Tama POV
Tersenyum aku melihat Ningrum istriku yang tergesa-gesa menuju arah kamar mandi? yah...dia Istriku...
Tak menyangka setelah tenggelam dalam duka penghianatan yang dilakukan oleh sahabat dan calon istriku, aku kembali bisa tersenyum setelah 3 bulan mengenalnya. Lamunanku terhenti saat tiba² mataku mengarah ke bagian kamar mandi.
Mataku melebar, jantungku berdegup kencang, aliran darahku terasa saling kejar mengejar, Ah Ningrum Kau membuat hidupku kacau.
Tanpa Ning sadari, dari dinding kamar mandi yg tidak transparan itu, tapi siluet tubuhnya sangat terarsir jelas diamataku hingga membuat sesuatu yang tertidur bisa bangkit saking terkejutnya. bagaimana dia melepaskan bajunya, lenggokan tubuhnya menuju shower, ketika air dari shower membasahi tubuhnya, bagaimana dia menyabuni tubuhnya, kunikmati setiap detik demi detik dengan tanpa berkedip. Ingin ku terobos pintu kamar mandi itu sekedar untuk menenggelamkan hasratku yang semakin muncul ke permukaan.
Ini pertama kalinya setelah sekian lama naluri lelakiku memberontak. Dulu pernah sering Intan bermaksud menggodaku dengan selalu menumpang mandi di kamar pribadiku, dan kadang dia keluar dengan
bathrobe yang bagian dadanya sengaja dilonggarkan, dan rambutnya di lilit ke atas dengan handuk. tak munafik, aku sering tergoda dengan bentuk tubuh Intan yang sintal, tapi kewarasanku, cintaku dan keinginan untuk menjaga kesucian cinta kami lebih besar dari pada nafshu sahwatku. ya...kadang sih sempat sampai terseret pusaran gairah, tapi tidak sampai membobol keperawanan Intan. dan mungkin karena itulah dia lebih memilih melepaskan hasratnya kepada Sahabat terbaikku. Seandainya saja dia bisa bersabar saja paling tidak sebulan, pasti kami sudah hidup bahagia. karena ku tahu, kami berdua memang sangat saling mencintai.
Ah...aku tak menyesali takdirku dan takdir intan yang tak bisa bersama. kalau aku tak mendapati perselingkuhan mereka, mungkin aku tak akan jauh-jauh ke Gorontalo dan meninggalkan Rumah sakit yang harus segera ku kelola, dan mungkin saja aku tak berjodoh dengan Ningrum, sang Gadis manis berjilbab yang sederhana tapi menyimpan keanggunan dan keseksian yang terselubung. dan setelah menjadikan dia istriku dalam sekejap aku menjadi seperti tergila-gila padanya. Perasaan ingin memiliki jiwa dan raganya semakin dalam.
Lamunanku tentang masa lalu dan tatapunku dari dinding kamar mandi dirusak oleh bunyi pintu kamar mandi yang terbuka, yang menandakan sang empunya kemolekan telah selesai dengan ritual mandinya.
kusunggingkan senyum yang lebar dan menggoda ke arah Ning.
"Mas mau mandi?
"iya...aku mandi dulu ya..." sambil melangkah melewatinya dan kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang sangat membius. kejahilankupun muncul. aku tak menutup tirai kamar mandi biar diapun merasakan sesak yang aku rasakan.
Ku biarkan dulu dia dengan aktivitas ganti bajunya, setelah ku intip dia duduk menyandarkan setengah badannya ke dipan, dan kakinya selonjoron santai di atas ranjang, bisa kupastikan posisinya berada tepat di lokasiku telanj***g bulat ? akupun memulai aksiku seperti apa yang dia lakukan.
NINGRUM POV
Setelah mas Putra... iya mas Putra lebih tepatnya suamiku ? melangkah ke kamar mandi, akupun membongkar tas pakaian yang sempat kami bawa dari Rumah dinas, aku seperti biasa membawa daster panjang yang biasa kupakai menjelang tidur. ku berfifkir mungkin hari ini suamiku mau istirahat dulu. selesai dengan ritualku, kulangkahkan kakiku ke ranjang kingsize hotel, ku sandarkan setengan badanku ke arah dipan, sambil kakiku selonjoran di kasur, kuraih telepon genggam ku, berfikir sudah saatnya menelepon ibu. terakhir ku telepon Minggu lalu sebelum aku pulang ke Biluhu. saat asik membuka telepon genggam ku, tiba-tiba pandanganku terganggu dengan sesuatu, seperti ada yang bergerak di depanku. mataku terbelalak, kututup mulutku...harusnya ku tutup mata...ini malah tutup mulut, mata dibuka lebar. saraf-saraf tubuh pada kaku, pengen lari keluar kamar, tapi mata, hati, dan otak seakan tidak ada kerja samanya. Otakku memerintahkan untuk keluar dari kamar ini, tapi hatiku dan mataku seakan menahan otak dan kaki untuk berlari keluar kamar? mataku ternoda. walaupun aku bidan, ini pertama kalinya aku melihat pria yang telanjang bulat walaupun masih seperti terarsir tapi mampu mengguncangkan sisi lain dari diriku. serasa panas dan seperti ada yang menjalar merayap diseluruh sendiku. aku terdiam dan menikmati setiap adegan yang muncul di depanku. tubuh tegap yang telanjang suamiku begitu seksi, bokongnya kelihatan penuh, ah...membuat bagian sensitivku lembab. Astaga...belum disentuh saja aku sudah terangsang.
otakku mengumpulkan segala serpihan akal sehat yang tercecer, dan segera kulangkahkan kakiku ke arah balkon kamar. tak lupa sebelumnya aku menarik jilbab bergo yang sudah kusiapkan dari tadi. sebelum dia keluar dari kamar mandi aku harus sudah berada di balkon. sudah cukup lebih dari 10 menit aku menikmati pemandangan indah di depanku. ah...dasar istri m***m. aku tersenyum-senyum sambil mempercepat langkahku ke balkon. Pengen sih...berlama-lama menikmati lekukan tubuh suamiku yang atletis. tapi aku tak mau malu ah...
tak berapa lama kurasakan ada sosok yang mendekapku dari belakang. Ah...ternyata suamiku.
"kenapa termenung di sini?"
"eh...mas...eh anu...aku pengen menikmati udara sore di sini" kataku sambil berusaha menolak pelukannya, karena aku masih merasa risih dan malu atas penglihatanku tadi.
"yang...biarkanlah dulu seperti ini...aku ingin merasakan gimana rasanya memeluk wanita yang halal itu" desahnya pelan. akupun tak protes lagi.