009. Ares Tidak Peduli

1662 Kata
Malam itu Nala tidak bisa tidur nyenyak. Semua gara-gara Dikta. Pemuda itu membalas pesan Nala yang sukses membuat hati sang gadis ketar-ketir tidak karuan. Padahal sepuluh menit yang lalu, Nala sudah akan memejamkan mata dan berlayar menuju alam mimpi. Namun rencananya untuk tidur itu pun gagal total sejak Dikta mengirimkan chat melalui w******p. Mau tahu Dikta bilang apa? “Lusa aku mau ke Pantai Mutiara. Mau ikut nggak?” Bagaimana Nala tidak mendadak insomnia, hey?! Lalu dengan kecepatan kilat, Nala pun membalas pesan dari sang pujaan hati. Jawabannya jelas, sudah pasti garansi 1000% ia menjawab, “Ya. Aku mau, Kak.” Sejak saat itu, hasrat ingin tidur Nala pun mendadak sirna. Dikta bilang, lusa ia akan menjemput Nala di kampus. Terang saja hati Nala semakin ketar-ketir. Ia tidak jadi merutuki dirinya sendiri yang tadi membalas story Dikta. Di titik ini, ia justru berterimakasih pada dirinya sendiri yang berani bergerak mendekati Dikta. Yeah walaupun sebenarnya tidak bisa dibilang mendekati juga. Setiap orang punya hak yang sama untuk membalas instastory Dikta. Nala akan menganggap itu suatu hal yang lumrah. Nala memandang Bella yang sudah terlelap. Mendadak ia semakin tidak bisa tidur. Ada kekhawatiran dalam diri Nala tentang Bella dan kelicikannya yang menjebak Ares. Bagaimana jika Dikta tahu? Bagaimana jika Dikta tahu bahwa Nala terlibat dalam rencana gila Bella tentang Ares? “Hhhh….” Hanya desahan napas berat yang meluncur dari bibir Nala. Ia bahkan tidak berani membayangkan kelanjutannya. Nama baik seorang Nala di mata Dikta akan terhempas jika semuanya terbongkar. Tidak ada pilihan lain. Nala harus menjaga rahasia Bella serapat mungkin. *** Bella meluncur keluar dari kompleks apartemen dengan wajah tertekuk mendung. Penyebabnya sepele: Farrel memaksa menjemput lebih awal. Bella menolak terang-terangan. Konser di mulai malam hari. Untuk apa Farrel minta bertemu siang? Tidak! Bella tidak mau! Masalahnya, Bella harus kembali ke apartemen untuk mengecek situasi. Ini perihal Ares yang tengah ia jebak. Bella memang sudah merencanakan sesuatu yang menyiksa Ares. Masih ingat tentang dessert box? Yup! Rencananya masih sama. Bella mencampur dessert box itu dengan obat perangsang dosis tinggi. Dijamin Ares akan menderita setengah mati. Kedatangan Bella ke apartemen Ares bukan untuk memenuhi hasrat pemuda itu. Ia hanya ingin melihat betapa menderitanya sang suami. “Dari mana lo?” Suara berat Ares menyambutnya begitu masuk ke apartemen. Bella berlagak tidak peduli dan terus berjalan menuju kamar. “Gue tanya, dari mana lo?!” teriak Ares mulai kesal. “Nggak usah teriak. Gue denger,” balas Bella tenang. “Kalau denger ya lo jawab pertanyaan gue!” umpat Ares ketus. Bella tersenyum miring, lalu berbalik. Ia mendapati Ares sudah melangkah mendekatinya. Wajah pemuda itu memerah dengan kening berpeluh. Cara Ares bernapas pun terlihat sedikit berbeda. Pemuda itu sedikit terengah-engah. Dan… tentu saja Bella tahu penyebabnya. Bahkan kalau boleh jujur, bukan hanya dessert box yang- “Lo taruh apa di makanan gue?” selidik Ares dengan tatapan tajam. Alis Bella menukik mendengar pertanyaan penuh prasangka itu. “Lo ngomong apa sih?” “Nggak usah sok polos. Sekali lagi gue tanya, lo taroh apa di makanan gue? Obat perangsang?” tuduh Ares. “Lo udah gila, ya?!” semprot Bella marah. “Gue udah mengorbankan masa single gue untuk nikah sama lo! Garisbawahi, terpaksa! Terus sekarang lo nuduh gue naroh obat