Wanita berpakaian serba putih itu kini memandang kedua sejoli yang sedang tertawa dari kejauhan. Bibirnya mengerat menahan emosi dalam dirinya. Tangannya mengepal keras. Tawa mereka adalah sesuatu yang menyebalkan baginya. Mukanya sudah memerah sejak tadi. Dilangkahkan kakinya dengan senyum yang dibuat seceria mungkin. Ia melambaikan tangan sembari memanggil nama kekasih tercintanya. Air mukanya dibuat setenang mungkin untuk menghadapi mereka. “Dareen!” sapanya yang kini sudah ada di hadapan pasutri itu. Tatapan Nada yang semula teduh mendadak dingin melihat wanita licik ini mendekat. Untuk apa lagi wanita berambut panjang itu mencari Dareen. Belum cukupkah dengan ikatan Nada dan Dareen membuatnya pergi dari kehidupan mereka yang mulai indah. “Bisa tinggalin kita berdua,” cibirnya mena

