekali merasakannya, satu waktu saat aku dan ibuku tengah memandangi ayah yang sedang bermain golf bersama paman di pagi hari. Kukatakan aku ingin tahu pendapat ibu mengenai jatuh cinta, dan jawabannya sungguh membuatku tercengang. "Itu hal yang memabukan sekaligus mampu membuatmu menjadi sangat bodoh."
"Mengapa ibu mengatakan demikian?" tanyaku, memandangi sorot matanya yang tak lepas memandangi ayah dari kejauhan. "Kau akan terpedaya, masuk dalam permainan, dan seperti yang ibu dan ayah katakan. Tidak semua yang terlihat baik benar baiknya," kali ini aku yang terdiam, aku memiliki pandangan yang berbeda dari ibu dan Shopia.
"Suatu saat kau akan merasakannya sayang. Asal kau tahu, ibu tidak melarangmu jatuh cinta atau membaca novel romansa yang sering kau lakukan tengah malam. Tapi dua belas tahun bukan saatnya, dan ibu mungkin akan memastikanmu mencintai orang yang tepat. Sampai waktunya tiba ibu harap kau tetap berada di rumah."
Ucapan ibu benar-benar membuatku mematung untuk beberapa saat, aku merasakan kebebasan kali ini. Kurasa tak ada salahnya jika ibu yang akan mengenalkanku pada pria baik pilihannya. Aku akan dengan tulus hati memberikan perasaanku kepada orang yang ibu yakini pria itu tepat untukku--dan aku tak sabar untuk jatuh cinta.
"Kali ini, boleh kutahu mengapa aku tidak pernah diperbolehkan keluar, ibu?" ibu menyesap teh manisnya di atas meja bulat di hadapan kami berdua, lantas terdiam beberapa saat untuk merangkai setiap jawaban dari pertanyaanku. Ia tahu persis ketika kita sedang bersama maka ia harus siap dengan sekurangnya sepuluh pertanyaan berbeda yang selalu ingin kuketahui tentang kehidupan yang tak kudapatkan diluar.
"Aku selalu merasa khawatir dan menangis setiap malam ketika memikirkan bagaimana putriku akan menganggapku terlalu mengekangnya. Aku hanya takut akan ada orang yang menyakitimu, bahkan ketika mereka hanya memandangimu membuatku takut mereka merencanakan hal yang mengerikan untukmu. Maafkan ibu, karena terlalu mengkhawatirkan itu dan membuatmu merasa terkurung disini."
***
Matilda membuka mata, ia tidak menemukan siapapun di ruangannya. Ia beranjak dari tidurnya dan termenung beberapa saat hingga kedua tangannya kembali bergerak tak terkontrol. Ia menarik bantal yang berada disampingnya lantas mengoyaknya hingga keluar kapas-kapas yang berterbangan. Kali ini diiringi dengan hentakan kedua kaki dan gigi yang mengerat hingga terdengar sesekali decitan pada area rahangnya.
Burung-burung berterbangan, terik mentari, gaduh orang-orang sinting yang bermain di luar membuat kepala Matilda semakin pening dan semuanya tampak menyebalkan. Matilda menjerit sekuat tenaga dan mengobrak-abrik ranjangnya. "RAPUNZEL, CINTA, JANJI MANIS, ROBOT GILA, KURUNGAN, KESENGSARAAN!!!" teriak Matilda seiring dengan pukulan bantal tak utuhnya pada ranjang, ruangannya dipenuhi kapas-kapas putih yang mengapung. Belum puas disana, Matilda berusaha melucuti pakaian tidurnya lagi.
Tiba-tiba suara jatuhan piring terdengar, Matilda tidak bergeming kendati kerasnya suara itu cukup nyaring. Pakaiannya sudah terangkat hingga sebatas pinggang, memperlihatkan celana dalam merah muda yang mungkin saja akan menjadi tontonan orang-orang sakit jiwa yang kini mengintip pada celah jendela-jika saja Darren tidak cepat-cepat mendekapnya dari belakang.
