Lengkingan suara Bella yang cempreng membuat Ares mengurungkan niat mulianya. Ia tidak menyahuti teriakan itu. Daripada situasi semakin buruk, Ares pun hengkang setelah meletakkan s**u coklat hangat di samping pintu. Jidatnya berkerut karena sebal dengan sikap Bella.
Sungguh gadis tidak tahu diri.
Ingin rasanya Ares meneriakkan itu tepat di lubang telinga Bella. Kalau saja Ares tidak ingat kalau gadis itu habis mengalami peristiwa traumatis, ia pasti sudah meluapkan semuanya. Ah, sudahlah. Daripada ia terus memikirkan Bella yang kurang ajar, lebih baik ia menghubungi Anya.
Tentang Anya… jujur, sudah seharian ia tidak menghubungi kekasihnya itu. Anya pun tidak menghubunginya. Tapi Ares tidak berpikir buruk. Gadis itu pasti sedang sibuk dengan jadwal kerjanya. Begitu sibuk sampai-sampai rasa rindu Ares menumpuk sangat tinggi. Cepat-cepat ia mencari ponsel keduanya di tas (dalam kamar tidur). Setelah itu jarinya bergerak lincah, mengetik pesan untuk sang pujaan hati.
Ares : Malem bidadarinya Ares. Sibuk banget ya sampe lupa kangenin aku.
Baru saja akan meletakkan ponsel, benda itu bergetar. Nama Anya di layar membuat senyum Ares terkembang.
Anya : Ih, nggak lupa kok. Baru aja aku mau ngetik pesan buat kamu. Kayaknya kita emang jodoh deh sampe bisa telepati gini.
Balasan konyol Anya melelehkan hati Ares. Ia kembali mengetik pesan, tentu saja sembari bersyukur dalam hati. Ares sangat bersyukur bisa mendapatkan gadis secantik dan sebaik Anya. Banyak artis lain yang mengincar Anya, tapi Ares lah yang beruntung. Terang saja Ares tidak ingin kehilangan Anya. Ia sangat mencintai gadis itu.
Ares : Bisa video call nggak, Sayang?
Ares sudah bersiap menekan icon video call ketika balasan dari Anya datang.
Anya : Aku capek banget, Yang. Mau bobok. Gpp kan?
Desahan kecewa Ares terdengar. Ia tidak akan memaksa Anya jika gadis itu tidak mau. Ares bukan pemuda egois. Ia paham, Anya pasti sangat lelah dengan jadwal pekerjaannya.
Ares : Gapapa. Kamu istrahat ya. Nice dream ya Sayang. Love you.
Anya : Love you more….
Ares meletakkan kembali ponselnya di tas. Ia berencana untuk langsung tidur karena harus bangun pagi buta untuk syuting. Mulutnya menguap perlahan, setelah itu ia bergerak mematikan lampu kamar.
“Anjir! Siapa sih yang naroh gelas di sini?!”
Lolongan Bella memusnahkan niatnya. Ares keluar kamar dengan emosi yang nyaris pecah. Nyaris karena Bella lebih dulu memandangnya dengan sangat galak. Gadis itu menodongkan telunjuk ke arah wajahnya.
“Lo yang naroh gelas di sini?!” tuduh Bella.
Bukannya menjawab, Ares hanya melihat kaki Bella dan lantai yang sudah basah oleh s**u coklat. Ares baru sadar kalau ia sudah melakukan hal bodoh. Untuk apa ia meletakkan gelas s**u di dekat pintu? Hhh, ternyata kelelahan benar-benar membuatnya kehilangan fokus.
“Kok malah bengong sih?! Lo kan yang naroh gelasnya di sini?!” desak Bella semakin jengkel.
Ares masih tidak menjawab. Ia justru berjalan menjauh, lalu mendekati Bella dengan satu kotak tisu. Dengan wajah datar, ia menyodorkan tisu pada Bella sembari bertanya, “Kenapa lo tendang gelasnya?”
Sontak Bella melotot.
“Siapa yang nendang anjir?!”
“Itu tumpah semua,” sahut Ares sekenanya.
“Ya mana gue tau lo naruh s**u di sini! Motivasi lo apa sih naruh s**u di deket pintu?! Muka elit, mikir sulit! Lo kuliah cuma sampe gerbang?!”
Mendadak raut wajah Ares mengeras. Ia menarik kembali kotak tisu hingga Bella hanya meraih udara. Tingkah tak terduga itu membuat Bella semakin kesal. Bella berencana untuk meluncurkan kalimat j*****m lagi. Tapi kalimat itu tertelan lagi saat melihat perubahan ekspresi Ares yang terlalu drastis.
Suasana antara Bella dan Ares terasa dingin. Keduanya bertatapan, bukan dengan sorot mata penuh cinta. Ares mempersembahkan tatapan dingin sekaligus marah. Sementara itu, ekspresi Bella berubah dari marah ke membeku bingung.
“Nggak semua orang seberuntung lo.”
Hanya itu yang Ares ucapkan. Ia meraih tangan Bella, lalu menyerahkan kotak tisu itu. Bella masih kebingungan, tapi ia tidak berusaha bertanya atau menahan kepergian Ares yang kembali ke kamarnya.
“Dia kenapa sih. Aneh banget….”
Bella bermonolog sambil membersihkan tumpahan s**u di lantai dan kakinya. Sambil mengeringkan kaki, ia memikirkan kembali ucapan Ares tadi.
“Nggak semua orang seberuntung lo.”
Kalimat itu terngiang lagi. Gerakan tangan Bella terhenti. Ia bengong.
“Maksudnya apa? Ares nggak kuliah gitu?” tebak Bella kembali bermonolog. Ia memandangi tumpahan s**u di lantai, lalu kembali membersihkannya sambil menggumam. “Kalo dia emang nggak kuliah juga gapapa sih. Sensi banget jadi cowok. Gitu doang marah. Hih!”
Yeah, Bella memang hanya bisa berasumsi dari yang sebatas ia tahu.
Sepertinya Bella lupa kalau ia belum mengenal Ares sedalam itu. Ia hanya tahu tentang hal yang ingin ia tahu. Ia bahkan belum pernah bertemu dengan orangtua Ares. Pernikahan mereka pun terjadi tanpa sepengetahuan orangtua Ares. Lucu dan menyedihkan memang.
Namun Bella masih terlalu kekanakan untuk melihat segalanya lebih dekat. Ego dan obsesinya pada Ares membuat logikanya cukup tersendat. Bella mungkin sangat ahli mengatur strategi untuk menjebak Ares. Tapi di sisi lain, Bella bodoh. Ia lupa kalau pernikahan itu bukan hanya tentang sepasang manusia, tapi juga tentang mempersatukan dua keluarga.
***
Pagi agak kesiangan Bella dikejutkan oleh getaran ponsel yang terasa berulang kali. Bella membuka matanya dengan susah payah sambil meraih ponsel di dekat bantal. Keningnya mengernyit melihat notifikasi pesan dari Nala.
Nala : Bel! Lo di mana?! Kok belum balik?!
Nala : Lo aman kan?
Nala : Kata Farrel, lo balik sama cowok lo. Siapa maksudnya?
Nala : Wait, bukan Ares kan?
Bella mengucek matanya. Yang itu tadi adalah pesan dari Nala semalam. Ternyata Nala mengkhawatirkannya semalaman. Hehehe, cute. Kemudian Bella menggulirkan lagi layar untuk membaca spam chat terbaru dari Nala.
Nala : Bellaaaaa! Bangun!
Nala : Lo udah bangun belum?!
Nala : Heh! Angkat telpon gue!
Nala : Anjir, masih tidur lo????
Nala : Bel! Plis reply chat gue, buruan!
Nala : Lo tidur apa mati sih?! Bangun woy! Penting!
Kedua alis Bella nyaris bertaut membacanya. Nala hampir tidak pernah begitu, jadi bisa dipastikan ada masalah serius dan sangat penting. Tanpa pikir panjang, Bella pun melakukan panggilan suara ke nomor handphone Nala.
“Bel! Gila lo! Akhirnya bangun juga!” kata Nala begitu panggilan tersambung.
“Kenapa sih? Penting banget kayaknya.”
“Sumpah ini penting banget! Ini tentang nama baik lo!” sambar Nala berapi-api.
Seketika mata Bella terasa segar meskipun tubuhnya masih dalam horizontal saving energy mode alias berbaring.
“Ya udah, buruan cerita!”
“Semalem lo sama Farrel ngapain?” todong Nala to the point.
“Nonton konserlah. Aneh banget pertanyaan lo.”
“Nggak! Nggak! Bukan yang itu!” tepis Nala buru-buru merevisi ucapannya. “Maksud gue, habis konser tuh kalian ngapain?! Jujur deh sama gue!”
Bella berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. “Farrel sakit perut. Terus dia booking hotel buat numpang poop. Udah, gitu doang.”
“Yakin? Yakin gitu doang?” desak Nala masih belum puas.
Tiba-tiba Bella terdiam. Tentu ia masih mengingat tragedi ciuman tanpa sengaja dan pemaksaan di mobil Farrel. Jujur, ia tidak ingin mengingatnya dan akan menganggapnya sebuah kekhilafan Farrel. Tapi setelah dipikir-pikir, berat juga kalau harus menyimpannya sendirian. Akhirnya Bella menarik napas panjang.
“Farrel nggak sengaja cium gue,” aku Bella jujur.
“Kok bisa?!” Nada bicara Nala semakin tinggi.
“Dia kepleset. Terus nggak sengaja kena gue. Gitu doang.”
“Ugh! Gila! Udah gila tuh orang!” Umpatan Nala meluncur dengan lancar.
“Lo ngespam chat bilang penting cuma buat kayak gini?” selidik Bella.
“Cuma?!” tanya Nala tidak percaya. “Lo denger nggak tadi gue bilang apa? Ini tentang nama baik lo!”
“Uhm… so???” Bella masih tidak bisa menebak arah pembicaraan Nala.
“Foto ciuman lo sama Farrel kesebar!”
“Hah?!”