Setelah aku mandi gantian mas putra yang mandi.
sebelum melangkah masuk ke kamar mandi, dia mencuri satu kecupan di pipiku dan lari menuju kamar mandi. beginilah sifat mas Putra? aku tersenyum mengingat kelakuan mas putra yang bekitu manis.
Mas putra keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk sepinggang. walaupun sudah mau sebulan menikah, tapi setiap mas putra keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, aku selalu terdiam menganga takjub dengan keseksian suamiku itu ?
"sayang...awas lalat masuk ke dalam mulut loh..." canda mas putra yang terus berjalan menuju ke arah ku. aduhhh....tampaknya dia sadar kalau aku terpesona padanya, dan semburat merah pun hadir di wajahku?? biar ga semakin malu, aku tidak menggubris mas Putra, aku membalikkan badanku, dan menjangkau pakaian mas putra yang sudah aku siapkan dari tadi. sebuah Pollo sirt kerah Revere warna hitam dan bawahan swim short warna senada dengan kaosnya, lengkap dengan dalamannya.
dia melepaskan handuknya di depanku, dan dengan santai dia mengbil satu persatu pakaian yang ada di tanganku. aku hanya diam dan ternganga dengan tingkah m***m suamiku.
"ih...mas...bisa kan ganti bajunya di kamar mandi ga harus dihadapan ku begini..." kesalku
"biar kamu bisa menikmati tubuh atletis suamimu ini" katanya sambil terus menatapku. hmmmm....kalau tatapannya sudah syahdu seperti ini, tanda-tanda kemesumannya akan kambuh. segera kucubit pipinya untuk mengalihkan dunianya dari dunia m***m ke dunia nyata.
"hhhh...ngegemesin nih dokter mesum.ayo...ntar lagi di cariin ibu" kugandeng tangannya untuk turun ke ruang makan, karena sejak Mas putra di kamar mandi, ada yang mengetuk pintu, dan mengatakan bahwa makan siang sudah siap.
Ku lihat ibu sudah duduk manis sambil menunggu kami turun dari kamar. dia tersenyum bahagia melihat anaknya menggandeng mesrah istrinya.
Karena di keluarga ini tak dibolehkan berbicara saat makan, makan kamipun hanya menikmati makanan yang ada, tanpa sepatah katapun keluar dari mulut masing-masing.
Saat setelah selesai makan, dari ruang keluarga aku sekilas melihat seorang lelaki paruh baya yang wajahnya mirip suamiku. aku terdiam kaku. Untung saja aku sudah selesai minum. kalau belum, ku pastikan aku akan tersedak. Wajahnya sekilas seperti Mas putra saat baru pertama ku melihatnya. dingin seperti Kamar mayat.
"well...kata ibu Putraku punya kejutan besar untuk bapak"
"bapak....Assalamualaikum... katanya mau pulang setelah magrib, kok malah belum jam 3 sudah pulang pak"
"Waailakumussalam istriku....bapak penasaran sama anak nakal yang katanya bawa oleh-oleh yang mengejutkan buat bapak" sapanya sambil mendekati istrinya.
sementara aku tetap diam tak berkutik. jantungku semakin berdetak kencang, rasanya ingin maraton keluar dari d**a. tubuhku terasa lemes tak bertulang.
kulihat Mas Putra keluar dari kursinya dan menghampiri bapak " Assalamualaikum pak... gimana kabarnya?" sapa Mas Putra sambil menyalami tangan bapak, dan menciumnya.
"Waalaikumussalam warahmatullah... seperti kau lihat bapak kelihatan sehat. dan bapak harus sehat. kalau bapak tak sehat, maka Rumah sakit yang ditinggal lari pria galau, akan gulung tikar. Jadi aku Harus sehat untuk mengurus Rumah sakitku" katanya kelihatan galak
"Bapak....maafkan putra"
"Well...kejutan apa yang kau bawa buat bapak hmmm? tanyanya serius sambil memandang wajahku yang semakin tertunduk
Mas putra menghampiriku dan menuntunku mendekati bapak yang sekarang berjalan menuju ruang keluarga.
