Tidak ada yang memulai percakapan. Sepanjang jalan pulang, kami hanya diam. Hingga sampai, tanpa sepatah kata, aku keluar dari mobil dan melangkah masuk. Pria itu menarik tanganku. "Apa kau marah? Apa salahku? tanyanya. Aku memejamkan mata sambil menarik napas lalu mengembuskannya. "Kau memang tidak pernah salah," ujarku penuh penekanan dan kembali melangkah tapi pria itu mengikut sampai ke kamar. "Apa lagi?" tanyaku. "Aku butuh penjelasan kenapa kau marah?" "Apa kau peduli alasan kemarahanku?" Pria itu terdiam. Aku meninggalkannya, masuk ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, aku keluar. Ternyata dia tidak ada lagi di kamar. Dasar pria tak peka. Aku merebahkan diri di kasur. Bayangan Mister X berpelukan terus saja bermain di ingatan. Lebih baik pergi ke kafe saja. Berdi

