Menjelang sore mereka tiba di salah satu restoran besar di pusat kota Gorontalo yang sebelumnya sudah direservasi langsung oleh kepala Puskesmas.
Saat Kepala Puskesmas mau melakukan pembayaran, dokter Tama meminta dia saja yang membayar, dan teman-teman yang lain bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya.
"dokter mau kembali lagi ke puskesmas atau masih mau jalan-jalan dulu di kota?" tanya bidan Fina kepada Dokter Tama.
sambil tersenyum Tama menjawab " saya sama Ningrum di sini dulu ya k... sambil mencari kebutuhan untuk keperluan bertapa lagi. mumpung lagi di kota?"
"ehm....sekalian bulan madu juga ya...."celoteh yang lainnya.
"hahaha...kalau Ningrum sudah bersedia bulan madu, saya sih siap-siap aja k" jawab dokter Tama sambil nyengir dan menatap Ningrum. Tama melihat wajahnya Ningrum memerah seperti kepiting rebus "Apaan sih dok..."timpal Ningrum.
"mulai sekarang panggilannya harus di rubah Ning...jangan panggil dokter lagi. panggil sayang ke, Abi atau apalah..." kata bidan Vina. dan Ningrumpun makin merona. 'hmmm...asik juga ngerjain Ningrum, aku suka lihat wajahnya tersipu malu seperti itu' batin Tama.
"okey...kami pamit pulang dulu...atau kalian berdua mau sekalian kami antarkan ke tujuannya?" tawar Bidan Vina
"saya sudah pesan Go-Jek ntar lagi dia menjemput" timpal Tama kepada teman-temannya yang akan bertolak kembali ke Biluhu.
"Okey...kalo gitu kami pamit duluan ya..."
"Iya...hati-hati dijalan" timpal keduanya berbarengan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Setelah kepergian rekan-rekan mereka berdua, tinggallah Tama dan Ningrum di meja tadi. sejenak mereka terdiam, dengan fikiran masing-masing
"setelah ini ada tempat yang ingin kau datangi Ning?" tanya Tama "eh..emm...anu...ga ada dok. saya teserah dokter saja" sambung Ningrum.
"ok, kita langsung istirahat saja ya...."kata Tama
"istirahat di mana?"tanya Ningrum melongo.
"hehe...yang jelas bukan di sini dong Ning...? kita tunggu jemputan dulu yah..."timpal Tama.
Ningrum mengerucutkan bibirnya
Tak lama handphone Tama berdering "ok...kita keluar sekarang"
sebuah mobil Rolls Royce Hitam terparkir di depan pintu Restoran, dan ketika mereka berdua tiba di depan pintu, orang yang berdiri di depan pintu mobil hitam tersebut, membukakan pintu belakang, dan mempersilahkan dokter Tama untuk masuk ke mobil.
Ningrum terdiam sesaat "ini mobil siapa yang dipinjam dokter Tama?"gumam Ningrum dalam hati.
Tama memberi instruksi dengan gerakan tubuhnya untuk menyuruh Ningrum masuk ke mobil. setelah mereka duduk berdua, mobil langsung keluar dari restoran.
"wah...mobilnya mewah dok. di Gorontalo ada Taxi online yang pake mobil mewah ya..."celetuk Ning karena tidak kuasa menahan rasa kagum.
Dokter Tama hanya bisa tersenyum dan tetap diam menanggapi celotehan Ning.
sekitar 20 menit, mereka memasuki sebuah hotel. "kita ngapain ke sini?" tanya Ningrum
"numpang mandi"balas Tama singkat
"ha?mandi di hotel ?" "iya sayang....Yuk, turun..."timpal Tama.
Mereka pun turun menuju pintu masuk Hotel tanpa sadar mereka berjalan berpegangan tangan entah siapa duluan yang mengenggam.tiba-tiba aja tangan mereka saling bertaut.
orang yang tadi menyupiri mereka, berjalan lebih cepat dari Kami, membuka pintu lift dan mengarahlan keycard ke arah Papan lift
POV Ningrum
Kami melangkah keluar dari Lift, dengan posisi sang sopir tadi mendahului kami, dan membukakan pintu dengan menggunakan keycard yang ada ditangannya dengan posisi dokter Tama tetap mengandeng tanganku.
