Aksa meminggirkan Kalla dari jalan raya. Mencoba menenangkan Kalla sebisa Aksa. Kalla masih belum bisa tenang, karena dipikirannya tadi, Kalla tidak kan terselamatkan. Mungkin, jika Aksa telat 1 detik saja untuk menolong, kini Kalla sudah terbaring lemas tak berdaya entah bagaimana kondisinya. “Kamu tenang ya, Kal!” Aksa mengusap punggung tangan kiri Kalla. Lalu mencari minuman di mobilnya. Setelah Kalla minum seteguk air, Aksa membopong Kalla masuk ke dalam mobilnya. Aksa menyuruh Kalla untuk berada di dalam mobilnya saja. “Kamu di sini dulu ya sebentar,” Aksa pamit sejenak dari hadapan Kalla. Pintu mobil Aksa tutup. Namun, jendela masih terbuka agar ada udara segar yang masuk ke dalam. Aksa berjalan penuh emosi ke arah Gea dan Gibran. Tangannya sudah mulai mengepal. Semua emosinya ada

