Ananda Rhea Prahadi Perlahan lahan pertahananku mulai runtuh. Air mataku mulai jatuh sedikit demi sedikit. Allan beberapa kali menendang udara di sekitarnya. Ia pasti ingin sekali melampiaskan rasa kesalnya, tapi juga nggak ingin membuat keributan. "Ya Tuhan. Hatiku sakit. Kenapa aku bisa secinta ini sama kamu De. Kenapa aku harus naruh hati sama kamu." "Maaf kak," ucapku lirih. "Nggak ada gunanya De. Maafmu itu nggk akan bisa mengganti hatiku yang hancur ini." Untuk terakhir kalinya aku melihat wajah Allan yang memalingkan pandangannya. Dia pergi begitu saja, meninggalkanku sendirian. Hatiku memaksa agar aku kembali padanya, juga mencegahnya pergi. Tapi langkah dan suaraku terasa amat berat. Perlahan tubuhku jatuh ke lantai, berjongkok sembari memeluk lutut. Ini salah nggak sih? I

