Dan adegan sensorpun berlangsung. keduanya saling mengeksplor hasrat yang semakin membara dengan masih teguh pada janji yang sudah di ucapkan bersama. adegan yang hanya sekedar icip-icip menurut mereka tapi cukup memberikan kepuasan lahir batin dari keduanya.. dan membuat kedekatan di antara mereka semakin terjalin.
dengan tanpa sehelai benangpun, mereka berdua masih berada dalam satu selimut, menikmati hangat tubuh pasangannya.
"terima kasih sayang... kau membuatku hidup kembali setelah sekian lama" ungkap Tama sambil membelai Surai indah Ningrum.
"terima kasih juga mas... terima kasih untuk tidak kasar dan menuntut. terima kasih karena sudah main cantik?" sela Ningrum sambil cengengesan...
"hahaha...kamu ini bisa aja... untuk saat ini aku masih bisa puas dengan icip-icip. tidak untuk lain kali" canda Tama sambil memencet hidung istrinya.
"ihhh...dasar mesum..." pukul manja Ningrum di d**a Tama.
"mesumin istri sendiri kan nda masalah. HALAL..."
Tama meraih tisue yang ada di dekatnya dan membersihkan daerah intim istrinya dari hasil percintaan mereka. setelahnya dia melangkah dengan santai ke kamar mandi dengan tubuh polosnya belum sampai di kamar mandi Ningrum melemparkan bantal ke arah Tama sambil berteriak.
"ihhhh....mas... dasar dokter mesum....handuknya di pakai lagi dong..."
"hahaha...biar kau terbiasa melihat tubuh telanjangku sayang..." Tama balik menghampiri Ningrum.
seakan tau maksud m***m suaminya, dia menenggelamkan wajahnya di balik bantal yang tidak jadi delempar ke arah suaminya.
Tama semakin mendekat, dan mengacak-ngacak rambut istrinya. lalu dia berbalik kembali ke kamar mandi.
Senyum Tama tak pernah lepas dari bibirnya. dia begitu menikmati semi percintaan mereka berdua. ya... semi percintaan. walaupun belum bercinta yang sebenar-benar bercinta tapi Ningrum sudah bisa memberikan kepuasan yang lebih dari cukup untuk meredam gairah Tama. Tama bertekad untuk sesegera mungkin menemui orang tua Ningrum.
mengunjungi orang tua Ningrum adalah langkah awal untuk meraih restu dari kedua orang tua. setelah mengantong restu dari mamanya Ningrum, mungkin selanjutnya Tama akan memperkenalkan Ningrum kepada ibu bapaknya. dan selanjutnya mereka akan memikirkan bersama apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Tama menyudahi kegiatan mandinya yang ke dua kali dalam selang waktu 2 jam.
Dengan menggunakan handuk d**a bidang Tama terpahat jelas. perlahan dia mendekati istrinya ... istrinya ternyata mulai masuk di dalam alam mimpi.
perlahan Tama mengelus rambutnya, mendaratkan kecupan di kepala istrinya...
"istriku...sana gih...bersihkan dulu tubuhnya biar ga lengket ya...
sambil bibirnya manyun mengarah kebagian bawah tubuhku. akupun tersipu malu. "mau sendiri...atau ku gendong hmmm?"
"ha... eh... aku bisa sendiri mas..." baru mau melangkah, aku tersadar, ternyata kondisiku saat ini dalam keadaan polos. kuraih selimut yang hampir kusisihkan, dan kuberjalan dengan ditutupi selimut tebal.
entah sengaja atau tidak tiba-tiba dia menarik selimut, hingga kepolosanku terpampang jelas. mataku melebar ke arahnya yang cengar cengir.
"tak usah ditutupi. toh aku sudah melihat bahkan menikmati setiap jengkalnya" ?✌️???
kuberusah terus menarik selimut yang ditahan oleh mas putra. tapi usahaku gagal. karena kesal. kulepaskan saja selimut itu. dan kumelangkah masuk tergesa-gesa ke kamar mandi
setelah bersih dari sisa - sisa percintaan ?. percintaan yang aman menurut kami berdua.
kamipun tidur sambil berpelukan. lengannya dijadikan bantalanku. dan tubuhku di jadikan gulingnya. kami pun terlelap sambil berpelukan. ternyata senyaman dan setenang ini tidur dalam dekapan yang halal. aku berharap semoga langkah ini adalah langkah yang tepat untuk meraih surga-Nya Allah.
aku bersyukur Mas Tama masih bisa mengontrol nafsu syahwatnya. dari kejadian ini aku bisa sedikit menarik kesimpulan bahwa Mas Tama akan jadi suami yang sabar