Seminggu sudah Tama dan Ningrum menempati rumah baru mereka, dan kebahagian selalu menghiasi rumah tangga mereka berdua.
Rutinitas mereka setelah subuh, Ningrum menyiapkan sarapan dan bekal untuk di bawa ke Puskesmas, dan Tama yang membereskan dapur setelah Ning selesai masak.
Setelah sarapan, jam 06.00 mereka meninggalkan rumah menuju Puskesmas untuk melakukan Pelayanan.
Hari ini rencananya mereka mau izin ke kepala Puskesmas untuk pulang ke Surabaya dulu, menemui orang tua Tama.
dan Alhamdulillah pimpinan mereka memberikan persetujuan untuk Pulang ke Surabaya. Karena rencananya seminggu Mereka di Surabaya, jadi ontuk jadwal pelayanan Poly di serahkan sementara ke parawat yang ada di puskesmas.
Tama sangat bersyukur dipertemukan dengan pimpinan dan teman-teman yang saling mengerti dan saling memahami, serta mau saling membantu.
"rencana berangkatnya kapan dok?" tanya kepala puskesmas
"kalau di izinkan sih Minggu pagi kita berangkat. dan insya Allah kembali Minggu berikutnya lagi" jelas Tama kepada pimpinannya.
"sudah pesan tiketnya"
"belum ibu. rencana setelah dapat izin baru bisa booking tiket"
"ya sudah...Gini aja...mumpung tiketnya belum di pesan, ini kan hari Kamis, kalian berdua berangkatnya Jumat besok aja. dan besok ga usah datang ke puskesmas lagi, biar ga kecapean d jalan jadi terserah kalian berdua mau dengan penerbangan pagi, siang atau sore "
Tama terlihat senang dengan keputusan Kepala Puskesmasnya. Artinya dia akan punya waktu lebih lama untuk melepas kangen bersama keluarganya.
"iya ibu....terima kasih banyak atas pengertiannya. kalau begitu kami pamit pulang dulu.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
ke esokan harinya mereka mengambil penerbangan pagi. biar siang sudah di Surabaya.
Setelah melewati beberapa jam di udara dan sempat transit di bandara Hasanudin Makassar, mereka tiba di Surabaya.
"ibu...Assalamualaikum, ibu di mana?" sapa Tama kepada ibunya.
"ibu di rumah nak... lagi istirahat, ayah baru saja kembali ke Rumah sakit setelah pulang makan siang"
"hmmm...ya udah...Sampai jumpa ibu sayang...Tama lagi mau jalan nih..."
"Iya nak.... hati-hati di jalan"
setelah dari bandara mereka langsung ke rumah Orang Tua Tama dengan di jemput oleh Dika yang pulang lebih awal dari mereka berdua.
Kurang lebih tiga puluh menit, mereka tiba di sebuah rumah yang seperti istana.
dan hal ini membuat intan semakin gugup. saat Tama mau keluar dari Mobil, Ningrum menahannya.
"mas...iini rumah siapa?"
"rumah ibu..."jawab Tama singkat.
"mas...besar banget rumahnya. aku takut mas..." jawab Ningrum sambil terus menahan lengan Tama untuk tidak masuk ke dalam rumah.
"mas tak pernah cerita kalau rumah orang tua mas semegah ini. aku jadi merasa rendah diri untuk terus berada di sisimu mas" kata Ning sambil menunduk.
Tama melepaskan genggaman tangan Ning, dan dia berbalik menghadap Ning. "tidak apa-apa, ibu Insya Allah orangnya baik. Insya Allah dia pasti akan menerima kamu sebagai menantunya"
"sssttt...tenang, ada mas di sampingmu" pungkas Tama untuk menguatkan Ningrum.
dan akhirnya mereka pun melangkah ke dalam rumah besar itu.
Tama POV
Suasana tampak lengang, saat kami masuk ke dalam rumah. Ning menggenggam tanganku erat. seakan akan meminta kekuatan dariku. kurasakan tangannya berkeringat dingin, dan mukanya agak pucat.
"kamu duduk di sini dulu ya...mas mau ke kamat ibu dulu
~Bersambung~