Panggilan sidang kedua sudah dilayangkan pengadilan. Kali ini, Roni datang sendiri. Begitu juga dengan Seira. Mereka sama-sama tidak memakai pengacara. Dalam sidang kali ini, Roni tidak banyak bicara sehingga proses lebih cepat. Setelah itu, sidang ketiga pun digelar pula dan pengadilan memutuskan kami resmi bercerai. Seira gemetar mendengar keputusan pengadilan tersebut. Sekuat hati dia menahan agar air mata tidak mengalir. Bayangan-banyang masa lalu tiba-tiba saja muncul. Roni yang lembut dan senyumnya yang mampu melelehkan hati. Selama bersama, mereka jarang bertengkar. Meski keluarganya sering mempertanyakan anak, tetap saja Roni bisa mengatasinya dan pernikahan tetap baik-baik saja. Seira berjalan dengan langkah gontai keluar dari siang persidangan. Sebuah panggilan menyadarkan la

