Malam pertama

1288 Kata
Setelah selesai pembicaraan keluarga, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Tama merebahkan tubuhnya di atas kasur, diikuti oleh Ningrum. Tama merentangkan tangannya untuk menyambut Ningrum dalam pelukannya. "OOO...istriku...hehehe...sekarang aku punya istri, cantik, baik, lembut, Sholehah pula..."kata Tama sambil membenamkan tubuh Ningrum ke dalam pelukannya. "mas bisa aja... Aku tak sesempurna itu kali..."balas Ningrum malu,lebih membenamkan kepalanya di d**a bidang Tama. Tama mengecup kepala Ningrum berulang kali. di raihnya Wajah istrinya, Ningrum mendongak, dan tatapan mereka bertemu. Tama mulai mengecup kening istrinya turun ke hidung, dan berlanjut ke bibir, dilumatnya bibir istrinya lembut, seakan-akan bibir istrinya adalah barang lembut yang gampang terkoyak. Ningrum memejamkan matanya seraya menikmati sentuhan demi sentuhan suaminya. "mungkin ini saatnya aku menyerahkan apa yang kujaga selama ini kepada suamiku" batin Ninrum, dikalungkan tangannya ke leher Tama, dan dia mulai menikmati ciuman Tama, bahkan membalasnya. merasa diberikan jalan oleh istrinya, Tama semakin memperdalam lilitan lidahnya. dimasukinya lebih dalam mulut Ningrum, di jejaknya setiap sudut bibir istrinya, hingga ke lidah. Puas bermain dengan lidah istrinya, dia menghentikan gerakan membelit lidah istrinya, perlahan bibirnya menjejal leher istrinya. keduanya tersengal-sengal karena pasokan udara yang seakan berkurang. Perlahan, Tama membuka baju tidur Ningrum, dan menangkup kedua bukit kembar Ningrum yang masih menggunakan Bra. di remasnya bukit kembar yang proporsional itu, kemudian, sebelah tangan lainnya menjalar ke belakang, mencari pengait Bra, dan klik...Bra pun terlepas dari p******a Ningrum. Ningrum yang melihat keberhasilan Tama melucuti Bra-nya hanya bisa tersenyum malu. Tama kemudian mengelus dua bukit kembar itu .. "ini...milikku...hanya milikku" kata Tama masih meremas p******a istrinya "ah...mas..."lenguh Ningrum tatkala Tama mengulum p****g susunya yang sudah mengeras. Tama yang mulai keasikan dengan p****g p******a kanan istrinya tak mau melewatkan kesempatan ini. mulutnya secara bergantian, melumat dan menghisap p******a kanan dan kiri milik istrinya. Tama menatap Ningrum penuh syahdu. dia menikmati setiap lekukan tubuh istrinya yang kini telanjang tanpa sehelai benangpun di depannya. dia menikmati saat Ningrum menggelinjang nikmat karena tangannya meraba seluruh bagian tubuh sensitif istrinya,.dan bibirnya ikut mengecap setiap inci tubuhnya, meninggalkan tanda kepemilikan merah dis setiap inci tubuhnya. perlahan dia turun ke area s**********n istrinya. dia mengecup sejenak bagian luar v****a yang ditumbuhi bulu halus itu. di pandangnya, dan seulas senyum menyungging dari bibir Tama. "Mas...kenapa senyum-senyum" tanya Ningrum penasaran melihat Tama tersenyum sambil memandang Vaginanya. kembali Tama mengecup v****a istrinya "Mas penasaran gimana rasanya berada di dalam" Tanpaberi waktu istrinya membalas perkataannya, Tama mengulum v****a istrinya, menjejalkan lidahnya kesetiap sudut bagian basah istrinya. Ningrum yang kaget dengan tindakan suaminya hanya bisa pasrah dan terus melenguh kenikmatan. "mas....jangan...itu kotor mas...ah..." dadanya terus naik turunencari pasokan udara. akal sehat dan tubuhnya tidak seirama. akalnya ingin menghentikan permainan lidah suaminya di dalam liang senggamanya. tapi tubuhnya seakan menginginkan lebih... ditekannya kepala Tama, sehingga lebih masuk menekan ke dalam vaginanya. Tama tersenyum tatkala Ningrum menekan kepalanya lebih ke dalam. dia senang, istrinya menikmati permainan lidahnya. tidak hanya lidah Tama saja yang bekerja, tangannya pun ikut bekerja. jari tengahnya diarhakan ke lubang v****a istrinya, semakin cepat, dan istrinya semakin bergerak tak karuan. meremas segala yang bisa diraihnya. dia merasakan nikmat yang sangat tatkala jari dan lidah Tama semakin liar mengobrak Abrik liang vaginanya. "ah...mas...en....nakk...mas...ah....a..ku..ga kuat.....mas...ahh...ah...ah...ku peng...en...ahh...Pi...pis....maaas...ahhhhhhhhh" dan akhirnya Ningrum terkulai lemes. Tama kembali mencium v****a istrinya... "mas...geliii..." Tama tersenyum. Tama menatap istrinya seakan meminta persetujuan untuk penyatuan ke duanya. seakan mengerti arti tatapan mata Tama, Ningrum mengangguk meng iya kan arti tatapan Tama. Perlahan Tama memposisikan penisnya di v****a istrinya. digosok-gosokkannya ujung p***s di daerah v****a Ningrum yang sudah basah sejak tadi. dia mulai memasukkannya ke dalam linga sempit itu... Masih mengganjal. di lihatnya wajah istrinya menahan perih. dikulumnya p******a istrinya untuk menghilangkan rasa perih yang dirasakan istrinya .. "mas...sakit...hik...hik...hik..." "ssttt...mas akan pelan sayang....katanya cuman awalnya saja sakit, setelahnya akan terasa nikmat..." "mas...hmmmp" dibungkamnya mulut istrinya dengan lumatan lembut untuk mengalihkan perhatian Ningrum. dan... bles....goolll... "ahhhhhh...."Ningrum mengeram kesakitan saat b***************n suaminya sudah berada masuk di dalam vaginanya. "sa..kit..." Ningrum meneteskan air mata "maafkan mas telah menyakitimu sayang...maaf" suara serak Tama yang diliputi gairah yang sudah memuncak. masih dalam posisi menindih istrinya dan batang penisnya masih tenggelam di dalam v****a istrinya "mas mulai lagi yaaa...biar cepat selesai hmmm" bujuk Tama dan diangguki oleh Ningrum. dan Tamapun memompa secara perlahan ... "ahhh....ah....ah..." desahan bersahutan semakin memenuhi ruang kamar mereka. untuk kamar Tama di desain dengan ruang kedap suara. "sakit sayang..." Tama menghentikan gerakan pinggulnya yang masuk keluar... Ningrum yang kesal karena Tama menghentikan genjotannya hanya bisa diam, dan tanpa bicara dia menekan b****g Tama hingga p***s yang ada di ujung v****a ikut masuk kembali ke dalam vaginanya ... "uh...mas...ahhh...ah..." Ningrum mengalami klimaks yang ke dua, sementara Tama masih belum sama sekali merasakan klimaksnya. Tama diam sejenak untuk mengistirahatkan istrinya yang telah mengalami pelepasan ke dua. setelah dilihat istrinya agak tenang, Tama membalikkan tubuh istrinya dalam posisi nungging, dan mulai memaju mundurkan batang penisnya ke dalam lubang sempit istrinya. "uhhh...sayang....nikmat sayang....jangan pernah berikan tubuhmu ke orang lain....kamu milikku..." cerocos Tama sambil masih memaju mundurkan b****g istrinya... "ah...mas...aku mau keluar lagi ..." rengek Ningrum manja... "kita keluar bareng ya...aku juga mau klimak ini..."sambut Tama Ter engah-engah... Tama kemudian membalikkan posisi istrinya ke posisi misionaris. dia mengangkat kaki istrinya dan di tautkan ke bahunya, kemudian di angkatnya b****g