-Author POV
17.00
pasangan pengantin baru itu masih saling berpelukan erat diam tanpa bicara. setelah 5 menit Tama membuka suara tapi masih dalam posisi Tama memeluk Ningrum dari belakang, tangannya dilingkarkan ke pinggang dan bertautan dengan tangannya Ningrum.sementara kepalanya di letakkan di bahu istrinya, sambil terus mengendus-endus aroma tubuh Ninrum.
"sayang...." panggil Tama "hmmmm..."hanya di balas deheman oleh Ningrum.
"Kamu menggairahkan..." sambil menempelkan tubuhnya lebih dekat lagi dan mengerak-gerakkan bokongnya, sehingga Ningrum merasakan sesuatu yang menonjol dan semakin menonjol di belakangnya
Ningrum kaget...
"Kau bisa merasakannya kan...?" desah Tama Ning hanya mengangguk, mukanya semakin merah.
"Mas...kita belum dapat restu dari orang tua masing-masing. Aku bukannya tidak mau melayanimu, tapi kita butuh restu dari mereka. Lagian Buku nikahnya kita belum keluar" kata Ningrum sambil tertunduk
Hffff... Tama tau kemana arah pbicaraan Ningrum. "hahhh...aku kecewa..." Tama cemberut.
Ningrum membalikkan tubuhnya, dibingkainya wajah suaminya dengan kedua tangannya.
"Mas...sabar ya...kita belum pernah meminta restu dari kedua orang tua kita. Gimana jadinya jika kita sudah melakukannya dan ibu atau mama tidak memberikan restu pada kita? Bagaimana kalau mereka memisahkan kita?aku takut langkah yang kita ambil ini salah Di mata orang tua dan akhirnya mereka ingin kita pisah" Ningrum tertunduk sambil terisak...
Gantian Tama yang meraih wajah Ningrum dengan ke dua tangannya, dihapusnya air mata yang mulai jatuh dari wajah Ning. "sssttt...jangan menangis. aku tak suka lihat kau menangis" kata Tama sambil terus menatap mata indah istrinya. "aku akan menunggu sampai ada restu dari orang tua, dan kamu siap sepenuhnya. kita pelan-pelan saja saling mengenal dan memahami" tanpa suara Ning mengangguk tanda setuju.
"tapi....bisa kan icip-icip sedikit. icip-icip menu pembukanya dulu... menu utama dan menu penutupnya nanti saat restu sudah di genggaman" senyum devil Tama keluar ? "mas...apaan sih...emangnya menu makan malam...?" sanggah Ning manja sambil memukul lembut bahu suaminya.
"hehe....boleh ya icip-icip?yaaa....ya...." Tama memelas...
"ih...mas bagaimana kalau keterusan...?" masih mode manja, yang bikin Tama semakin gemes.
"Mas janji...NDA bakal kebablasan sayang... mau ya..." masih dengan mode memohon...
"Janji ya...NDA sampai nyoblos?" jawab Ning sambil mimiknya di galak-galakin.
"Janji...janji...mas janji...bagian ini masih tersegel sampai saat yang tepat tidak dengan yang lain" kata Tama sambil menepuk-nepuk bagian v****a Ning, yang membuat Ningrum terkejut " mas....apain sih...."
di rengkuhnya wajah istrinya dilumatnya bibir indah itu secara perlahan namun terkesan menuntut. perlahan tangan yang mendekap wajah istrinya berpindah ke tengkuk, sebelah tangannya lagi mendekap pinggang istrinya. dijelajahinya setiap lekuk tubuh istrinya, dengan bibir yang saling bertautan mengeluarkan segala hasrat yang sedari tadi tertahan. keduanya saling membelit sampai kehabisan pasokan oksigen.
Ningrum menggumam "mas..." bibir yang terpaut pun terlepas. "kenapa?tak suka?" ketus Tama " Bukan..
bukan begitu... ini...ini... di luar mas...aku malu jangan sampai ada yang ngintip" sanggah Ningrum.
Tanpa kata ...dilumatnya lagi bibir istrinya selanjut Tama gendong tubuh mungil istrinya, sehingga membuat Ning berteriak kaget, dan secara alamiah langsung menautakan ke dua tangannya keleher Tama.
Mereka measuki kamar, dengan posisi bibir yang masih saling mencecap dan berbalik lagi dan dengan kontak mata Tama menyuruh intan menutup pintu balkon dan tirainya.
Tama menurunkan Ning di dekat ranjang...dibukanya jilbab Ning secara perlahan. di cecapnya setiap sudut wajah istrinya matanya...hidungnya...bibirnya dan perlahan merambah ke bagian leher... desahan pun tak terelakkan...perlahan tangan Tama menjalar ke semua bagian tubuh istrinya, dan berhenti dibelahan d**a yang sejak Ningrum di kamar mandi pengen diremasnya. dan ini kesempatannya. tangannya perlahan mengelus buah d**a istrinya, kemudian diremasnya sehingga membuat Ningrum mendesah.
