Narendra berusaha menyeimbangkan tubuh, mengatur napas yang sempat tertahan akibat hantaman keras tadi. Meski rahangnya terasa bergeser dan sudut bibirnya pecah, dia kembali memposisikan dirinya berdiri tegak, melakukan sikap sempurna di hadapan sang atasan. "Maafkan saya, Komandan," ucap Narendra dengan suara yang sedikit parau tapi tetap tegas. "Saya mengaku salah. Saya telah melanggar perintah dan tidak menjaga jarak profesional. Saya memang pantas dihukum." Handoko menatap tajam ke arah Narendra, dadanya masih naik turun menahan emosi yang meluap. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam amarahnya. "Pilihanmu cuma satu, Narendra," desisnya sambil merapikan kembali seragamnya yang sedikit berantakan. "Kamu harus menikahi anak saya." "Apa?" Narendra tertegun, matanya membelalak

