Rehan Aditya Aku berjalan menuju rumah, setelah memarkirkan mobil di garasi yang berada di samping bengkel. Malam belum terlalu larut, tapi hatiku terasa kalang kabut. Setelah mengantar Nanda pulang aku juga bergegas kembali ke rumah. Tak ada keinginan lagi untuk menjelajah, yang ada di dalam otakku sekarang hanyalah kamar dan tempat tidur. Selama di perjalanan dia tak melihat padaku. Aku berusaha keras mengajaknya bicara di luar topik masalah kami. Agar setidaknya ada komunikasi yang tercipta, bukan hanya bengong seperti bersama makhluk halus. Tapi dia hanya menanggapi seadanya. Sulit sekali membuat gadisku itu tersenyum. Padahal aku yang biasanya tak pernah bicara ini mendadak jadi bawel, menyaingi ocehannya setiap hari. Kenapa menghibur Nanda ini jadi lebih sulit daripada menemukan

