“Anjir! Seru banget konsernya! Gila!” Bella berjingkrak kegirangan di tengah keramaian.
“Kak, mau ke depan nggak?” tanya Farrel.
“Nggak ah. Di sini aja. Nggak sumpek,” tolak Bella sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah panggung.
Gadis itu merekam video berdurasi 15 detik, lalu mengunggahnya ke sosial media. Entah kenapa, Farrel terlihat masam dengan sikap Bella.
“Aku nggak di-mention?” protes Farrel.
“Nggak.”
“Kenapa? Kan mau aku repost ke instastory aku.”
“Ya bikin aja story sendiri,” balas Bella tidak menoleh sama sekali pada Farrel.
Wajah Farrel semakin tertekuk sebal. Ujung-ujungnya, ia mengambil ponsel, memotret, dan mengunggahnya ke i********:. Bedanya, kali ini ia terang-terangan menyebut nama akun i********: Bella di story-nya. Oh ya, lengkap dengan simbol hati yang sangat menggemaskan.
Waktu terus berjalan. Hiruk pikuk konser semakin memanas menjelang akhir. Sebagian orang ikut bernyanyi bersama penyanyi aslinya. Sebagian lagi sibuk mengabadikan momen. Bella dan Farrel ada di barisan ikut bernyanyi dengan penuh penghayatan. Tak terasa, tiba juga di penghujung acara. Di saat penyanyi kesukaan Bella itu tengah memberikan kata-kata penutup, tiba-tiba Farrel memegangi perutnya. Wajah manisnya mendadak meringis menahan sakit.
“Kak Bell,” panggil Farrel menyentuh lengan Bella.
“Apa?” Bella tetap tidak menoleh padanya.
“Perutku sakit.”
“Ke toilet.”
“Pasti ngantri banget, Kak….”
Bella menarik napas panjang. Akhirnya ia memandang Farrel. “Ya udah, ayo balik. Udah mau kelar juga.”
“Nggak apa-apa emang?” tanya Farrel masih meringis kesakitan.
“Iya,” angguk Bela. “Ayo balik.”
Sebuah keputusan yang cukup berat bagi Bella mengingat ia sangat menyukai konser itu. Tapi ia masih waras. Segila-gilanya Bella, ia masih punya hati untuk tidak membiarkan adik tingkatnya kesakitan. Ia pun berbalik dan melangkah meninggalkan venue konser dengan berat hati. Di sampingnya, Farrel berjalan sambil memegangi perut dan berusaha mengimbangi langkah cepat Bella.
“Kalo kamu masih sakit perut, biar aku aja yang nyetir,” kata Bella dengan nada lunak.
“Nggak usah, Kak. Biar aku aja.”
“Bener?”
“Iya,” angguk Farrel yakin meskipun wajahnya tidak bisa berdusta. Ia membuka kunci pintu mobilnya dengan lemas.
“Tapi kamu sakit banget gitu kayaknya,” tukas Bella masih tidak yakin. Ia menjulurkan tangan, “Siniin kunci mobilnya.”
Farrel menggeleng kuat. “Nggak. Aku aja yang nyetir. Beneran.”
“Ntar kalo lo nabrak gimana?”
“Ya palingan kita masuk rumah sakit bareng.”
Spontan Bella melotot.
“Gue belum mau mati!” oceh Bella sebal.
“Tuh kan, gue elo lagi. Jangan gitu, Kak. Ntar perutku tambah sakit,” oceh Farrel dengan bibir mengerucut manja.
Bella memutar bola matanya dengan malas. Tangannya masih terjulur.
“Biar aku aja. Aku mau cari toilet juga,” sambung Farrel berusaha tersenyum agar Bella yakin bahwa ia baik-baik saja. Sebelum Bella mengoceh lagi, ia melanjutkan, “Ayo buruan naik. Keburu makin-makin sakit perutnya.”
Farrel mendorong Bella. Memaksa gadis itu masuk ke dalam mobil. Mau tidak mau Bella pun mengikuti permintaan Farrel. Kalau tidak, bisa-bisa pertahanan Farrel jebol di jalan.
“Udah? Duduk manis sekarang ya, Kak. Aku keburu kebobolan nih.”
“Hamil kali kebobolan.” Bella menyahut asal-asalan.
Farrel sudah tidak terlalu peduli lagi dengan aksi protes Bella. Perutnya sudah terlalu sakit. Dengan wajah meringis menahan sakit, akhirnya Farrel pun melajukan mobil dan meninggalkan tempat konser itu.
Farrel tidak tahu akan berhenti di mana. Namun saat melihat hotel yang berada dekat dengan venue konser, spontan wajah itu pun semringah. Dengan cepat ia berbelok arah menuju hotel itu. Kening Bella mengernyit melihat Farrel dan memasuki kompleks hotel.
“Lo mau poop di sini?” heran Bella.
“Iya.”
“Hah? Serius lo?”
“Iya. Biar enak nggak perlu antri-antri. Nggak perlu takut bersih atau enggaknya.”
Bella tidak berkata-kata lagi. Keduanya pun turun dari mobil dan memasuki lobi hotel. Sementara Farrel memesan kamar, Bella duduk manis di sofa. Ia tidak berniat sedikit pun untuk ikut Farrel masuk ke kamar.
“Kak? Nggak ikut?” tanya Farrel.
“Nggak. Gue tunggu di sini aja.”
“Oke.” Farrel tidak mengatakan apa pun dan segera memasuki lift.
Kepergian Farrel hanya diikuti oleh pandangan Bella yang berharap pemuda itu segera menuntaskan hajatnya. Jika tidak, Bella akan memesan taksi dan pulan sendiri. Ia tidak mau diam duduk seperti orang bodoh. Menunggu untuk seorang adik tingkat bodoh yang sedang buang air besar. Sangat tidak elegan!
Sepuluh menit berlalu. Bella masih duduk diam sembari bermain game di ponsel. Mendadak notifikasi ponselnya berbunyi. Sebuah pop up pesan terlihat di layar ponsel. Bella hanya menghela napas, lalu melangkah menuju lift.
“Hadeh, ngrepotin banget dah manusia sebiji itu,” oceh Bella sebal.
Baru saja Farrel mengirim pesan, ia meminta Bella mengambilkan pakaian di mobil. Masalahnya, kunci mobil dibawa oleh Farrel. Mau tidak mau, Bella pun harus ke kamar hotel yang dipesan oleh Farrel. Meskipun kesal, tapi Bella tetap mengikuti permintaan pemuda itu.
“Rel, bukain pintu,” kata Bella sambil mengetuk pintu.
Tak berapa lama kemudian, Farrel pun membuka pintu hanya dengan mengenakan bathrobe. Pemuda itu meringis.
“Baju kamu kenapa? Kok bisa basah?” tanya Bella sedikit ketus.
“Kena air.”
“Ya iyalah kena air! Masa kena api!” sambar Bella gregetan.
Ia pun memasuki kamar itu. Farrel menutup pintu. Bella menjulurkan tangan.
“Mana kunci mobilnya?”
“Di meja,” jawab Farrel melangkah ke arah meja, lalu diikuti oleh Bella.
Farrel menyambar kunci di meja. Segera ia menyerahkan kunci itu pada Bella. Sang gadis pun menerima dengan wajah judes. Segera Bella meninggalkan ruangan itu untuk mengambil baju di mobil Farrel. Selang beberapa menit kemudian, gadis itu kembali lagi dengan setelan pakaian bersih.
“Nih. Kamu mau ganti baju di sini atau di kamar mandi? Kalo di sini, aku keluar aja,” kata Bella sambil meletakkan pakaian di ranjang.
Bersamaan dengan itu, Farrel keluar dari kamar mandi hotel. Ia berjalan ke arah Bella dengan langkah yang cukup lesu. Kening Bella mengernyit.
“Sakit lagi perutnya?” tanya Bella.
Belum sempat Farrel menjawab, tiba-tiba pemuda itu menginjak sandalnya sendiri dan…
“Aaakk!”
Brukkk!
Ia jatuh menimpa Bella di atas ranjang. Bella melotot dengan tatapan tidak percaya. Bukan masalah jatuhnya Farrel di atas tubuhnya. Tapi masalahnya… sekarang bibir mereka bertemu!
“Farrellll!!!!” teriak Bella murka sambil mendorong si adik tingkatnya menjauh.
“Maaf, Kak. Nggak sengaja….”
Bella kehabisan kata. Ia hanya bisa memandangi Farrel dengan sorot mata sebal, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tahu betul, Farrel tidak sengaja. Tidak mungkin ia menampar Farrel yang sedang sakit. Sialan! Dalam keheningan, Bella berusaha menurunkan amarahnya.
“Kamu ganti baju. Aku tunggu di mobil,” ucap Bella berlalu begitu saja.
