“Tunggu!” Gea menahan langkah kaki Natasha ketika hendak menghampiri orang yang akan mendonorkan darah untuk Gibran. Gea seolah ingat sesuatu, lalu, mengehentikan Natasha secepat mungkin. Gea menatap Natasha penuh dengan pertanyaan. Namun, bibirnya belum sanggup untuk menyalurkan apa yang tengah menjadi buah dalam pikirannya. “Ada apa lagi, Ge?” Natasha heran karena banyak sekali yang Gea khawatirkan, tetapi, Gea seperti tidak memikirkan kondisi Gibran saat ini. “Ayo, kita harus bergerak cepat untuk Gibran.” Natasha menggandeng tangan Gea lagi, tapi, Gea berhasil melepas gandengan tangan Natasha, lalu memilih diam tak bergerak. “Aku nggak mau terima bantuan dari dia, kak! Dia yang udah bikin Kak Gibran kayak gini. Aku nggak akan membiarkan dia berhubungan lagi dengan Kak Gibran. Dia udah

