2 jam perjalanan dari ibu kota Provinsi kamipun tiba di tempat tugas kami. Biluhu kecamatan terpencil dan berada di bibir pantai. kami disambut oleh petugas puskesmas yang ada langsung di ruang pertemuan.
"selamat datang kami ucapkan kepada 2 tamu istimewa kita hari ini, yang insya Allah ke depannya akan betah di tempat ini, dan kami persilahkan kepada saudara untuk bisa memperkenalkan diri" ungkap kepala Puskesmasnya sambil menyerahkan mikerofon ke arahku.
"Assalamualaikum Warahmatullah,terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. perkenalkan nama saya Putra Pratama, saya berasal dari Surabaya, umur 25 tahun. mungkin itu dulu perkenalan singkat dari saya....dan saya mohon bimbingan dari teman-teman semua dalam pelaksanaan tugas saya nanti ke depan.tegur saya ketika salah, dan ingatkan saya ketika lalay, terima kasih" ada yang nyeletuk.dari belakang "status?" "hobi?" dan lain-lain pertanyaan yang menggelitikku aku tersenyum dan mengarahkan pandanganku ke penanya "saya belum menikah" dan ditimpali tepukan tangan oleh rekan-rekan baruku. selanjutnya aku menyerahkan mikerofon ke arah Ningrum yang berada di sampingku yang sedari awal hanya diam.
"assalamu Alaikum Warahmatullah Wabarakatu, nama saya Ayu Ningrum Puspa, bisa di panggil Ningrum atau Ning saja....terserah nyamannya teman-teman. profesi saya sebagai bidan, umur saya 21 tahun. Saya lahir di Manado, tapi orang tua saya aslinya Surabaya, seperti halnya dokter Tama, sayapun mengharapkan banyak bimbingan dari teman-teman semua, itu saja yang bisa saya sampaikan, terima kasih wassalamu'alaikum warahmatullah" suaranya lembut tapi tegas.
seperti saat tadi aku memperkenalkan diri, banyak pertanyaan yang timbul soal status hobi dll. sambil tersenyum simpul Ningrum menjawab "saya masih sendiri dan hobi saya jalan-jalan, terima kasih"
perkenalan pun telah usai, dan berhubung jam pulang sudah melewati batas, akhirnya rapat di bubarkan, dan kami kembali ke ruangan kepala Puskesmas, atas saran kepala puskesmas kami diharapkan bisa betah menempati 2 Rumah dinas yang berada di samping puskesmas. Ningrum menempati rumah dinas bersama salah satu rekan kami yang rumahnya di kota. sementara aku menempati Rumah dinas yang satunya lagi sendiri.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Tanpa terasa sudah 2 bulan aku melayani masyarakat di sini. daerah yang tak terjangkau jaringan. tapi aku menikmatinya, aku bersyukur berada di tempat ini, penduduknya ramah, dan rekan-rekan kerjakupun semuanya baik tanpa terkecuali.selama 2 bulan terakhir ini tak sekalipun tak ada niatku untuk turun gunung menuju kota. dengan segala keterbatasan yang ada aku sebisa mungkin menikmati hidupku yang berbeda 180 derajat. aku yang biasa dilayani dan biasa di urus oleh puluhan pembantu sekarang mengurus diriku sendiri, mulai dari makaan, nyuci, beberes, kulakukan sendiri. Tak seorangpun rekanku tau kalau aku adalah calon pewaris tunggal 2 Rumah sakit di Jawa, karena aku tak pernah menceritakannya. aku ingin melepas title pewaris Rumah sakit, setidaknya selama 3 tahun aku di sini.
dan sosok yang sejak awal membuatku terkesan...Ningrum, setiap Minggu dia selalu ikut rekan yang tinggal bersamanya untuk sekedar pulang ke kota, karena nda nyaman katanya dia tidur sendiri.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Hari itu masih hari Kamis seusai posyandu aku merebahkan tubuhku di ranjang kamar yang luas kamarnya 5x lipat dari luas kamarku. rasanya capek dan saat aku mulai terbawa mimpi, sayup-sayup kudengar ada yang mengetuk pintu depan sambil menyebutkan namaku. ku raih jam tangan yang ada dimeja samping tempat tidurku. kulihat waktu menunjukkan pukul 17.15, sudah mau malam ternyata. dengan malas aku melangkah ke luar untuk membuka pintu.
Ceklek...
"assalualaikum dok...maaf menggangu, saya cuman mau bilang, hari ini saya mau pulang ke kota, orang tua saya meninggal, dan sudah ada saudara saya yang datang menjemput" kata Rany teman serumahnya Ningrum.
"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un...saya turut berduka cita ya mba RAN...terus ini sudah mau berangkat?"
"iya dok...saya juga titip Ningrum, kasihan dia sendiri, tidak sempat saya Carikan orang untuk menemaninya di rumah"
aku mengangguk "ok...hati-hati di jalan. salam sama seluruh anggota keluarga, Insya Allah besok kalau ada yang ikut melayat dari sini, saya pasti ikut"
Rany mengangguk "iya dok....kalo begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum"
"Waalikumussalam"
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
19.30
saat mau siap-siap tidur, tiba-tiba lampu padam. dan aku mendengar teriakan Ningrum dari rumah sebelah. aku meraba-raba berusaha mencari Hp yang sangat jarang aku pakai. ah...Alhamdulillah dapat. ku aktifkan dan ku aktifkan fitur senternya dan aku menuju ke rumah sebelah...
"Ning...Ning...Ning....kamu baik-baik saja?" kulihat pintu depan tertutup, kucoba membukanya ternyata belum sempat d kunci. samar-samar kudengar suara Ning yang seperti dibekap orang. aku mulai panik dan kulangkahkan kakiku seperti berlari menuju kamarnya...dengan cahaya senter yang remang-remang kulihat Ning dibekap oleh seseorang yang berusaha menggerayangi tubuhnya.
"hei...siapa kau...bangsat" laki-laki itu tersentak dan segera melarikan diri sambil mendorong tubuhku sampai terjatuh.
kuberusaha mengejarnya, namun akupun khawatir dengan Ning. akhirnya aku kembali lagi ke kamarnya Ning.
dan aku masih mendengar isakan yang pilu dari bibirnya. ku arahkan senter ke segala penjuru ruangan ini...
"Ning...kamu baik-baik saja?" tatapanku terkunci di sudut ranjang dia meringkuk sesunggukan dan menenggelamkan wajahnya di lutut. dalam keremangan kubisa melihat seluruh tubuhnya gemetar.
ku rengkuh tubuhnya...
dia kaget "ahhh....jangan mendekat...hik...hik...hik...jangan sentuh aku...pergi...pergi...." "ssstttt...aku Putra...kau aman sekarang.bajingan itu sudah tidak ada. kau aman sekarang" kudekati lagi dirinya dan dia tak merespon. aku pun memberanikan diri merengkuhnya dalam dekapanku. kudengar tangisnya semakin menjadi dan pelukannya makin erat "hik...hik...hik...dok...saya takut"
"ssttt...tenang...kamu aman sekarang" kubelai rambutnya yang tak berjilbab dan ternyata rambutnya panjang. klek...listriknya kembali menyala...
secara spontan dia melepaskan pelukannya. dan Masya Allah....ternyata dia cantik ketika tanpa jilbab. kutatap wajahnya yang cantik matanya yang masih tetap indah walaupun masih ada sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya. tiba-tiba ada sesuatu yang ku rasakan dalam dadaku. jantungku berdetak puluhan kali lebih cepat dari biasanya. dan mungkin Ning juga merasakan hal yang sama.
"aku pamit balik ke rumahku ya...." ku berbalik menuju pintu.baru selangkah, tanganku dicekal olehnya...dengan mata sendunya dia menatapku sambil berkata "dok...saya takut....hik...hik...hik...jangan tinggalkan saya" kuberbalik dan memeluknya. kudekap dia dan dia balas mendekap ku "sssttt...aku disini. tak usah nangis yaa...."
Tiba-tiba terdengar suara riuh dari arah pintu...
orang-orang berteriak "dasar pasangan m***m" "keluar kalian dari kampung kami"
kami tersentak dan melepaskan pelukanku. kuraih jilbab yang ada di ranjang kupakaikan ke Ningrum
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
TBC