perangsang?! Lo mabok lagi?!” “Kalo emang enggak, terus kenapa gue kayak gini?” kejar Ares masih curiga. “Ya mana gue tau! Lo nya aja yang napsuan! Bukannya lo emang suka ewita di luar sana?! Kenapa jadi nyari kambing hitam?!” serang Bella murka. Ia mendorong badan Ares. “Jauh-jauh lo dari gue! Lo pasti sengaja nuduh gue biar gue mau layanin lo! Ogah!” Ares bergeming. “Bukannya lo nggak keberatan?” “Gue keberatan!” bantah Bella cepat. “Yang kemaren, anggep aja gue lagi khilaf. Pada dasarnya, pernikahan ini terpaksa dan lo nggak bisa mengubah pikiran gue tentang lo. Lo b******k. Stop ambil keuntungan dari gue.” “Gue nggak akan mengambil keuntungan apapun dari lo.” “Good then,” balas Bella lalu memasuki kamarnya. Ares menggeram kesal begitu pintu tertutup. Sekarang siapa yang harus bertanggungjawab untuk meredakan letupan hormonnya? Sial! Ares bukan tipe lelaki yang akan menggunakan jasa wanita kupu-kupu malam. Bahaya. Ia tidak akan mengorbankan nama baik dan kesehatannya. Tidak ada jaminan para wanita bayaran itu bersih. Lagipula, Ares tidak akan melakukannya dengan wanita sembarangan. Pintu kamar terbuka lagi. Bella keluar dari kamar sambil membawa tote bag berisi sepatu. “Lo masih di sini?” heran Bella. “Emang kenapa? Ini apartemen gue,” sahut Ares ketus. “Ya nggak apa-apa. Terserah lo. Emang lo nggak ada syuting?” “Bukan urusan lo,” tukas Ares berlalu dengan wajah masam. “Dih….” Ares memasuki kamarnya sendiri. Bella mengangkat satu alis. Keheranan dengan sikap Ares yang mendadak marah. Tiba-tiba muncul keisengan dari jiwa Bella yang tengil. Dengan suara keras, ia mulai mengoceh. “Gue mau nonton konser sama Farrel!” teriak Bella. Tidak ada tanggapan dari kamar Ares. Bella menunggu beberapa saat, tapi nihil. Ares benar-benar tidak peduli. Sontak Bella kesal sendiri meskipun ia sudah tahu Ares akan bereaksi apa. Tapi Bella ini memang suka sekali cari penyakit sendiri. “Gue nonton konser. Berduaan doang sama Farrel, adek tingkat gue!” teriak Bella lagi. Sunyi. Sepi. Bella benar-benar semakin kesal. “Gue pulang besok pagi!” Sekali lagi Bella berteriak, sebelum akhirnya ia lelah sendiri karena cueknya Ares. Dengan hati gondok, Bella pun melangkah berderap-derap keluar dari apartemen. Ia kesal setengah mati dengan ketidakpedulian Ares. Rasanya ia ingin menguliti pemuda itu hidup-hidup! Brakkk! Pintu terbanting keras. Begitu pintu tertutup, Ares baru keluar dari kamar. Raut wajahnya tidak kalah masam dengan raut wajah Bella sebelum membanting pintu. Ia berdiri bersandar di pintu sambil menghubungi seseorang dengan ponselnya cadangannya. “Sha, tolongin gue,” ucap Ares ketika Dasha menjawab panggilannya. “Kenapa?” “Cari tau tentang Farrel.” “Farrel siapa, Ares? Lo yang bener aja dong nyuruh-nyuruh gue begini. Yang namanya Farrel di Jakarta tuh seabrek,” oceh Dasha. Ares menarik napas panjang. Dasha tidak salah. Memang Ares saja yang kurang jelas memberikan instruksi. “Lo tau kan Bella kuliah di mana?” “Iya. Tau. Lo udah bilang. Kenapa?” Dasha balik bertanya. “Farrel itu adik tingkat Bella. Gue mau lo cari tau tentang Farrel. Termasuk konser musik yang bakal dia datengin malem ini. As soon as possible,” pinta Ares berusaha tenang. “Penting banget gitu? Nggak bisa ditunda? Gue lagi urusin—” “Ya. Penting. Bisa, kan?” sela Ares cepat. “Hhh… ya udah, gue usahain,” jawab Dasha pasrah. “Thanks.” Panggilan antara Ares dan Dasha itu pun berakhir. Di tempat lain, Bella menyesap caramel machiato seraya mengecek chat baru yang ia sadap