Telepon dari Ibu

839 Kata
Tama POV Kring....kring....kring.... ah...siapa yang telpon sih ... ganggu orang tidur saja... gerutuku dalam hati. masih dengan mata tertutup ku meraba-raba mencari letak Handphone yang dari tadi berdering. setelah berhasil meraihnya, ku buka perlahan mataku. "Halo..." dengan suara khas orang bangun tidur. " Assalamualaikum anak ibu... suaranya kok kayak suara orang baru bangun dari tidur" tanya ibu "Waalaikumussalam... Iya Bu.... Putra tadi ketiduran. ibu lagi apa?" " Lagi ngobrol sama Bapak sama mba mu" "Ngobrol apa ngerumpi Bu?" candaku "Ngerumpiin Kamu" balas ibu " Ha...ada apa dengan Putra Bu? "ini loh nak...tadi siang kan ibu ke Rumah Sakit ngantar makan siang bapak, terus ibu ketemu Intan. Dia nanyain kabar kamu nak..." aku terdiam... "Dia nanyain kabar kamu nak... Selama kamu di Gorontalo tak pernah sekalipun kau menelepon Intan?" Aku terdiam, mencari jawaban yang pas " Hehe.. nelpon ibu aja aku baru bisa kemarin setelah 3 Bulan bu... kan tempat tugasku ga ada jaringan selulernya..." alasanku. "jadi selama tiga bulan ini kamu juga memutuskan kontak dengan Intan? Astagha Putra... nda kangen apa sama calon istrinya?" timpal ibu. Ibu ga tau aja aku sama Intan sudah setahun pisah. "hehe...biasa aja Bu" mungkin ini saatnya aku ngomong Soal hubunganku dengan intan. "ibu... ada yang mau aku omongin... Tapi ibu jangan marah yah...." pintaku "lah... mau ngomongin apa nak...ngomong aja. marah tidaknya ibu tergantung omangan kamu" aku menarik nafas panjang.... "emmm... ini Bu... Aku..." " Aku sama Intan sudah tidak ada hubungan lagi. Kami sudah putus" "Apa....?" kudengar suara bapak, ibu dan Mba kaget berbarengan "Jangan bercanda Putra.... ibu ga suka candaan kamu" " Putra serius Bu... Putra sudah putus sama Intan" "Apa alasannya? dan sejak kapan kalian putus? atau jangan - jangan di Gorontalo kau selingkuh? ini penyebab 3 bulan kau tidak ada kabar? hah? ibu ga rela kau putus sama Intan, ibu terlanjur sayang sama intan, dia menantu ideal menurut ibu sama bapak, iya kan pak?" cecar ibu... Ningrum yang sudah terbangun sejak percakapan pertamaku dengan ibu diam dan ikut mendengarkan percakapan kami. dia tertunduk. dia berusaha melepaskan dekapanku. mungkin dia kecewa dengan pernyataan ibu... ku tahan lengannya yang hendak turun dari ranjang. kutatap matanya dan ku gelengkan kepala. ku isyaratkan dia untuk tetap duduk dan dengarkan pembicaraanku dengan keluargaku. aku tak ingin dia salah paham. "Putra... ibu butuh penjelasan mu" "Emmmm...Kami sudah putus sejak setahun yang lalu. Setelah kepulangan ku dari Bandung menjenguk Mba yang sakit lalu" aku terdiam menunggu tanggapan dari ibu. "Lah...kenapa kamu nda perna cerita ke kita?apa alasannya? apa sudah tidak bisa diperbaiki lagi? kan sayang ibu harus melepaskan Intan" ungkap ibu. "Dia selingkuh dengan Bagas Bu" jawabku kecewa "hah...? jangan bercanda Putra... ibu tau kalian berdua saling mencintai, ga mungkin dia selingkuh apalagi dengan sahabatmu sendiri" kilah ibu. "Putra ga bercanda Bu.... Mereka berdua selingkuh. sepungnya putra dari Bandung, putra memergoki mereka berdua sedang bercinta di apartemen yang Putra belikan untuk Intan" "Jadi...ini alasan kamu meninggalkan rumah sakit, meninggalkan ibu, bapak dan mba mu?" "salah satu alasannya itu sih Bu ... tapi itu bukan alasan utama putra ke Gorontalo. Alasan utamanya, Putra ingin betul-betul.mengabdi mulai dari bawah. Ingin tau bagaimana kondisi daerah terpencil. Selama ini hidup putra serba berkecukupan. Putra ingin hidup di tengah-tengah orang yang tidak kenal bapak. Putra hanya ingin memulai karir dari Nol" "ow...anakku... ibu ikut sedih atas apa yang menimpamu nak..." kata ibu mulai terisak. "ssttt....jangan menangis Bu...ibu tenang aja... Putra sudah move on Bu..." "benar kamu sudah tidak sedih lagi?" "hehehe... benar Bu... Putra bahagia sekarang. putra sudah mendapatkan tambatan hati baru di sini Bu. sekarang Putra sudah me..." Ningrum membekap mulutku dengan telapak tangannya, dia menggeleng dan memohon seakan belum setuju aku mengumumkan pernikahan kami. aku mengangguk menyetujuinya. "wwiiidiiiih...yang sudah move on. kapan-kapan kenalin ibu sama yang udah buat anak ibu Move on dari Intan. terus... orangnya seperti apa? baik tidak? setia tidak?bagaimana bibit bobot bebet nya?" ibu mulai ceria "Insya Allah dia cantik. yang pastinya dia masuk kriteria menantu ibu" aku tersenyum sambil mengusap wajah Ningrum. kriuk...kruuukkk...kruukkk.... aku terbahak mendengar suara dari dalam perut Ning yang minta untuk di isi. "Hahaha. .. ibu udah dulu ya ngerumpinya ... Perut putra dah berontak pengen di isi" Ningrum memanyunkan bibirnya protes. " jam segini kamu belum makan nak?" "iya Bu...kan tadi aku ketiduran terus diajak ngerumpi sama ibu sampe lupa waktu" alasanku. " kalo gitu...udahan dulu ya... Assalamu Alaikum nak..." "Waalaikumussalam Bu" ku letakkan kembali hp ke tempat semula. sementara tanganku tetap pada posisi mendekap Ningrum. "Lapar?" dijawab dengan anggukan. " ntar yah... mas pesankan makan malam" "kita ga keluar cari makan mas?" "kita makan di kamar saja ya sayang...biar ga cape kamunya" "aku ga cape kok mas..." "aku ingin tetap dalam posisi ini" "Ck...mas ini... mesumnya ga habis-habis" kukecup hidungnya "kan kamu yang ngajarin aku m***m sayang..." "kamu mau makan apa? ntar... kayaknya di nakas ada menu restorannya. ambilin dong sayang..." Ningrum menggapai nakas yang ada di sampingnya. "nih..." "kamu suka gulai kambing dan sate kambing?" "suka..." sambil mengangguk "okay... kita pesan itu saja ya..." setelah memesan menu makan malam, kembali kami saling berpelukan tanpa kata, tenggelam dalam pikiran masing-masing
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN