Sinta yang begitu sangat kesal menunggu kedatangan Bi Ijah yang tidak kunjung-kunjung datang.
“Lama sekali Bi Ijah ngapain aja sih di dapur, Bi Ijah... Bi Ijah,” Sinta yang teriak memanggil Bi Ijah.
“Ia Non ini udah siap,” sahut Bi Ijah.
Bi Ijah yang bergegas menghampiri Sinta di ruang tamu, membawakan sepiring mie goreng pesanan Sinta dan segelas jus jeruk.
Sesampainya di hadapan Sinta, yang masih duduk di sofa masih dengan rasa mual yang di rasa Sinta.
“Ada apa Non,” tanya Bi ijah.
“Bi Ijah bagaimana sih masa Sinta di kasih makan belatung dan ulat, Bi Ijah mau meracuni Sinta? Kalau ia ngomong Bi kalau memang Bibi gak suka sama Sinta,” sontak Sinta yang sangat marah tidak bisa terkontrol.
“Neng Sinta kenapa, kok tiba-tiba marah sama Bibi?” tanya Bi Ijah yang di buat binggung oleh Sinta.
“Coba Bi Ijah liat tuh di meja belatung sama ulat isi piringnya,” ucap Sinta yang menunjuk piring yang ia letakan di meja.
Saat Sinta melihat di meja tidak ada apa-apa, ia tiba-tiba langsung terdiam binggung. Makan yang tidak lazim ia makan seketika tidak ada lagi di meja itu.
Bi Ijah yang tidak melihat apa-apa di meja itu berkomentar.
“Ada apa Non, enggak ada apa-apa di meja ini,” ucap Bi Ijah yang sangat binggung.
“Ia Bi tadi makan itu Sinta taruh di meja itu, Bibi yang ngasih Sinta mie goreng pesanan Sinta kok, terus setelah Sinta makan mie goreng itu berubah menjadi belatung dan ulat,” Sinta yang menjelaskan kejadian yang dia alami.
“Ah masa sih Non, ini loh mie goreng pesanan Non baru matang,” sahut Bi Ijah tidak percaya kepada Sinta.
“Beneran Bi, Sinta nggak bohong,” Sinta yang meyakinkan Bi Ijah.
“Masa sih Non, dari tadi Bi Ijah di dapur kok,” sahut Bi ijah yang masih binggung.
“Ya udah Bi nggak usah di bahas lagi, lebih baik Bibi makan itu mie goreng Sinta, dan Sinta mau ke kamar terlebih dahulu,” perintah Sinta yang kesal.
Sinta yang kesal kepada Bi Ijah yang tidak percaya kepada dirinya pun pergi bergegas meninggalkan Bi Ijah yang berada di sana dan Sinta pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Sementara Bi Ijah yang masih binggung dengan sikap Sinta majikannya itu.
“Aneh Non Sinta, tadi minta bikinin mie goreng udah di bikinin mie goreng, eh nggak di makan malah Bibi yang nyuruh makan dan anehnya lagi di meja nggak ada apa-apa malah di bilang Bibi bawa mie terus berubah jadi belatung dan ulat,” gumam Bi Ijah yang binggung.
“Udah ah gak usah di pikirin lebih baik lebih baik Bibi makan aja nih mienya lumayan,” gumam kembali Bi Ijah sambil menikmati mie garong bikinannya sendiri.
Sementara itu Sinta yang telah sampai di kamarnya menuju tempat tidurnya mencoba mencari posisi yang pas untuk di beristirahat.
Saat Sinta mulai ingin memejamkan matanya ada bunyi-buyian suara benda di dalam kamarnya.
Sinta yang mendengar bunyi-buyian sesuatu itu berasal dari lemari bajunya membuat dirinya tidak dapat tidur karena berisik dan sangat menganggu.
“Aduh... Apa sih itu, bisa ini perbuatan tikus yang ada di lemari,” ucap Sinta yang merasa terganggu oleh suara itu.
Suara benda yang tidak jelas itu pun semakin nyaring. Akhirnya Sinta memutuskan untuk bangun dari tempat tidur menuju lemarinya.
Sinta yang turun dari tempat tidurnya menuju lemari bajunya, saat telah sampai di depan lemari bajunya Sinta dengan sangat kesal membuka pintu lemari bajunya.
Ternyata tidak ada apa-apa sama sekali, Sinta pun mencari tikus yang ia kira berada di dalam lemari bajunya.
