Matahari bertengger tinggi di atas cakrawala begitu terik saat Geraldine akhirnya dipaksa bangun oleh rasa pegal yang luar biasa. Dia meraba sisi ranjang di sebelahnya, tapi hanya tidak menemukan apapun. Geraldine melirik jam dinding, sekarang sudah pukul 11:00 siang. "Gila ... bisa-bisanya aku bangun jam sebelas!" gumamnya dengan suara serak. Dia mencoba bangkit, tapi sedetik kemudian dia mengerang tertahan. Rasa remuk redam itu nyata, setiap inci sendinya seolah menjerit minta ampun. Dengan susah payah, wanita muda itu menyeret tubuhnya menuju kamar mandi, berjalan tertatih-tatih mirip penguin karena rasa perih yang masih tertinggal di antara pangkal pahanya. Di bawah guyuran air shower, Geraldine memejamkan mata, ingatan yang semalam menghantamnya tanpa ampun. Dia ingat bagaimana Nar

