Status Baru

939 Kata
Tama wara Wiri di dapur untuk membuat sarapan. walaupun dia hidup serba berkecukupan dan banyak dilyani orang, tapi terkadang dia kekbuat sarapannya sendiri tanpa menyuruh pembantu yang berjejer d rumahnya. dia bisa memasak walaupaun hanya sekedar nasi goreng dan telur ceplok.? "Yess...sarapan sudah siap, tinggal ngebangunin Ningrum" bisik Tama untuk dirinya sendiri. setelah menata nasi goreng buatannya, dia menuangkan s**u untuknya dan tentu saja untuk Ningrum. setelah semua tertata,.dia melangkah ke kamar untuk membangunkan Ningrum. "Ning...Ning...bangun yuk....udah jam 7 pagi"Tama membangunkan Ningrum dengan cara mengelus-ngelus pipinya Ningrum. Ningrum kaget dengan sentuhan yang diberikan Tama di pipinya. mereka ber dua sama-sama merasa gugup akibat tiba-saling bertatap mata. "bangun yuk...sarapan terus mandi, untuk selanjutnya kita kerja" "i...iya dok saya mau membasuh muka terlebih dahulu" bergegas untuk melangkah meninggalkan Tama. tapi tangannya di cekal Tama. "mulai sekarang jangan memanggilku dengan embel-embel dokter. kau itu istriku sekarang bukan rekan kerjaku apalagi pasienku" kata Tama "ha? terus...saya harus panggil apa dong?" tanya Ningrum bingung. pasalnya dia sudah terbiasa manggil Tama dengan sebutan dokter. "kalau masih bingung, nanti kita diskusikan lagi, panggilan apa yang cocok buat kita berdua. sekarang kau cuci muka dulu, aku tunggu di meja makan yah..." kata Tama, sambil melepaskan genggaman tangannya dan dia menuju meja makan. sementara Ningrum langsung menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur perumahan ini. "ayo...duduk dulu, trus sarapan"kata Tama dan Ningrum pun mendekati meja makan dan memilih duduk di hadapan Tama, diliriknya Nasi goreng dan segelas s**u yang di atas meja dalam hatinya berkata..."wah...rupanya dokter bisa masak juga"sambil senyum senyum. "ehm...kenapa senyum senyum Ning?" Ning terbangun dari lamunannya " eh...nda dok...eh...maksud saya, nda apa ya..."Ning Tersipu malu. "ya sudah silahkan dicicipi dulu, maaf cuma ini yang bisa aku masak untuk kamu"kata Tama sambil nyengir. Sarapan berlangsung cepat karena tidak ada percakan sedikitpun. masing-masing dari mereka berdua tenggelam dalam fikirannya masing-masing. ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ Kehebohan akhirnya terjadi di puskesmas setelah semua staf hadir. Dokter Tama dan Ningrum di undang kepala Puskesmas untuk mendapatkan penjelasan tentang kejadian pernikahan dadakan di aula pertemuan puskesmas. Semua dijelaskan dengan seksama oleh Dokter Tama, tanpa embel-embel atau tambahan apapun. Dan semuanya memaklumi. Malah mereka kemudian di do'akan semoga langgeng sampai kakek nenek. Tama dan Ningrum hanya bisa tersipu dan mengaminkan dalam hati dengan do'a yang di ucapkan oleh rekan-rekan kerjanya.. "Yup...semua sudah jelas, sekarang Dokter Tama dan Ningrum sudah sah secara agama menjadi suami istri, jadi sudah bisa tinggal bersama dong...." ledek kepala puskesmas yang di timpali oleh teman-teman secara serentak "cie...cie...cie..." lanjut kepala Puskesmas " terus orang tua kalian sudah di kabari tentang pernikahan ini?" "belum Bu...Insya Allah hari ini kami berdua rencananya mau turun ke kota mau mengabarkan ke orang tua" sambung Dokter Tama. "Setelah tiga bulan bertapa di sini tanpa melihat keramaian kota, akhirnya sang pendekar turun gunung juga ya... hahaha...., kalau begitu kita turun gunung rame-rame saja, sekalian