008. Nyaris Khilaf

1444 Kata
Ares mengernyitkan dahi melihat pesan yang sudah terbaca di w******p-nya. Masalahnya, ia tidak merasa telah membaca pesan itu. Tapi ia hanya tersenyum miring, lalu meletakkan ponsel di meja. “Res, lo nggak pengen liburan?” tanya si cantik Dasha (manajer Ares). “Hum? Tumben lo nanya. Emang jadwal gue nggak penuh?” Ares balik bertanya. “Ada tawaran job sih. Tapi gue mau make sure dulu ke elo. Kali aja lo pusing terus pengen liburan,” sahut Dasha. Ia mencondongkan tubuh pada Ares, lalu setengah berbisik, “Sejak lo nikah diam-diam itu, muka lo butek mulu.” Seketika Ares kesal. “Gimana nggak butek? Tuh cewek ngrepotin banget.” “Eh, btw bini lo udah isi belom?” selidik Dasha dengan segala kekepoannya. “Isi cilor.” “Gue serius.” “Nggaklah. Gue nggak apa-apain dia,” jawab Ares ketus. Dasha melongo. “Lo udah nikah sama dia, tapi nggak lo apa-apain?” Ares malas menjelaskan. Ia pun mengalihkan topik. “Boleh deh atur liburan gue. Tapi Anya harus ikut.” Dasha menggeleng-geleng. “Gue bilang apa soal Anya? Jangan main api lo. Kalau ketauan, lo mau jelasin gimana ke wartawan?” “Iya! Iya! Gue tau!” sela Ares malas mendengarkan ceramah Dasha. “Tapi gue tetep mau sama Anya. Lo atur aja deh liburan super privat gue. Jangan sampai ada yang cepu.” Akhirnya Dasha pasrah. *** Nyaris tengah malam, Ares baru kembali ke apartemen. Di saat bersamaan, Bella baru keluar dari kamar mandi. Sontak, keduanya terkejut. Buru-buru Bella mengencangkan handuknya yang nyaris melorot. Ares memalingkan perhatian dengan wajah memerah. “Ngapain lo mandi tengah malem?” Bella membuang muka dengan sombong. Tidak sudi ia menjawab pertanyaan Ares. Ia berjalan cepat menuju kamar. Sementara itu, tadi Ares diam-diam memperhatikan sosok Bella. Well, meskipun Ares benci dengan kelakuan Bella. Namun ia harus mengakui kecantikan gadis itu. Bahkan Ares harus mengakui kalau ia sempat khilaf di samping Bella. Tapi itu semua tidak mengubah perasaannya pada Anya. Kekhilafannya pada Bella hanya sementara. Ares memasuki kamar. Saat melepas pakaian, ia mendengar suara berisik di luar. Dengan cepat, Ares mengecek keluar. Rupanya Bella…. “Mau ke mana lo malem-malem gini?” heran Ares. “Bukan urusan lo,” jawab Bella dingin. “Tentu aja urusan gue. Ntar kalo lo kenapa napa, gue yang disalahin sama bokap lo,” balas Ares tajam. “Ya itu derita lo. Kan lo sendiri yang bilang kalau kita hidup masing-masing.” “Nggak berarti lo bisa keluar tengah malem gini tanpa izin gue.” “Siapa lo? Kenapa gue harus izin sama lo?” “Gue suami lo!” tukas Ares ketus. Suasana mendadak hening. Bella dan Ares bertatapan. Tapi beberapa detik kemudian, Bella tertawa sinis. “Lo lucu. Siapa yang kemaren bikin kesepakatan t***l?” sindir Bella. Ia melanjutkan, “Lo. Terus kenapa sekarang tiba-tiba lo ngaku-ngaku jadi suami gue? Lo nggak malu udah ngejilat ludah sendiri?” Ares menarik napas panjang. Jujur, ia benar-benar kesal pada Bella. Tapi ia harus tetap sabar. Gawat kalau Bella sampai keluar tengah malam tanpa izin padanya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bella? Bisa-bisa Ares yang ditebas oleh ayah dan kakaknya Bella. “Secara teori, kita emang suami istri. Tapi syarat dan ketentuan berlaku,” sahut Ares. Bella meletakkan tasnya. Ia melangkah dengan penuh percaya diri mendekati Ares. Senyum miringnya terkembang. “Lo mulai naksir sama gue ya?” goda Bella genit. Ia mengelus lembut otot yang terpahat di perut Ares. Oh, tentu saja dengan gerakan seduktif. Tap!!! Ares mencengkeram pergelangan tangan Bella. Tingkah Bella sangat mengkhawatirkan. Bagaimana kalau hormonnya meledak-ledak? Gawat! “Lo jangan macem-macem,” desis Ares tepat di depan wajah Bella. Bella tertawa sinis. “Nggak salah? Bukannya lo yang udah macem-macemin gue duluan? Kenapa jadi sok suci lo?” Ia mengarahkan tatapannya pada otot di tubuh Ares. “Maksud lo apa coba sampe shirtless gini? Lo gengsi banget ya mau ngakuin?” Ares melepaskan cengkeramannya. Ia sudah sangat muak dengan tingkah tengik Bella. “Terserah lo deh mau ke mana. Pergi aja sana,” usir Ares jengkel. Bella mendengus. Ia menyambar tas, lalu keluar dari sana. Wajahnya masam sepanjang jalan. Tapi begitu memasuki lift, senyum liciknya terulas lagi. “Ares, gue bersumpah. Lo bakal bertekuk lutut di hadapan gue.” Lift berhenti di lobi. Bella bergegas menuju basement sembari