dari ponsel Ares. Ia tahu jadwal pekerjaan Ares dari chat-chat itu. Ia bahkan tahu jadwal Ares satu bulan ke depan. Semua isi pesan yang ia sadap itu tentang pekerjaan. “Mustahil banget….” Bella mengoceh sendirian. Sejujurnya ia tidak percaya dengan isi ponsel Ares yang 100% tentang pekerjaan. Ayolah, Ares itu tampan. Terlalu tampan malah (setidaknya di mata Bella). Masa iya sih Ares tidak dekat dengan gadis lain? Lalu apa yang Bella lihat kemarin-kemarin? Jelas sekali ada tanda merah di tubuh Ares. Apalagi kalau bukan tanda mata dari kecupan gadis lain? Hih! Mengingatnya saja sudah membuat Bella muak! Sekali lagi, mustahil Ares tidak dekat dengan seorang gadis cantik! “Kok gini sih….” Bella bermonolog sambil meletakkan ponsel. Sembari menyesap minuman terakhir, otaknya memikirkan kemungkinan lain tentang Ares. “Jangan-jangan dia punya hape yang lain….” Prasangka itu membuat rahang Bella mengeras. Hanya itu satu-satunya yang bisa ia pikirkan. Tapi masalahnya, Bella sama sekali tidak tahu apakah itu hanya dugaan atau memang fakta. Kalau pun itu fakta, bagaimana cara ia mencari tahu tentang ponsel cadangan Ares? Sial! Dengan menahan rasa penasaran yang membumbung tinggi, Bella kembali melajukan mobil menuju apartemen Nala. Beberapa jam lagi sebelum konser, tapi ia sama sekali belum bersiap-siap. Dengan kecepatan tinggi, ia menggilas jalanan Kota Jakarta. Di tengah perjalanan, ponselnya berbunyi. Setelah mengaktifkan mode handsfree, Bella pun angkat bicara. “Halo. Kenapa, Rel?” sapa Bella. “Aku udah di depan, Kak. Hehehe….” “Hah?!” Bella terperangah. “Kan aku udah bilang, tiga jam lagi!” “Kamu di mana, Kak?” tanya Farrel terdengar tidak peduli. “Aku lagi di jalan. Baru mau ke situ.” “Ya udah, Kak. Nggak apa-apa. Aku tunggu. Nggak usah dandan juga nggak apa-apa. Kak Bella tetep cantik kok,” ucap Farrel sangat manis. Bella menggerutu pelan. “Ya, gue tau gue cantik. Tapi gue tetep pengen dandan!” “Ih, kok gue elo sih, Kak? Udah enak-enak juga aku-kamu,” protes Farrel manja. “Dih, bodo amat. Terserah gue mau pake gue-elo, kamu-aku, anda-saya. Sesuai mood. Nggak usah protes. Lagian lo ngapain jam segini ke situ??? Lo gabut apa gimana???” cerocos Bella masih keberatan dengan kedatangan Farrel yang terlalu awal. “Pengen liat Kak Bella aja. Kangen hehehe.” Bella menghela napas panjang. Sebenarnya ia ingin melanjutkan kekesalannya. Tapi ia membatalkan niat busuk itu karena mengingat tujuannya. Iya! Bella menerima tawaran Farrel untuk menonton konser berdua bukan tanpa tujuan. Pertama, ia kesal dengan sikap cuek Ares. Kedua, ia cemburu dengan Ares yang menurutnya sudah bermesraan dengan gadis lain (entah siapa). Dan ketiga, ia ingin membuktikan pada Ares bahwa ia bisa bersenang-senang dengan pemuda lain. Dengan kata lain, sebenarnya Bella ingin membuat Ares cemburu. “Matiin teleponnya. Aku lagi nyetir,” kata Bella menurunkan nada bicaranya. “Oke, Kak. Take care, ya. Aku tunggu di sini,” pamit Farrel. Panggilan berakhir. Pikiran Bella kembali terbang pada sosok Ares. Sayangnya… Ares masih tidak peduli perihal ia yang berduaan dengan Farrel. Hati Bella pun tercubit menyadari fakta itu. Ares bahkan tidak berkata apa pun ketika ia meninggalkan apartemen. Rasanya perih…. Sepertinya rencana Bella tidak berjalan baik. Begitu sulit menembus dinding yang Ares buat. Dan sekarang, Bella tidak tahu kenapa ia harus tetap pergi ke konser dengan Farrel. Untuk apa kalau Ares tetap abai?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN