Dari kasih yang tak salah Demi segenggam renjana Aku pasrah Melihat mata air memuncratkan isinya Karenaku Mengertilah Mengerti *** "Hanya air mata ibu yang membuat aku tak berdaya. Di saat semesta menjadikan aku alasan ibu menangis." *** "Tadi setelah subuh, Ibu menerima telepon dari rumah sakit." Susi menuangkan air teh di dalam teko ke cangkir Jihan. Beberapa insan sedang duduk jua di sana. Amar, Yusuf, dan Hanan. Sedangkan Salsa dan Wafa sibuk membantu Ibu. Dari sorot mata yang Susi ajak bicara, sepertinya tengah kosong. Memandang gelasnya dengan hambar. Bahkan seperti tak sampai jua apa yang dikatakan Susi untuknya. "Nak." Susi menyentuh pelan pundak Jihan. "Eh, a-apa, Bu?" Pertanyaannya yang demikian membuat Susi menyunggingkan segaris senyum tipis. Mafhum terhadap si