"LEPASKAN AKU!!! TOLONGG!!! AKU TIDAK ENAK, SUNGGUH!! AKU AKAN MENCARI KELINCI JIKA KAU MAU MELEPASKANKU, AKU BERJAN-" racauan Matilda berhenti, tepat setelah obat penenang masuk ke tubuhnya melalui suntikan yang Darren berikan.
Darren segera membenahi pakaian Matilda, menggendongnya keatas ranjang yang dipenuhi kapas-kapas putih sebelum beranjak mengusir orang-orang sakit jiwa yang menontoni Matilda dari jendela.
"Ya Tuhan, James? kau juga?" Darren kaget ketika mendapati kawan perawatnya berada diantara orang-orang sakit yang mengintip. James sendiri tampak menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sama sekali.
"Nanti kita bicara! sekarang bawa orang-orang ini pergi karena tontonan gratis bagi orang-orang b******n sudah berakhir!!" tutup Darren. Ia segera menarik gordeng menyudahi sesuatu yang tak semestinya ditontoni orang-orang.
Darren baru saja hendak mengambil sapu untuk membersihkan ruangan Matilda yang dipenuhi kapas-kapas bantal yang berserakan, namun ia segera menoleh ketika menyadari pintu ruangan Matilda terbuka. "OH MY GOD!" jerit seorang wanita tambun di ambang pintu. Entah apa arti dari jeritannya, kaget karena melihat Darren atau semua kekacauan di ruangan Matilda.
Darren membungkuk sopan, tak berbicara sepatah katapun selain bergegas membersihkan makanan dalam nampan yang terjatuh saat panik melihat Matilda kembali bereaksi. Ia tahu wanita tambun itu bertugas untuk mengurus tubuh Matilda, jadi ia akan pamit dengan nampannya terlebih dahulu.
"Boy, kau tidak akan membersihkan ini semua?" tanya wanita itu seraya menunjuk kapas-kapas yang berceceran di lantai.
"Aku akan kembali setelah anda selesai," ucap Darren.
"Ohh tampan sekali.."
"Ya?" tanya Darren bingung karena tiba-tiba saja wanita itu bergumam sembari memandangi wajahnya tanpa berkedip.
"Maksudku, kau boleh membersihkannya selagi aku ada disini," jawab wanita itu sembari menyelipkan helaian rambut blonde pada daun telinganya.
"Aku tidak mungkin melihatmu mengganti pakaiannya bukan?" tanya Darren seraya memperhatikan sebuah gaun dalam sarung yang wanita itu tenteng sedari tadi.
"Ohh benar juga. Kau pria yang baik, kami akan memanggilmu untuk membersihkannya nanti." Tanpa menjawab Darren hanya menganggukan kepalanya dan berlalu dari sana.
Wanita itu ditinggalkan hanya berdua dengan Matilda di dalam sana. Tanpa ragu kedua tangannya dengan terampil membuka pakaian Matilda dan menggantinya dengan long dress berwana kuning lembut yang terdapat sebuah renda di bagian d**a yang mengeliling ke belakang. Baginya kuning dan warna-warna lembut melambangkan diri Matilda sesungguhnya yang tak mampu orang lain lihat.
Terdiam sejemang, ia merasa lagi-lagi tak perlu memberikan polesan make up berlebihan pada wajah Matilda yang sebenarnya sudah sangat cantik dengan atau tanpa sentuhan tangan magicnya dalam merias.
Baru saja ia menata helaian rambut Matilda ke belakang agar tak ada sehelai pun yang menghalangi wajah Matilda saat akan ia berikan polesan make up tipisnya, kini Matilda sudah membuka matanya dengan perlahan, "Madam Bettie, pria itu membawa memori-memoriku kembali. Hari ini aku mengingat tentang ibuku."