istrinya, dan dia mulai melakukan penetrasi lagi ... "ahh....ah...ah...." "mass....ah...." "iya sayang....ah...." Tama semakin mempercepat gerakan maju mundurnya dan... "ahh....tubuh keduanya mengenang dan melemas bersamaan dengan gairah yangenggapai puncaknya. Tama masih menahan posisi kaki istrinya di bahu, berharap s****a yang masuk ke dalam rahim istrinya bisa langsung ketemu sel telur. dan akhirnya mereka melakukan malam pertama di sore hari yang sudah tertunda selama hampir sebulan. mereka berdua saling merenggut manisnya cinta pengantin baru. Tama menggempur Ningrum tanpa henti. Tama begitu bersemangat menikmati hangatnya bercinta bersama istrinya. "Terima kasih sayang....kau telah menjaga kehormatanmu dan memberikannya padaku" kecup Tama di kening istrinya. "Mas...jangan tinggalkan aku ya..." "enggak sayang...mas janji akan selalu ada di samping kamu. kita akan melewati kehidupan ini bersama. kita akan menua bersama. jangan pernah berfikir untuk lepas dariku sayang" mereka pun kembali berpelukan hingga tertidur lelap, dengan posisi Tama yang sebelah tangannya meremas-remas lembut payudaranya sementara p******a lainnya dihisap. CK...CK...ckkk..tama kayaknya menemukan mainan baru pengantar tidur. Saat waktu menunjukkan pukul 17.30 Tama terbangun dengan posisi yang masih memeluk istrinya. ditatapnya wajah Ningrum yang masih terlelap dalam pelukannya. perlahan Tama mengelus wajah istrinya sambil melancarkan aksi menciumi wajah istrinya... "Bangun sayang...udah mau magrib, kita belum mandi. ntar keburu magrib" Tama membangunkan Ningrum. Ningrum terusik dengan suara Tama yang mengganggu tidurnya. "mas...aku capek...aku mau tidur lagi aja...tubuhku remuk"Rajuk Ningrum masih dengan mata terpejam. "Maaf sayang...maaf...ketagihan soalnya. Kau membuat mas menggila" "Mas...5 kali mas... 5 kali..." jawab Ning kesal. "hehehe... maaf...lain kali ga sampe 5 kali deh...kan perdana... jadi wajar 5 kali. berikut-berikut 4 kali aja deh... ga usah banyak-banyak" "ha....itu sama saja mas...." sungut Ning langsung duduk dengan kondisi masih polos. Tama menyunggingkan senyum devilnya. "masih mau ronde ke 6? Mas masih sanggup nih..." ledek Tama sambil mendekat. "mas...katanya mau magrib..." rengek Ningrum. "Aku mau mandi..." Ningrum menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan dia berjalan ke arah kamar mandi. baru dua langkah, Ningrum mengadu, ternyata bagian sensitifnya Perih, ngilu, sakit. dia meringis dan tertunduk. "mas...sakit...hik...hik...hik..." Tama mendekatinya. "Mana... mas lihat dulu" "ga' ah...sakit mas...jangan main-main." rengek Ningrum Tamapun menggendong Ningrum ala bridal style ke dalam kamar mandi. Tama mendudukkan Ningrum di atas westafel, dan dia memeriksa hasil karyanya. "astaga...Maafkan mas sayang...mas ga nyangka akibat perbuatan mas, istri mas jadi babak belur begini" "Mas harus tanggung jawab...pokonya tanggung jawab" Ningrum merengek lagi. "iya...mas tanggung jawab. ini salah satu bentuk tanggung jawab kan..."kata Tama sambil mengelus ngelus kepala ning "Mas... ih...apa sih...aku mau mandi...ntar magrib lewat lagi" Tama kembali menggendong Ningrum dan menurunkannya di bawah shower. dan dengan telaten Tama memandikan istrinya. hanya sekedar memandikan tanpa ada adegan tambahan, karena sedikit lagi magrib
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN