Meira masih setia menemani Aksa setelah perkelahiannya dengan Gibran. Masih ada emosi yang tertinggal juga kemarahan yang tersisa. Namun, Aksa tak mampu mengungkapkan kekecewaannya kepada Kalla. Aksa tidak ingin membuat Kalla semakin terpuruk. Sekarang yang ingin Aksa lakukan hanyalah memahami Kalla, mengerti keadaannya. “Gue nggak paham gimana cara pikir Kalla. Udah tau dia disakitin berkali-kali, masih aja tuh dia bucin sama si Ketua BEM ga jelas!” Meira mengungkapkan unek-uneknya. “Gimana kalau dia semakin terluka, bahkan badannya bertambah lagi yang bermasalah? Apa Kalla nggak berpikir sampai ke sana?” Meira terus ngomel-ngomel. Padahal Kalla tidak ada di sana. Meira tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. Semua yang Kalla alami secara tidak langsung adalah karena Gibran. Tetapi, Ka

