Tama POV
Aku** meninggalkan Ning di ruang tamu. dan menuju kamar ibu, ku ketuk pintu
tk....tk...tk...
tak ada sahutan.
ku buka dan kulangkahkan kakiku.
kulihat ibu berbaring di ranjang king sizenya sambil mijitin kepalanya sendiri.
perlahan ku melangkah dan ku dekati ibu. kukecu keningnya, matanya yang terpejam terbelalak tiba-tiba saat matanya menatap netra mata anak bungsunya.
beliau menangis sambil memeluk tubuhku.
"hik...hik...ibu kangen anak ibu...kapan nyampenya?kenapa nda kasih kabar ke ibu?berangkat jam berapa dari Gorontalo?kan ibu bisa suruh mang Jamil buat menjemputmu di bandara nak." aku tersenyum menikmati ocehan ibu yang begitu sangat ku rindukan.
"aku kangen ibu...kangen banget" kueratkan lagi pelukanku.
"ah...kamu curang...kalau kasih kabar duluan kan ibu bisa minta oleh-oleh dari Gorontalo nak..." kata ibu merajuk.
"hahaha...tenang Bu...Putra bawa oleh-oleh buat ibu. Oleh-oleh dari Sulawesi"
"oleh-oleh apa nak?tanya ibu berbinar...
"emmm....Putra bawa Oleh-oleh Menantu buat ibu"kataku sambil menggaruk kepala yang tak gatal, sambil mataku terus memperhatikan mimik wajah ibu. bagaimana tanggapannya tentang kabar mengejutkan yang kubawa. Dann...beliau terkejut. dilepaskannya pelukannya.
"ah...yang bener nak? oleh-oleh menantu atau baru calon menantu?" selidik ibu.
"menantu Bu...Putra bawa istri ke ibu"
"Astaga...kau menghamili anak orang?kenapa nikah tak pernah bilang ke ibu bapak?hah?anak siapa yang kau hamili nak...?
"no...no...no...Putra ga ngehamilin anak orang Bu... sampai detik ini aja gawangnya belum jebol...masa hamil?" gerutuku.
"jelaskan pada ibu...apa yang terjadi. dan di mana perempuan yang kau bilang adalah istrimu?"
" dia di bawah Bu. Namanya Ningrum"
"ayo...kita turun"
"yukkk..."
Ningrum POV
Aku ditinggal sendiri di ruang tamu yang super megah ini. Mas Putra entah ke mana. daripada menunggu mas putra entah ke mana, ku menyibukkan diri dengan mengutak-atik Handphone yang sejak semalam tak ku sentuh. ku aktifkan paket dataku. dan pemberitahun beruntun pun menyibukkan hpku.
tiba-tiba pintu lift berbunyi, dan mas putra keluar dari dalam lift bersama seorang wanita paruh baya, yang kecantikannya masih terlihat jelas.
Aku menundukkan wajahku. aku gugup, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitku. Ya Allah...mudahkan hamba. ibaku dalam hati...
"sayang...kenalkan ini ibu. Ibu...ini Ningrum istri Putra"
aku tersentak dan segera mengulurkan tanganku. kurasakan tangan ibunya mas Tama hangat. berarti tanganku yang kedinginan mungkin karena Takut. takut ketemu mertua.
kusalami tangan mertuaku, ku cium punggung tangannya "Assalamualaikum ibu...saya Ningrum" ucapku tapi tetap dalam posisi tertunduk.
sepintas kulihat ibu memperhatikanku. Ah... apakah penampilanku sudah pantas untuk dikatakan istri Mas Putra? aku hanya tampil sederhana, dengan Gamis hitam dipadupadankan dengan jilbab Peach dan menggunakan riasan yang tipis. aku semakin menunduk takut campur malu.
ibu menarik tanganku dan beliau memelukku "cantik" hanya itu kata yang bisa tertangkap dengan indera pendengaran ku.
Hufff...
"duduk, dan ceritakan pada ibu bagaimana bisa kalian menikah tanpa meminta restu dari ibu? apa sebenarnya yang terjadi?"
Mas putra memulai kisah kami. dia menceritakan secara detail dimulai dari kisah kita yang sekantor, kisah ijab kabul, tengah malam, dan menemui mama di Manado.
"Alhamdulillah...kirain ibu kau sudah buat Ningrum hamil di luar nikah nak..."
"yeeee....Enak aja...boro-boro hamil di luar nikah Bu. Selama 3 bulan jadi teman, mungkin baru 3 kali kami ngobrol. dan setelah menikah dua Minggu putra belum ngerasain malam pertama Bu..." kata mas Tama manja kepada ibunya. Aku tersentak kaget bercampur malu dengan pernyataan mas putra. nih orang... dasar mesum...masa hal ini harus dibongkar ke ibunya.
"hahaha...jadi anak ibu masih perjaka?" ibu menimpali perkataan mas Tama terpingkal-pingkal
"maunya istriku beroleh restu dulu dari ibu...baru Ningrum mau nyerahin dirinya ke Putra Bu..." cerocos mas putra. aku hanya bisa membelalakkan mataku karena malu. ingin ku tutup mulut cerewet mas putra. tapi aku masih takut dengan ibunya. Tak kusangka dokter yang irit bicara, tampang jutek plus dingin sedingin kamar mayat ini, aslinya seperti ini. mulutnya kalau sudah bicara sudah tidak bisa lagi di rem.
tanpa sengaja aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Baiklah...ibu merestui kalian. Tunggu bapakmu pulang dari Rumah sakit, kita akan membicarakan Resepsi pernikahan" aku kembali terbelalak, aku terharu.tanpa terasa bulir bening mengalir di pelupuk mataku. Pernikahan dadakanku direstui. Mas Putra merah jemariku dituntunnya aku bersimpuh di hadapan ibunya.
" Kami memohon restu dari ibu. restui kami ibu...restui Putra untuk menjadi suami yang bertanggung jawab untuk istri dan anak-anak putra kelak" tangis haru pun tak terbendung.
"ibu merestui kalian, jadilah keluarga yang sakinah ma wadaah wa Rahmah. Putra sayangi Ningrum, cintai Ningrum sepenuh hatimu. jangan sakiti dia. ketika kau menyakitinya ibu pasti akan sakit" kata ibu sambil mengelus-elus kepala putranya.
"sudah...sekarang kalian iatrihat dulu. pasti capendengan perjalanan jauh"
ibu mengangkat gagang telepon yang ada di samping tempat yang di dudukinya. " Bu Ida...tolong siapkan makan siang untuk Putra dan istrinya.... mereka baru tiba dan belum makan siang"
"sekarang kalian mandi dulu, kalau meja makannya sudah siap, nanti ibu panggil"
"iya Bu...Tama pamit ke atas. sudah dapat restu kan...?jadi sudah bisa membobol gawang kan sayang" cerocos mas Tama dan kubalas dengan cubitan kecil
"Mandi...trus makan dulu, biar ada tenaganya untuk membobol. sana-sana mandi...dasar m***m" usir ibu, sambil memukul-mukul p****t mas Putra seperti anak kecil" Mas Tamapun menarik tanganku dan di bawa ke kamarnya.
Tama membuka pintu kamarnya dan menarikku masuk, kemudian ditutup dan dikunci rapat
"hmmm....restunya sudah di tangan...sekarang sudah boleh kan...." kata mas Putra sambil menarik turunkan alisnya.
"Mas bisa aja...kata ibu tadi kita di suru mandi dulu, terus makan" kataku malu-malu
"setelah makan...main bola..." kata mas putra, dan dia menarik tanganku dan mendekatkan bibirnya ke bibirku. Kamipun saling melumat.
Kewarasanku kembali muncul, ku dorong dadanya, hingga lumatan kami terlepas. "mas...mandi dulu ya... kalau tiba-tiba ibu memanggil terus kita belum mandi, apa kata ibu nanti mas...alasan apa yang akan di kasih ke ibu?"
"bilang aja lagi nyicil cucu buat ibu" ku pukul lengannya
"ih...mas ini...mesumnya kebangetan. aku mau mandi..."
ku tinggalkan Mas Putra dengan kekehannya dan aku menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamar mas Putra.