Ananda Rhea Prahadi Aku menyerahkan segalanya begitu saja pada pria ini. Bagaimana kalau Orang tuaku tahu? Rasa getir menerpa. Tanpa sadar air mataku kembali meleleh. Otakku buntu banget. Semua sudah terjadi, dan apa yang harus ku sesali. Semua terjadi atas kesadaranku, aku sudah diberi kesempatan untuk menolak, atau pergi menjauh dan bermain aman. Tapi aku memilih berada di jalur bahaya bersamanya. Aku bangun perlahan, melepaskan tangannya. Sembari memegangi selimut aku bermaksud menuju ke kamar mandi. Rehan ikut bangun dan menahanku lebih dulu. "Aku harus ke kamar mandi." Rasa nyeri semakin menjadi saat kakiku menyentuh lantai, padahal tubuhku masih terduduk di ranjang. Aku meringis menggigit bibir menahan perih yang mencekit diantara kedua kakiku. Lalu merasa lucu saat tak sengaja

