*** Valeria melantur, Sastra panik. Tidak mendapat jawaban untuk pertanyaan yang dia lontarkan, tentang alasan sang kekasih ingin membatalkan pernikahan, perasaannya tidak menentu. Sampai di rumah sakit selang beberapa menit setelah Valeria menyudahi telepon secara sepihak, dia bergegas menuju ruangan tempat kekasihnya itu melakukan cuci darah. Melangkah cepat, pikiran Sastra dipenuhi berbagai jenis praduga, hingga ketika hampir tiba di tempat tujuan, kehadiran seseorang di sebuah bangku menarik perhatiannya. Menunda niat untuk menemui Valeria, kaki Sastra berubah haluan. Berjalan menghampiri orang di bangku yang tidak lain adalah Asta, sebuah pertanyaan sinis dilontarkannya—membuat mantan suami Valeria itu mengangkat pandangan. “Kamu ngapain ada di sini?” Tidak lagi fokus pada ponsel,

