Ketukan di pintu tidak hentinya berhenti karena orang yang ada di dalam tidak juga membukakan. Arelia melihat sahabatnya yang menangis dan menutup telinga seakan itu adalah hal yang memuakkan untuknya. Entah apa yang membuatnya begitu sedih. Dalam hati Nada, ia merasa dipermainkan oleh lelaki itu. Dengan langkah pasti, Arelia berniat sekadar mengusir lelaki yang sudah mengganggu ketenangan malam itu. Namun, Nada memintanya untuk menutupi gadis itu dengan selimut sebelum membuka agar tidak terlihat oleh Dareen. Akhirnya setelah menyelimuti Nada, gadis itu melangkah untuk membukakan pintu. “Arelia, mana Nada?” tanyanya panik. Lelaki itu terus menengokan kepala ke dalam mencari sosok yang dikhawatirkannya. Ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi kepada keduanya. “Eh, eh, ngapain neng