Tangan Sinta yang masuk ke dalam lemari bajunya membuka satu persatu baju-baju yang tergantung di lemari bajunya. Saat tengah asik mencari tiba-tiba Sinta di kejutkan oleh sebuah tangan yang ia rasakan menyentuh dirinya, merasakan hal itu membuat Sinta menjadi kaget lalu membuka baju-bajunya yang tergantung di lemari menggunakan dua tangan dan memangnya, tidak ada apa-apa di sana. Sinta terdiam memikirkan apa yang terjadi kepadanya itu apakah hanya sebuah ilusi apa memang Realita.
“Siapa yang menyentuh ku tadi yah, tapi tidak mungkin, apa ini hanya halusinasiku saja, ah... Sebaiknya aku kembali ke tempat tidur dan tidur agar tidak berhalusinasi,” gumam Sinta yang menutup lemari tersebut dan ingin berbalik arah.
Namun lagi-lagi hal mengejutkan terjadi kembali kepada Sinta saat ia berbalik arah tepat di hadapannya wajah Sumarni yang penuh dengan goresan luka di sertai darah dan bau anyir tepat di hadapannya.
Sinta yang sangat kaget pun berteriak histeris.
“Aaaaaaaaaa......” teriak Sinta yang histeris sambil menutup wajahnya karena rasa takut melihat Sumarni berdiri di hadapannya.
Teriakan Sinta yang sangat nyaring terdengar sampai ke telinga Bi Ijah.
“Non Sinta,” celetuk Bi Ijah yang sedang menikmati makanan.
Bi Ijah pun langsung bergegas berdiri meninggalkan makan yang ia makan belum habis itu. Ia pergi ke kamar Sinta untuk memastikan anak majikannya itu baik-baik saja karena majikannya menitipkan Sinta kepadanya dan ini merupakan tugas dan tanggung jawab Bi Ijah.
Bi Ijah yang berjalan sangat cepat membuat waktu tidak lama untuk sampai ke kamar Sinta.
Sesampainya di depan kamar Sinta Bi Ijah membuka pintu kamar itu lalu menyalakan lampu kamar yang memang tadi di matikan oleh Sinta.
Saat lampu kamar Sinta menyala terlihat Sinta yang sedang terduduk di lantai menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Melihat hal tersebut Bi Ijah menghampiri dan mendekati Sinta.
“Non...Non Sinta ini Bibi Ijah Non Sinta kenapa?” tanya Bi Ijah yang memegang pundak Sinta.
Mendengar suara yang tidak asing itu, Sinta membuka wajahnya yang ia tutupi oleh kedua telapak tangannya. Saat ia sudah membukanya terlihat Bi Ijah di hadapannya.
Sinta pun langsung memeluk Bi Ijah dan menangis di pelukannya.
Bi Ijah yang juga mempunyai anak di kampung memiliki naluri ke ibuan yang kuat ia mencoba menenangkan Sinta.
“Non Sinta kenapa, cerita sini sama Bibi” tutur Bi Ijah yang mencoba menenangkan Sinta.
Sinta yang masih menangis di pelukan Bi Ijah mencoba untuk menjelaskan peristiwa yang baru saja ia alami.
“Sinta melihat setan Bi, wajahnya sangat menyeramkan Sinta takut Bi,” ucap Sinta menjelaskan peristiwa itu.
“Nggak ada setan di sini Non Sinta ini Bi Ijah coba liat di kamar Non tidak ada apa-apa kan,” sahut Bi Ijah meyakinkan Sinta bahwa tidak ada apa-apa
Sinta yang mendengar ucapan Bi Ijah melihat keadaan sekitar kamarnya dan ternyata tidak ada apa-apa.
“Bi Ijah, “ ucap Sinta.
“Ada apa Non? Nah tidak ada apa-apa kan,” sahut Bi Ijah.
“Bi Ijah malam ini tidur sama Sinta yah?” Permintaan Sinta kepada Bi Ijah.
“Ya udah kalau Non Sinta minta di temani sama Bibi malam ini Bibi temani,” cakap Bi Ijah.
“Terima kasih yah Bi, maaf tadi Sinta marah-marah sama Bibi, Sinta merasakan hal aneh di malam ini,” permintaan maaf dari Sinta kepada Bi Ijah.
“Ia Non Sinta nggak apa-apa, sebaiknya kita tidur saya, lagi pula Non Sinta besokkan sekolah,” ajakan Bi Ijah kepada Sinta.
“Baik Bi,” ujar Sinta.
Bi Ijah pun menerima permintaan Sinta untuk menemaninya tidur bersamanya, dan akhirnya mereka berdua pun tidur di malam yang sangat mencekamkan itu.