Gea mendatangi rumah sakit yang merawat Kakaknya. Perasaannya hancur, tak tahu apa yang bisa lakukan saat ini. Rasanya tak ingin hidup di hari ini karena ia terlalu takut kehilangan Gibran. Gea menangis di perjalanan menuju ke UGD. Gea memikirkan hal terburuk. Gea tak pernah membayangkan akan ada di posisi sekarang. Setiap hari, ia hanya ingin kakaknya berada di dekatnya. Perhatian juga kasih sayang kakaknya selalu menyelimuti hari Gea. Itu saja yang selalu ada dalam pikiran Gea setiap hari. Tapi kali ini, sulit sekali untuk diterima. Gea ingin marah dengan keadaan. Namun, bagaimana caranya? Ia ingin menerima, tetapi hatinya tak rela. “Kak Gibran harus baik-baik aja demi Gea,” ujar Gea sembari terus mengeluarkan air mata sebelum sampai ke ruang UGD. Dari kejauhan, Natasha sudah melihat G

