Ketemu Mantan

1096 Kata
Pagi di kediaman Orang tua Tama di ruang makan mereka ber 4 makan dengan lahap tanpa suara. karena sang pemilik rumah tak menyukai jika ada perbincangan di atas meja makan. Setelah selesai makan, ibunya Tama mengarahkan pandangannya ke arah menantunya. "sayang...setelah ini kamu ganti baju, ibu tunggu kamu, kita akan ke butik" Ningrum mengangguk mengiyakan perintah ibu mertuanya. "kamu ikut bapak ke rumah sakit" kata bapaknya Tama "tidak!.putra ingin ikut sama ibu dan Ningrum pak..."tegas Tama. "jangan membantah. kau ikut bapak ke Rumah sakit" pungkas Tuan Rein yang tak di bantah lagi oleh Tama. karena Tama tau apapun yang dikatakan bapaknya tidak bisa di ganggu gugat apalagi kalau matanya sudah melotot. setelah keputusan Tuan Rein, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap keluar rumah denga aktifitas masing-masing. di kamar Tama "sayang..." manja Tama sambil memeluk manja istrinya yang sedang mencari gamis yang mau dipakainya untuk pergi bersama Lidya mertuanya. "pengen lagi..." sambil lebih mengeratkan pelukannya hidungnya mengendus-ngendus leher istrinya yang saat ini tidak memakai jilbab. "mas...nanti ya setelah mas kembali dari rumah sakit, dan kita sudah kembali ke rumah ya.... Aku takut ibu sama bapak nanti malah marah kalau kita berlama-lama di kamar." balas Ningrum sambil membalikkan tubuhnya dan mengelus wajah suami yang kayaknya pagi ini menginginkan sentuhannya. Ningrum menjinjit dan dikecupnya sejenak bibir suaminya. saat dia ingin melepaskan diri dari Tama, Tama malah menahan pinggangnya dengan sebelah tangannya dan tangannya yang lain menahan tengkuk Ningrum. dan kembali mereka saling melumat dan menghisap. setelah merasa kehilangan pasokan udara, Ningrum memukul pelan d**a Tama, Tama pun melepaskan kulumannya. "mas sudah...aku mau ganti baju dulu" kata Ningrum sambil melangkah. belum dua langkah Tama menghentikan langkahnya. "ganti bajunya di sini saja...ga usah ke kamar mandi yang..." Ningrum menggeleng-gelengkan kepalanya. ga nyangka suami yang sedingin kamar mayat bisa jadi manja banget kayak gini. Ningrum mengangguk, dan didepan mata suaminya dia melepas semua pakaiannya dengan risih. saat Tama akan mendekat Ningrum menahan Tama untuk tidak mendekat. "ets....jangan mendekat...tetap di situ saja" galak Ningrum. Tama menuruti istrinya dan tetap duduk diam sambil terus menatap istrinya yang lagi ganti baju. setelah selesai memakai gamisnya, Ningrum beranjak ke arah meja rias dan mulai memoles wajahnya denga mekup tipis. Matanya terbelalak saat dari balik kaca Ningrum bisa melihat suaminya melucuti setiap lembar pakaiannya sampai Tama telanjang bulat. Ningrum tertegun. ckckck bisa bisanya Tama membalas perbuatan Ningrum. Setelah selesai ganti baju, mereka turun ke bawa dengan wajah kesal Tama karena gairah yang tidak tersalurkan. masing-masing masuk kedalam mobil mereka dan menuju ke tempat tujuannya. Lidya dan Ningrum menuju butik untuk feeting baju pengantin, Rein menggunakan mobil sendiri di ikuti Tama dari belakng dengan menggunakan mobil Tama sendiri menuju Rumah sakit. Tama mulai bergelut dengan laporan-laporan mengenai Rumah sakitnya yang sudah di tinggalkan selama lebih dari setahun. sementara Rein entah kemana. Tak terasa waktu makan siang telah tiba. Ningrum dan Lidya setelah dari butik mereka menuju Rumah sakit. menemui suami masing-masing. Saat melangkah masuk ke loby Rumah sakit, Ningrum jalan di samping mertuanya. dan tangan Lidya menggenggam tangan Ningrum. banyak mata memperhatikan perilaku dua wanita cantik itu. Lidya dan Ningrum jadi perhatian baik bagi pengunjung Rumah sakit maupun karyawan Rumah sakit itu. mereka terkagum-kagum melihat kecantikan dua wanita yang jalan bergandengan tangan itu. sekilas Ningrum mendengar ada yang memanggil namanya. tapi dengan panggilan special. "Ningrat..." Ningrum memicingkan matanya. kayaknya cuman satu orang yang memanggilnya Ningrat. dia melepaskan tangan ibu mertuanya, diliriknya suara yang memanggil namanya dengan edisi spesial. Wajah ningrat terkesiap melihat wajah tampan yang sempat singgah di hatinya dulu. wajah tampan tubuh tegap yang terbungkus jas putih itu semakin membuat Ningrum melebarkan matanya. Ningrum mengatupkan tangannya didepan d**a, mengucapkan salam kepada sosok dokter yang pernah memporak-porandakan hatinya. dia masih tampan, bahkan semakin tampan di usianya yang sudah mulai matang. "Ningrat...yah ..ningrat...lama tak jumpa...ku kira bukan kamu tadi...kamu apa kabar?" sapa dokter Rama kepada Ningrum. "iya Ram...aku Ningrum, Alhamdulillah kabar baik. kamu kerja di sini?" "iya... sudah 4 tahun lebih setelah lulus aku praktek disini" tanpa mereka sadari ibu Lidya masih menunggu percakan menantunya dengan dokter Rama. salah satu dokter kandungan yang sangat terkenal di kota ini. bagaimana bisa mereka saling kenal ya?fikir Lidya dalam hati. Ningrum teringat mertertuanya... astaga...Ningrum menepuk jidatnya. sekitar lima menit dia asik berbincang dengan mantan kecengannya, sampai lupa dengan mertuanya. "Bu...maaf...Ning ketemu teman lama"Ning tertunduk "kamu kenal dokter Rama?"ninrum mengangguk "dokter Rama kenalan saya waktu di Manado, dulu kita praktek di Rumah sakit yang sama waktu Kuliah dulu." "ow...kalau masih mau ngobrol sama dokter Rama, ibu tinggal aja dulu, nanti kamu nyusul ke ruangan Putra" Ningrum menggeleng, dia tak mau ditinggalkan sendiri di rumah sakit yang sebesar ini. "Ram...aku duluan ya...kasian ibu sudah menunggu" Rama hanya bisa mengangguk dan membiarkan Ningrum jalan sambil degandeng istri pemilik Rumah Sakit ini. Rama penasaran ada hubungan apa antara istri pemilik Rumah sakit ini dengan wanita yang sejak dulu sampai sekarang masih menduduki tempat terindah Rama dalam hati. Ya...hingga detik ini Rama masih memendam rasa kepada Ningrum, Gadis mungil, yang sederhana, cantik namun baik hati. Rama mendesah dan setelah bayangan Ningrum dan ibu Lidya menghilang di balik pintu lift yang tertutup dia pun melanjutkan perjalanannya ke Ruang prakteknya. Di dalam lift Ningrum termenung... berarti orang yang ditunggu kedatangannya selama ini ternyata ada di Surabaya. pantas saja dia seperti menghilang ditelan bumi. sela Ningrum dalam hati. karena asik dengan lamunannya, tanpa di sadarinya Pintu lift berhenti dan membuka. Mereka melangkah, dengan santai ke arah ruangannya Tama... Tanpa mengetuk Lidya membuka ruangan anaknya. d mereka tersenyum melihat Tama yang sedang berkutat dengan berkas-berkasnya. "ehm... rajin bener anak ibu ini..." Tama mengangkat wajahnya, Diah tersenyum menyaksikan kedua wanita cantik yang ada di hatinya itu berada di ruangannya. "waduh...siapa bidadari yang datang berkunjung ke tempatku...mataku silau dengan kecantikan keduanya..." Rayu Tama sambil mendekat kepada kedua wanita cantik yang sedang tersenyum ke arahnya. dikecupnya tangan ibunya kemudian dia beralih ke istrinya. di tangkupnya wajah istrinya dan dikecup sebentar bibir yang merekah itu. kalau tidak ada ibunya pasti sudah dia bawa masuk ke dalam ruang pribadinya. Lidya menjewer kuping anaknya... "eh...eh...dasar anak gila...main nyosor aja. " "ampun Bu...ampun...apa salahnya sih mengecup bibir istri...kan halal Bu..." sungut Tama sambil mengusap-ngusap telinga yang tadi di jewer ibunya. "gimana...sudah menemukan gaun yang indah untuk resepsi kita?" sapa Tama sambil merangkul pinggang istrinya. "sudah mas..." timpal Ningrum. "sekarang kami mau makan siang, Put...pesenin makanan dong, ajak bapak juga makan di ruangan ini saja" kata ibu yang diangguki oleh Tama. Tama menelepon asistennya untuk menyediakan makanan siang orang-orang tercintanya. dan mereka ngobrol sampai terdengar suara pintu dibuka, dan Bapak menyunggingkan senyum menatap istrinya. dan setelahnya makan siang yang mereka pesanpun tiba. mereka makan seperti biasa tanpa suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN