Kalla turun dari taksi lalu bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Perasaannya tidak karuan. Tatapannya menggambarkan kekacauan hatinya saat ini. Wajahnya putih pucat. Napasnya tersengal-sengal. Telapak tangannya dingin. Gugup sekali rasanya menghadapi malam ini. Ditengah semua kecemasannya, langkah kaki Kalla tetap berjalan dengan cepat. Ingin segera melihat wajah Gibran. “Tunggu, Kal!” Tangan Aksa menarik tangan Kalla untuk menghentikan Kalla berjalan. Kalla terkejut. Jantungnya berdegup lebih cepat. Kalla tak berpikir jika yang menarik tangannya itu adalah Aksa. “Aksa?” Kalla heran mengapa Aksa sudah berada di rumah sakit bersama Kalla. Namun, Kalla sedang tidak ingin mempedulikan itu. Kalla hanya ingin melihat bagaimana kondisi Gibran saat ini. Meski sudah dilukai hatinya sebagai kekas