Farrel hanya bisa memandangi kepergian Bella dengan wajah sedih. Ia menghela napas. Begitu pintu kamar hotel tertutup, ia melonjak bangkit dan menyambar ponsel. Tangannya gemetaran. Dengan gugup, ia mematikan rekaman video dan mengecek hasilnya.
Ekspresi gugup itu berubah seketika menjadi sebuah ekspresi penuh senyum puas. Ia mengambil tangkapan layar video itu, khusus di adegan ciumannya dengan Bella. Puas dengan hasilnya, ia segera mengirim foto itu ke grupnya.
Farrel: Dare dari gue kelar. Siapa yang kemaren janjiin duit kalo gue berani? Sini lo pada bayar ke gue.
Pesan dan foto itu terkirim. Percaya diri sekali Farrel mengirim foto itu. Ia yakin sekali, teman-temannya bisa menjaga rahasia. Ia yakin foto itu tidak akan tersebar keluar. Setidaknya itu keyakinannya saat ini.
Cepat-cepat Farrel mengganti pakaiannya. Ia tidak mau Bella menunggu lebih lama lagi. Ia tahu Bella baik. Tapi mood gadis itu sangat sulit ditebak. Di antara semua gadis, Bella lah yang membuat Farrel tertantang. Bella itu baik dan pintar. Kadang gadis itu terlihat mudah ditaklukan. Tapi jangan salah… mood-nya bisa berubah drastis. Dalam sekejap, Bella bisa berubah menjadi nenek sihir yang menakutkan (tapi masih tetap cantik menawan). Itulah Bella menurut versi Farrel.
Farrel melangkah keluar lobi diiringi oleh tatapan keheranan resepsionis. Mungkin resepsionis itu berpikir, untuk apa orang itu membayar kamar kalau hanya digunakan kurang dari satu jam?
“Sorry lama, Kak,” kata Farrel begitu memasuki mobil.
Bella malas menyahut.
“Kamu marah?” Farrel bertanya hati-hati.
Bella masih membisu. Tanpa berpikir panjang, Farrel menyentuh tangan Bella. Secepat kilat Bella menarik tangannya dari sentuhan Farrel.
“Ngomong aja. Tangannya nggak usah ke mana-mana,” oceh Bella dingin.
“Maaf.”
“Anterin gue pulang.”
Farrel menarik napas panjang. Ia menatap Bella lekat. “Kak, kamu nyadar nggak sih? Aku tuh suka sama kamu.”
“Nyadar,” jawab Bella singkat.
“Berarti kita jadian?” tanya Farrel polos.
Bella mendengus pelan. Akhirnya ia menatap Farrel. “Semudah itu? Kita cuma jalan biasa sebagai kaka tingkat dan adik tingkat.”
Hati Farrel mencelos. “Kita udah nonton bareng. Udah ciuman juga. Semua itu nggak ada artinya buat kamu?”
“Ya ampun, Farrel. Kita cuma nonton konser bareng. Nggak ada yang istimewa. Lagian yang tadi bukan ciuman. It’s an accident. Ok?” cerocos Bella mulai kesal. “Sekarang anter aku balik.”
Kalimat panjang lebar Bella tidak membuat Farrel patuh. Pemuda itu diam saja di kursi kemudi. Lalu tiba-tiba ia menggenggam tangan Bella dan menarik gadis itu ke pelukannya. Sangat memaksa sehingga Bella terkejut setengah mati.
“Farrel! Lo kenapa sih?!”
Pemuda itu tidak peduli. Pelukannya justru semakin kuat. “Gimana caranya biar kamu jatuh cinta sama aku?”
“Nggak ada! Lepasin gue!” pinta Bella meronta.
“Nggak mau.”
“Farrel!”
Susah payah Bella meloloskan diri dari dekapan pemuda itu. Tapi nihil. Farrel benar-benar membuatnya terkunci. Tapi bukan Bella namanya jika menyerah begitu saja. Dengan brutal, ia menggigit bahu Farrel. Sangat kuat hingga pemuda itu melolong.
“Aaarghhh!”
Pelukan Farrel terlepas. Cepat-cepat Bella keluar dari mobil. Di saat akan berlari, tiba-tiba ia menabrak seseorang hingga nyaris terjatuh. Kalau saja orang yang ia tabrak tidak menahan, bisa dipastikan Bella sudah terbanting ke bawah.
“Thanks,” ucap Bella sambil memandang wajah orang itu.
“Sama-sama.”
Bella melotot menyadari siapa orang itu. “Ares?! Ngapain lo di sini?!”