Rehan Aditya Aku baru saja sampai di rumah setelah mengantar Nanda pulang lebih dulu. Penat dan lelah berbaur menjadi satu. Bang Ridan berada di sampingku sembari memainkan ponsel. Menggenakan kaos dalam putih dan sarung kotak-kotak, persis Bapak-bapak galak yang sering nongol di film-film. Kopi hitam di atas meja nampak masih mengepul dan utuh. Tak ada tanda sudah di sentuh apalagi di minum. Jam segini, Mbak Tika biasanya sudah ikut tidur bersama Riri. Tapi malamnya dia pasti bangun untuk menemani Bang Ridan, melakukan aktifitas yang ... Ahhh sudahlah. Jadi ... aku sudah berhari-hari berada dalam pilihan antara bicara atau tidak pada Bang Ridan. Bicara yang ku maksud adalah mengenai rencanaku untuk menikah dengan Nanda dalam waktu dekat ini. Aku berada dalam tanggung jawab besar kar

