Narendra mengempaskan tubuh ke sofa ruang tamu dengan kasar. Bunyi per yang tertekan di bawah beban tubuh seolah menyuarakan rasa frustrasi yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Pria itu menjambak rambut sendiri, membiarkan jemarinya tenggelam di antara helai rambut yang masih lembap. "Argh! Kenapa setiap ada Geraldine aku selalu hilang kendali?" Narendra menatap ke arah pintu depan yang baru saja tertutup beberapa menit yang lalu. Tadi, Geraldine pergi dengan terburu-buru, wajah merah padam, dan langkah panik setelah mendapatkan kembali tasnya. Narendra masih ingat jelas bagaimana tatapan sayu penuh gairah Geraldine tadi mendadak berubah menjadi kilat ketegasan. Geraldine menggeleng kuat-kuat sambil merapatkan kembali kemejanya yang berantakan. "Saya tidak mau, Pak. Tolong lepaskan

