Aku ingin melihatnya lagi. Tapi ... tidak. Tahan Seira. Jangan lakukan itu. Kutarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya kuat. "Kenapa tarikan napasmu berat gitu?" tanya pria itu tiba-tiba. Membuat kaget saja. "Tidak." Hanya itu yang bisa keluar dari bibir ini. "Apa yang kau pikirkan, Seira?" "Tidak ada." "Oh iya, kapan panggilan sidang pertama kasusmu perceraianmu?" Astaga, bisa-bisanya aku lupa soal gugatan itu. Untung Mister X menanyakannya. Aku meningalkan pria itu, memeriksa paket kemarin. Mungkin saja isinya surat panggilan sidang. Kubuka isinya dan benar. Besok sidang pertama. Semoga saja Mas Roni tidak hadir agar prosesnya semakin cepat. Aku kembali lagi ke kafe. Mister X masih duduk di dekat mejaku. "Kau dari mana?" tanyanya. "Memeriksa paket surat dua hari yang lalu