"Pak...."Kata mas putra sambil garuk-garuk kepala
"hmmmm...."
"kenalkan ini Ningrum, menantu bapak..."
"ha?menantuku?anakku yang mana yang menikahinya?"
balas Bapak terkejut
"Ningrum istri putra pak...dia istri saya..."
"Dia lagi hamil? tebak bapak. dan tebakan bapak membuat ibu terpingkal-pingkal.
"bapak...bapak...lawong belum ada pencoblosan kok dikatain hamil...gimana sih...anak Gadis orang ini masih perawan, terus anak bapak masih perjaka"
"ha?terus gimana bisa menikah dadakan kalo tidak di gerebek?"
"mmmm...kita memang menikah karena digerebek warga. tapi warganya salah paham pak...dikiranya warga, Putra mesumin anak orang, padahal Putra hanya mau nyelamatin Ningrum dari orang yang mau memperkosa dia"
"coba jelaskan secara rinci kepada bapak? kok bisa?" Tanaya bapak sambil mengerutkan dahinya.
Mas Putra pun menceritakan kisah cinta kami berdua,
dan di tutup oleh kalimat "Putra yakin, ini adalah jalan Allah menunjukkan Jodoh Putra yang sebenarnya" kalimat pamungkas Mas Putra mengandung bawang, sehingga membuatku menitikkan air mata haru.
"gimana Bu?" tanya bapak sambil mengangguk ke ibu
"Minggu depan kita buat resepsinya"
"Bu...Putra minta izin ke atasan itu cmn seminggu, hari Senin depan putra sudah harus tugas lagi"
"gak ada tapi-tapian, telepon atasanmu, bilang mereka semua di undang ke resepsi pernikahan kalian. telepon semua orang yang kalian kenal di Gorontalo untuk datang ke Surabaya, untuk akomodasi mereka nanti ibu yang tanggung.." kata ibu, yang langsung di sambung bapak "dannn...sebagai konsekuensi, kau tidak boleh kembali lagi ke Gorontalo. kau Urus Rumah sakit sja. Bapak cape... bapak pengen liburan tapi ga ada waktu karena mengurusi tanggung jawab yang kau tinggalkan"
aku terbelalak, dan Mas putrapun hanya bisa menggaruk kepala, kayaknya perkataan bapak adalah hukum yang harus dilaksakan.
"ngurusin teman-temanmu biar serahkan saja Sama Dika. mulai besok kau kembali ke Rumah Sakit, dan setelah resepsi kalian dilangsungkan ibu sama bapak mau keliling Eropa" sambung bapak lagi
"lah...pak...saya yang nikah, malah bapak sama ibu yang pergi bulan madu...harusnya izinin dulu Putra bulan madu"Mas Putra menimpali perkataan bapak sambil memberenggut kesal. Bapak malah tertawa
"Ok...Minggu depan setelah resepsi kalian bulan madu seminggu saja. sepulang dari bulan madu, semua urusan perusahaan dan urusan Rumah sakit Bapak serahkan sepenuhnya kepadamu"
"pak...biarlah sampai setahun saja Putra mengabdi di Puskesmas pak...setelah itu Putra akan kembali ngurusin perusahaan. 8 bulan lagi deh pak...yah ..izinkan putra 8 bulan lagi di Gorontalo"
"Tidak...putusan bapak sudah bulat" kata bapak sambil berlalu menuju kamarnya.
"ibu...." Mas putra mengiba kepada ibunya.
ibu hanya bisa memberi kode dengan bahu yang artinya ibu tak bisa membantah keputusan bapak.
Mas Putra tertunduk kesal.
ku sentuh pundaknya.
"mas...jangan sedih. turuti saja perkataan bapak. ga baik loh membantah..."
"yuk...mas pasti capek, kita istirahat dulu, nanti kita diskusikan lagi gimana baiknya