“Nada, kamu hamil?” tanya Arelia polos. Semua yang ada di sana membelalakan menatap Arelia. Sesaat kemudian Ibu tersadar dan menepuk pelan anak gadisnya itu. Nada tertawa setelahnya kemudian menjawab, “Nggak mungkin, ini cuma masuk angin doang, kok.” Semua yang ada di sana tertawa enggan untuk memecah suasana canggung yang ada. “Udah, ayo kita lanjut makan, aku laper.” Mereka menurut dan kembali ke tempat masing-masing. Tatapan mereka kini hanya tertuju pada makanan yang ada di hadapan. Namun, tidak untuk Dareen yang terus menatap Nada dengan khawatir. Gadis itu tersadar sedang ditatap dan menoleh sebentar, lalu tersenyum. “Makan dulu, lihat wajah aku nggak bakal kenyang,” protes Nada. “Kamu nggak apa-apa? Muka kamu pucat banget, mau pulang aja,” bisik Dareen. Nada menggeleng. “Aku ng