acara syukuran pernikahan. Gimana teman-teman?setuju tidak?" Semua menjawab setuju... "Ok...hari ini setelah jam kerja selesai kita on the way Kota ya...yang mau ganti baju silahkan kembali ke rumah masing-masing pukul 12, dengan cara bergantian. biar sampe akhir jam kantor tetap ada pelayanan. Baiklah rapat penikahan kali ini selesai, kita doakan saja semoga Dokter dan istri menjadi keluarga saqinah ma waddah wa Rahmah. jadikan kejadian ini sebagai jalan Allah untuk menggapai surganya Allah" semuanyaengaminkan tanpa terkecuali. "setelah ini, kalau tidak ada pasien, pak Man dan Bu Inah, tolong bantu Ningrum untuk memindahkan barang-barangnya ke Rumah Dokter Brahma, biar setelah pulang dari kota, mereka sudah tinggal serumah.dan untuk Buku nikahnya saya akan menghubungi langsung kepala KAUnya untuk mempercepat dokumennya" pungkas kepala Puskesmas. Aktifitas pelayananpun berlangsung seperti biasanya. setelah Jam satu siang mereka turun Gunung semua ke Kota. Dokter Tama dan Ningrum nebeng di mobil dinasnya kepala puskesmas dan yang lainnya menggunakan mobil teman-teman yang lain, ada juga yang menggunakan motor dinas mereka. POV TAma Sebelum berangkat ke kota, tak lupa ku membawa Hanphone yang sudah sejak aku tiba di Desa ini tak pernah berdenting sekalipun karena desa ini tak memeiliki jaringan seluler. Kuhidupkan kembali Handphone milikku setelah 1 jam perjalan. dan begitu banyak pesan masuk baik WA maupun akun sosmedku. aku lebih memilih untuk membuka pesan dari ibu. 3 bulan tak mendengar cerewetnya beliau membuat aku merindukannya. "Assalamualaikum...nak...Gimana kabarmu?bagaimana makannya?" "nak...apa kau baik-baik saja.?" "Tolong hubungi ibu ya...jangan buat ibu khawatir" dan masih banyak lagi pesan yang masuk. "pesan terkahir tadi pagi" "kalau sampai Minggu besok kau tak mengabari ibu, ibu akan perintahkan Sekertaris Ivan untuk menyiapkan pesawat untuk menjemputmu" aku terbelalak membaca WA dari ibu. segera ku dial nomor teleponnya ibu, dalam dering ke 2 di angkat. belum sempat aku mengucapkan salam ibu sudah berteriak. "Anak nakal...kenapa nanti di ancam baru kau telepon ibu hah?kamu tak tau ibu sudah khawatir mikirkan kamu yang sudah 3 bulan tak ada kabarnya ....bla...bla...bla..."engalir seperti air hujan deras. sambil cengar cengir "ibu...anak baru nelpon bukan di kasih salam dulu Assalamualaikum tanya kabar, eh...malah di marahin. Assalamualaikum wanita tercantik yang paling baik hati sedunia..."sambil ku senyum-semyum. "Waalikumussalam warahmatullah nak...gimana ga panik...anak semata wayang ke daerah, nda ada kabar selama 3 bulan. kalau kau kenapa-kenapa?bagaimana dengan ibu, bagaimana dengan bapak, bagaimana dengan Rumah sakit ini?Hik...hik...hik...." aku jadi sedih mendengar isakan ibu. "hehe...Maaf Bu...selama tiga bulan ini aku berdiam diri di desa, aku nda pernah turun gunung. Untuk keperluanku aku nitip sama teman-teman yang rumahnya di kota Bu...tenang aja anakmu ini tak pernah kekurangan apapun di kampung orang. Alhamdulillah teman-teman disini orangnya baik-baik. jadi saya betah-betah saja di sini" termasuk menikahkan aku dalam sekejap "Bu...saya tutup dulu teleponnya yah...ntar Qt video call lagi yah....salam rindu buat ayah sama orang rumah lainnya" "Ya sudah... jangan lupa telepon lagi ntar...jangan asal hilang lagi. Assalamualaikum. salam untuk teman-temanmu di sana" "Waalikumussalam Warahmatullah ibu..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN