“Ini masih Jakarta. Terserah gue lah mau ke mana aja,” balas Ares datar. Ia memperhatikan penampilan Bella yang cukup berantakan. “Lo habis ngapain di hotel? Open BO?”
Mata bening Bella melotot. “Anjing lo ya! Mulut lo kenapa jahat banget sih?!”
Di saat Ares akan meladeni ucapan kasar Bella, perhatiannya teralih pada Farrel yang turun dari mobil. Ares memandangi Farrel dengan tatapan penuh penilaian sekaligus kesal. Ia kesal bukan karena cemburu. Untuk apa ia cemburu pada Bella?! Ia kesal karena Farrel sepertinya melakukan sesuatu pada Bella. Jika tidak, mustahil Bella berlari keluar mobil seperti sedang kabur dari penjahat.
“Kak Bella,” panggil Farrel dengan tangan terjulur hendak menyentuh gadis itu.
Seketika Ares menahannya. Ia menatap Farrel dengan tajam.
“Siapa lo?” tanya Ares dengan tatapan mengintimidasi.
“Lo siapa?” Farrel justru balik bertanya.
“Gue cowoknya.”
Jawaban tegas Ares membuat mata Bella membelalak dan rahangnya menganga, seolah akan jatuh ke tanah. Tidak hanya Bella, bahkan Farrel pun tidak kalah terkejut. Untuk beberapa detik, Farrel terpaku tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Ares menggunakan kesempatan itu. Ia menghempaskan tangan Farrel, lalu menyeret Bella menuju mobil yang ia parkir tidak jauh dari sana. Bella terseok-seok mengikuti langkah lebar Ares hingga nyaris jatuh. Namun Ares tidak peduli. Ia terus memaksa gadis itu berjalan.
“Masuk,” perintah Ares tegas.
Bella tidak melawan meskipun wajahnya masam tak terkira. Tapi percayalah, di balik masamnya wajah itu… ada hati yang berbunga-bunga karena pengakuan Ares tadi. Isn’t it too fast? Bella pikir, momen ini datang terlalu cepat. Seingatnya, di film – sinetron – novel ceritanya tidak secepat ini. Apa betul Ares sudah jatuh cinta padanya? Jika iya, wow, ia tidak perlu berusaha lebih keras lagi. Ternyata semudah itu membuat Ares menyukainya.
Setelah meminta Bella masuk mobil, Ares bergegas menyusul. Ketika duduk di kursi kemudi, ia sempat melirik pada Farrel yang berjalan cepat menghampiri mobilnya.
“Sialan, masih aja mau nyusul,” gerutu Ares.
“Aduh!” Bella menepuk jidat.
“Kenapa lo?”
“Tas gue masih di mobilnya Farrel,” sahut Bella pelan.
Ares menarik napas panjang. Ia keluar lagi dari mobil, lalu melangkah menghampiri Farrel. Si adik tingkat Bella itu terlihat masih tidak terima dengan perkataan Ares tadi. Dengan raut wajah marah sekaligus penasaran, ia menghalangi langkah Ares.
“Lo bener cowoknya Kak Bella?” tanya Farrel.
“Iya,” jawab Ares singkat. Ia mengarahkan dagu ke mobil Farrel sembari berkata, “Gue mau ambil tas Bella di mobil lo.”
“Lo nggak usah ngaku-ngaku. Kak Bella nggak pernah bilang punya pacar.”
“Bella nggak perlu mengumumkan ke seluruh dunia kalau dia punya cowok.”
“Nggak! Nggak! Lo pasti bohong!”
Ares tersenyum hambar. “Kenapa? Gue kegantengan buat Bella?”
“Anjir!” Sontak Farrel mengumpat sinis. “Kepedean banget lo.”
“Ya, terserah. Gue mau ambil tasnya Bella,” ucap Ares malas. Ia menengadahkan tangan. “Mana tasnya?”
Farrel menepis tangan Ares dengan kasar. “Mana Kak Bella?”
“Ngapain lo cari Bella? Kasih aja tasnya,” komentar Ares mulai jengkel lagi.
“Gue nggak percaya sama lo. Gue mau ngomong sama Kak Bella!” desak Farrel merangsek menuju mobil Ares.
Baru satu langkah, Ares mencengkeram tangannya dengan kuat. Langkah Farrel terhenti. Ia berbalik dengan geraman marah. Sayangnya geraman itu tidak menciutkan nyali Ares.
“Lo habis ngapain sama Bella? Kenapa Bella sampe ketakutan?” selidik Ares tajam.
“Bukan urusan lo.”
Sorot mata Ares semakin tajam. “Gue cowoknya. Apapun yang mengancam keselamatan Bella, gue harus tau. Kalau lo emang nggak ngapa-ngapain Bella, harusnya lo bisa jawab pertanyaan gue.”
Rahang Farrel mengeras. Tiba-tiba ia menepis kasar tangan Ares dari tubuhnya. Ia berputar haluan. Langkahnya urung menuju mobil Ares, tapi kali ini ia kembali ke mobilnya sendiri. Beberapa saat kemudian, ia menenteng tas Bella dan menyerahkannya dengan kasar pada Ares.
“Lo jangan deketin cewek gue lagi,” titah Ares langsung melenggang pergi sebelum Farrel sempat menyahut.
Jujur, Farrel ingin mengumpat sekasar-kasarnya. Ia memang menyukai Bella. Tapi Bella tidak pernah bilang kalau sudah punya kekasih. Lagipula Bella tidak menolak ajakannya. It takes two to tango, bukan? Ini bukan 100% kesalahannya, tapi Bella juga salah.
Atau jangan-jangan… Bella tidak bahagia bersama Ares?
Dugaan demi dugaan muncul dalam kepala Farrel. Jika prasangkanya betul, maka ia harus menyelamatkan Bella dari hubungan yang tidak bahagia itu.
Farrel mengepalkan tangan dengan tiba-tiba.
“Oke. Gue harus berjuang dapetin Kak Bella dan bikin dia lebih bahagia.”
***
Tadi di sepanjang jalan, Ares dan Bella tidak saling berbicara. Ares kelihatannya malas dengan drama malam itu. Sementara itu, Bella masih bingung dengan perasaannya sendiri. Ia masih cukup terkejut dengan apa yang telah terjadi.
Namun semua berubah ketika pintu apartemen ditutup dan Bella meletakkan bokongnya di sofa empuk. Ares duduk jauh darinya sambil mengoceh.
“Lo jangan ge-er. Gue cuma mau selametin lo. Sampai kapan pun, hubungan kita cuma settingan.”
Dalam sekejap, Ares berhasil menghancurkan kebahagiaan di hati Bella. Padahal tadi Bella sudah berniat bersikap manis. Namun si b******k itu berhasil merusak niat mulianya yang telah disusun rapi. Alhasil, raut wajah Bella mulai masam lagi. Ia mendengus sinis.
“Ge-er? Kenapa gue harus ge-er? Terlepas dari gue ini istri jadi-jadian lo, lo tetep harus nyelametin gue dalam konteks kemanusiaan. Terus buat gue harus kepedean gara-gara itu? Lo cuma memenuhi kewajiban sebagai manusia dan sebagai laki-laki yang melindungi perempuan.”
Ares tersenyum miring. “Pinter juga lo.”
“Gue nggak akan jadi asisten dosen tanpa alasan, Ares.”
“Oh, lo asdos? Not bad lah ya. Seenggaknya otak lo masih ada isinya.”
Balasan Ares semakin mengusik kesabaran Bella yang setipis tisu. Tapi di titik ini, Bella merasa terlalu lelah untuk marah-marah. Ia justru memikirkan hal lain. Kenapa Ares bisa tiba-tiba muncul bak pahlawan di sinetron-sinetron?
“Terserah lo deh. Capek gue ngomong sama corong minyak jelantah.”
“Lo tuh udah diselametin. Seenggaknya bilang makasih kek.”
“Ngarep banget ucapan makasih dari gue?” balas Bella sinis.
“Nggak juga sih. Lo bilang makasih juga nggak akan bikin gue dapet duit satu triliun.”
Bella menarik napas panjang-panjang. Biasanya ia akan meladeni debat kusir itu dengan berapi-api dan penuh emosi. Namun malam ini, ia sudah terlalu lelah. Ia pikir, ia akan baik-baik saja setelah tragedi di mobil. Ternyata ia salah. Ia cukup trauma dengan itu. Mungkin bukan trauma yang besar, tapi tetap saja ia merasa tidak baik-baik saja.
Mengabaikan ucapan terakhir Ares, Bella bangkit dan berjalan lesu menuju kamarnya. Kedua mata Ares mengikuti sosok Bella hingga menghilang di balik pintu. Melihat sikap aneh Bella, tiba-tiba Ares merasa bersalah.
Pada dasarnya, Ares memang orang baik dan selalu memikirkan orang lain. Di depan Bella, mungkin sisi baik itu menguap bersama dengan pertengkaran yang mereka ciptakan. Tapi orang baik tetaplah orang baik. Ares tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia mengkhawatirkan Bella.
Perasaan bersalah itu membuat Ares bergegas menuju dapur dan membuatkan segelas s**u coklat hangat untuk Bella. Dengan hati-hati, ia mengetuk pintu kamar Bella.
“Bel,” panggil Ares pelan.
Tidak ada jawaban.
“Bella.”
Masih hening.
Ares tidak menyerah. Sekali lagi, ia mengetuk pintu kamar Bella. “Bella, bisa bukain pintunya?”
“Gue mau sendiri!!!”