"ini pak kuncinya...kalau ada apa-apa saya di lantai bawah. saya permisi dulu" sambil menunduk dia keluar dari pintu kamar.
Tinggallah aku dan dia berdua dalam sebuah kamar hotel mewah. perkiraanku mungkin ini yang dinamakan presidential sweate atau apalah istilahnya,batinku.
"dok...bukankah kamar ini terlalu mahal? kita cari penginapan murah saja yuk... kan kasian uangnya bisa buat ditabung" protesku sambil terus menelusuri setiap sudut kamar yang 3x lebih besar dari rumah dinas yang kami tempati. ku menghempaskan bokongku di ranjang king size sambil mengelus seprey. Dia terus melangkah dan duduk di sampingku dan berkata "kita kemungkinan hanya nginap 1 malam disini, besok kalau rumahnya dah siap kita akan pindah ke rumah"
ku melongo
"ha?pindah rumah?kemana?rumahnya siapa?" cerocosku
"kamu mau kita tinggal di sini?" katanya
"ya enggak juga sih...cuman rumah siapa yang dok..."
tiba tiba telunjuknya menempel di bibirku "ssst... kalau kau masih memanggilku deng embel - embel dokter lagi, aku akan menciummu. Aku suamimu. ganti panggilanmu, apapun itu asal bukan dokter. satu kesalahan satu kecupan" katanya sambil menatap mataku. Aku tersentak... "tapi dok..." belum berlanjut apa yang ingin kukatakan secara tiba-tiba ada benda kenyal yang menyentuh bibirku aku tersentak aku terbelalak... Ya Allah...dia menciumku...
"dok..." dia semakin menekan tengkukku dan perlahan dia melumat bibirku...kurasakan ada sesuatu seperti sengatan listrik yang mengaliri darahku. dicecapnya setiap sudut bibirku lembut namun semakin menuntut. aku menikmati setiap lumatan yang diberikan oleh dokter Tama. Apa salahnya... toh kami berdua sudah sah menjadi suami istri. digigtnya perlahan bibir bawahku sehingga erangan tak tertahankan keluar dari bibirku.dan kesempatannya untuk menjelajah lebih jauh setiap rongga mulutku. nafas kami berdua semakin memburu... Ya Allah...ternyata begini rasanya berciuman dengan pasangan halal.
Tiba-tiba Alarm kewarasanku berbunyi, kudorong pelan-pelan dadanya. dia pun menyudahi pergulatan kami.
Wajahku memerah memanas malu.
sudut bibirnya tertarik menimbulkan lubang kecil di pipinya. dia tersenyum di usapnya perlahan bibirku dengan ibu jarinya, dan ibu jarinya lalu di arahkan ke arah bibirnya "manis...aku suka" aku semakin tertunduk malu.
"gimana...mau panggil aku dengan julukan dokter lagi?" godanya sambil mendekatiku
"eh...enggak..."
" terus... aku harus manggil apa dong dok...eh...Mas...eh bapak...?" sambil kukatup mulutku dengan kedua tanganku, takut dia nyosor lagi... takut tapi malu. hehe...
digenggamnya tanganku... " dirumah aku dipanggil Putra oleh ibu bapak, kau bisa memanggilku Putra, mas Putra, atau panggil Tama aja seperti yang lainnya memanggilku atau kau mau memanggilku honey? sayang? husban? cinta atau..."
"ha....?i..iya Mas...panggil Mas aja deh" ku cengar cengir sambil menggaruk- garuk kepala yang tak gatal.
"haha...ha...kamu lucu sekali yang..."
Aku terbelalak...what? dia memanggilku apa tadi... 'Yang...' oh my God... hatiku meleleh.
"sudah...sekarang sana gih mandi...atau kita mandi bareng aja kali ya...?lebih hemat waktu dan hemat tenaga" usulnya... gila aja...
"tidak... saya mandi duluan saja..." aku ngacir menuju kamar mandi. kubiarkan dia cekikikan sendiri di ranjang.
Ku putar kunci kamar mandi, biar si dokter m***m itu tidak meneruskan niatnya untuk mandi bareng. hiiiii....aku bergidik.
Kulepas semua pakaian yang kugunakan dan kulangkahkan kakiku ke arah shower. kubasuh seluruh tubuhku. 15 menit aku selesai dengan ritual mandiku.