"Ah...mas...Ahhh..." Tama sejenak berhenti
"Sakit?" Ningrum hanya menggelengkan kepalanya. dan Tama kembali melanjutkan aksinya. di pilin-pilinnya p****g s**u istrinya sambil mulutnya pun ikut bergerilya di leher jenjang istrinya. Tama berhenti sejenak untuk meloloskan pakaian yang di gunakan istrinya. dan...daster yang Ningrum gunakan pun terlempar entah kemana.
Mata mereka yang sama-sama penuh gairah bertemu, Tama mendorong pelan tubuh Ningrum , dan merangkak di atas tubuh istrinya.
dia memulai kembali kegiatan melumat istrinya. perlahan tapi pasti Ningrum mulai bisa mengimbangi permainan bibir suaminya. Puas dengan bibir istrinya, Tama merambat ke leher, di endusnya bagian leher istrinya yang aromanya sangat memabukkan Tama, dihisapnya leher jenjang itu sehingga meninggalkan bekas kemerahan. kecuapan-kecupan Tama merambat sampai ke pangkal paha.
Tama berhenti sejenak dan memandang bukit kecil yang tertutupi oleh Gstring merah menyala. dikecupnya bukit indah itu. dan perlahan diraihnya gstring istrinya. sempat Ningrum menahan tangan Tama dan menggelengkan kepalanya.
"mas janji...NDA akan sampe nyoblos sayang..."
pinta Tama memelas. Ningrumpun melepaskan genggamannya, karena diapun begitu mendamba sentuhan Tama.
Sekarang Ningrum Polos tanpa sehelai benangpun. Tama mengusap lembut bukit kecil di tengah selangkangannya Ningrum, perlahan jari tengahnya menyelusup ke dalam liang v****a milik Ningrum. Ningrum mengerang nikmat.
Jarinya memainkan tonjolan seperti biji kacang. membuat Ningrum semakin menggelinjang dan menggapai-gapai kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya.
Tama senang melihat wajah Ningrum yang tertutup oleh gairah. terlihat seksi. kemudian dia melepaskan tangan yang bergerilya di area s**********n Ningrum.
Tanpa menunggu lama, Tama menundukkan wajahnya dibalik s**********n Ningrum. dihirupnya aroma yang keluar dari v****a istrinya. perlahan Tama memainkan lidahnya di s**********n istrinya. membuat Ningrum kaget dan memajukan badannya untuk melihat apa yang diperbuat suaminya.
"Ah...mas..apa yang kau lakukan mas ...."
"mas...ah...ah...jangan...." racau Ningrum tak jelas.... Tama semakin memacu lidahnya untuk memuaskan Ningrum, dia menghisap, mengelus dan menggigit lembut setiap bagian bawah tubuh istrinya.
"Mas...aku mau pipis...."
"keluarkan saja sayang....keluarkan..." Tama semakin mempercepat kocokan tangan dan lidahnya di liang senggama Ningrum.
Tiba tiba Ningrum mengejang, mengeras, dia menekan kepala Tama Untuk lebih masuk ke dalam Vaginanya...
"ah...mas...aku pipisss...." dan akhirnya terkulai lemas.
Tama kembali merangkak dan mendekati istrinya. dibelainya rambut istrinya lalu dikecup.
"cape ya sayang...."tanya Tama sambil terus mengelus wajah istrinya.
Ningrum hanya mengangguk malu.
"Suka?" pertanyaan Tama hanya dijawab dengan pukulan manja.
Tama menahan tangan Ningrum dan membimbingnya ke bagian bawah tubuh Tama yang masih tertutup Handuk.
"dia juga butuh sentuhanmu sayang...dia butuh belaian mu" sedari kamu di kamar mandi dia sudah bangun" ragu-ragu Ning mengelus pusaka Tama dari balik Handuk.
Tama mengerang...
"ah...istriku..." di bimbingnya tangan istrinya masuk ke dalam sela-sela handuk. perlahan istrinya mengelus lembut b***************n milik Tama.
"yah...yaaa...sayang...uh....ah....Ningrum...iya seperti itu...." tak tahan dia melahap kembali bibir istrinya.
dan Ningrum perlahan mulai mengocok b***************n Tama. perlahan Tama mendorong Waja Ningrum untuk mendekat ke s**********n Tama. seperti paham, ningpun mulai mendekat dan mainkan lidahnya di ujung kepala kecilnyanya Tama. dia mengulum mengocok dengan sangat lihai..."
"Ah...sayang....".
"Ahhhh....ahh...." tubuhnya menggelinjang sambil memeluk istrina dan cairan putih pun keluar meluber ke mana-mana