08.30
Stanford University, California
Saat mereka sampai, Jade menahan Nick untuk turun sebentar.
“Apa kau punya waktu nanti? Aku akan mengajakmu ke suatu tempat,”tanya Jade
“Baiklah, tidak akan ada penolakan jika itu dari dirimu,” balas Nick melempar senyuman.
Jade memarkirkan mobilnya, tak lupa ia memoleskan lipglow di bibirnya yang kering sebelum pergi ke kelasnya.
Jade memasuki gedung kampus dan kali ini dia terlihat berbeda. Ia terlihat agak sedikit tersenyum dan tidak sedingin biasanya. Ia menggerai satu rambutnya yang hampir mustahil ia lakukan ,karena selama ini dia selalu melepas bebas rambutnya
Sebelum Jade masuk ke ruangan pribadinya untuk mengambil materi pelajaran , seseorang datang dan mencengkram tangannya.
"Kamu ikut papa!"pintah seorang pria yang terlihat lebih tua darinya.
"Untuk apa sih ,Pa?" tanya Jade kesal.
"Ikut!" Pria itu menarik paksa Jade.
Pria itu membawanya keatas , ke lantai 18 gedung Stanford yang hanya dapat diakses dengan kartu pribadi. Jika tanpa akses kartu, mereka tidak bisa keluar ataupun masuk disembarang waktu.
"Apa apaan ini?" tanya Gilbert -- ayah Jade.Gilbert melemparkan foto Jade yang sedang berada di klub, disentuh oleh seorang pria dan bahkan dibawa ke ruangan pribadi.
"Apa sekarang kau menjadi p*****r? Apa kau butuh uang hingga kau harus menjadi pemuas?" tanya Gilbert dengan nada suara yang tinggi sekaligus menatap tajam putrinya.
"Aku tidak menjadi p*****r. Aku kesana karena aku stress. Aku tidak disentuh oleh pria manapun, pria yang disana adalah pria yang mengajakku berkenalan. Dan mengenai kamar pribadi, dia adalah mahasiswa disini. Dia pemilik klub itu," jelas Jade , kini ia telah meneteskan airmatanya , rasa sesak mengarungi dirinya dan menguasai dirinya kembali. Ia merasa kerapuhan dirinya kembali menyerang.
"Wow! Menarik! Seorang mahasiswa memiliki klub? Aku tidak percaya itu. Berani sekali kau berbohong padaku. Kebohongan yang tidak masuk akal," ujar Gilbert memasang wajah tidak percayanya dan menampar Jade cukup keras.
"Aku tidak berbohong, Dad. Klub itu memang milik mahasiswaku! Dia membawaku keruangannya karena melihatku mabuk berat," ujar Jade berusaha meyakinkan.
"Baiklah. Kenalkan mahasiswa itu padaku. Aku ingin melihatnya! Hari ini dia datangkan? Pertemukan dia denganku ,SEKARANG!" pintah Gilbert dengan nada suara tinggi.
Kemudian, Gilbert menggapai ponselnya dan menghubungi manajemen sekolah.
"Siapkan satu dosen pengganti Jade Avizi tidak akan masuk mengajar hari ini," ujar Gilbert .
"Baik tuan," balas manajernya sopan.
Gilbert memberi akses keluar ruangan kepada Jade agar Jade bisa memanggil mahasiswanya itu. Gilbert sangat ingin menemui mahasiswa Jade yang memiliki klub terkenal itu.
Jade keluar dari lift dan segera masuk keruangan kelas, memanggil Nick. Nick mendekat pada Jade dan menyuruhnya untuk ikut sebentar.
Jade kemudian menutup kembali pintunya .
"Ayahku ingin berbicara padamu. Ia tidak percaya aku datang ke klub milikmu dan berada diruanganmu,"ujar Jade selama perjalanannya kembali ke ruangan pimpinan.
Sesampainya didepan ruangan pimpinan, Nick berusaha meyakinkian dosennya itu untuk tidak khawatir.
"Tenang saja, semua akan baik-baik saja," ujar Nick sesantai mungkin.
Nick membuka pintu ruangan itu dan mendapati bahwa Gilbert ada disana, Gilbert adalah orang yang selama ini dia cari dan sekilas ia lihat kemarin.
Gilbert dan Nick mematung untuk beberapa saat dan keheningan mengalir diantara mereka.