menghubungi Nala. “Halo, gue otw,” sapa Bella. “Otw ke mana?” heran Nala. “Ke apartemen lo. Gue mau nginep di sana.” “Gila lo ya. Tengah malem gini baru dateng,” rutuk Nala. “Emang kapan gue nggak gila?” sambar Bella sadar diri. Nala menarik napas panjang. “Ya, ya. Bagus deh kalo lo sadar diri.” “Gue bakal sampe beberapa menit lagi. Jangan tidur duluan! Bye,” pamit Bella mngakhiri panggilan. Langkahnya semakin cepat menuju mobil. Ia meletakkan tas berisi pakaian di jok tengah. Bukannya menyalakan mesin mobil, ia malah duduk diam dan memikirkan sesuatu. “Satu di jus buah. Terus di dessert box…. Harusnya udah cukup buat bikin dia menderita,” gumam Bella bermonolog. Ia terdiam sejenak lagi, lalu menjentikkan jari. “Besok agak siangan gue balik ke sini dulu deh.” Setelah itu, Bella pun menyalakan mobil dan meninggalkan gedung apartemen itu. Hmm… sepertinya Bella telah menyiapkan rencana lain untuk Ares. Sementara itu, di tempat lain ada Nala yang sibuk dengan ponsel. Ia membuka akun i********: milik Dikta. Tujuannya? Oh, jelas untuk mencari tahu kegiatan pemuda tampan itu. Demi langit dan bumi, Nala memang sangat menyukai Dikta. Bukan hanya Nala, tapi ada banyak gadis lain di luar sana yang terjerat ke dalam pesona seorang Dikta. Oh, jelas saja. Dikta adalah pemuda tampan dan mapan. Selain itu, Dikta juga dikenal baik dan tidak kebanyakan gaya. Gaya hidup Dikta lurus-lurus saja. Ia nyaris tidak pernah menginjakkan kaki di night club, kecuali untuk urusan penting. Cara Dikta bersenang-senang dan melepas penat adalah berjalan-jalan ke tempat yang hening menenangkan atau memasak. Bagaimana Nala tidak jatuh cinta? Sangat sulit menemukan orang yang seperti Dikta. “Ganteng banget,” gumam Nala melihat instastory Dikta. Jarinya gatal menekan tanda reply. Lalu dengan enteng ia bermonolog lagi. “Itu di mana, Kak?” Pesan itu pun terkirim. Nyaris saja ia meletakkan ponsel, tapi balasan dari Dikta menahannya. Seketika dadanya bergemuruh. Ia sama sekali tidak berekspektasi jika Dikta akan membalas pesannya secepat itu. Dikta : Itu di Pantai Mutiara. Kamu belum pernah ke situ? Mendadak tangan Nala tremor. Tapi membalas pesan dari Dikta adalah kewajiban baginya. Dengan d**a berdebar, ia mengetik balasan. Nala : Belum, Kak. Kapan-kapan ajak aku ke situ dong bareng Bella. Wow, tidak tahu malu sekali permintaan Nala. Tapi masa bodoh. Ini adalah kesempatan emas untuk berbicara dengan Dikta. Siapa tahu ada malaikat lewat dan merestui niatnya mendekati Dikta. Detik demi detik berlalu. Nala terus menatap layar ponsel dengan waswas dan berbagai praduga. Bagaimana jika Dikta hanya membaca tanpa membalas? Bagaiman kalau Dikta menganggapnya cewek gampangan? Bagaimana jika Dikta ilfil padanya? “Ahhh! Ya ampun! Geblek banget sih! Ngapain gue bales kayak tadi!” Tiba-tiba Nala merepet sendiri dalam keheningan kamar. Pasalnya sudah lewat satu menit, tapi Dikta belum membalas pesannya. Pemuda itu hanya membaca pesannya. Iya! Hanya dibaca! Dengan hati penuh rasa malu dan kecewa, Nala meletakkan ponsel di nakas. Prasangka demi prasangka kembali terbit di otaknya. Apakah ia kurang cantik dan kurang layak untuk Dikta? Apakah ia kurang pintar? Kurang memenuhi kriteria tipe ideal Dikta? Tapi apa kurangnya Nala? Di matanya sendiri, ia adalah gadis cantik, pintar, kaya, dan baik. Yeah, setidaknya ia tidak gila seperti Bella. Ia juga tidak manipulatif seperti Bella. Tunggu! Bicara tentang Bella… bukan berarti Nala menganggap Bella itu sangat buruk. Bagi Nala, setiap manusia punya lebih dan kurangnya masing-masing. Bella memang manipulatif dan cukup licik. Namun di luar itu, Bella masih punya banyak kebaikan yang membuat Nala bertahan untuk berteman. “Nalaaaa!” teriak Bella sambil menekan bel apartemen. Panjang umur! Baru saja dibicarakan, tapi Bella sudah muncul. Nala bangkit dengan malas-malasan, lalu membuka pintu. Dari balik daun pintu, Bella menyengir sambil mengangkat bungkusan berisi martabak manis dan martabak telur. “Lo mau nyogok gue?” tuduh Nala. Bella menerobos masuk, lalu duduk di sofa. “Ah, lo mah nggak perlu disogok.” Nala memutar bola matanya dengan malas. “Jadi lo pergi sama Farrel?” “Jadi. Makanya gue nginep di sini. Males ribet gue. Tadi aja pas ke sini, Ares nanyain gue mau ke mana.” Tiba-tiba Nala menyipitkan mata. “Lo nggak izin ke Ares?” “Nggak lah. Ngapain?” balas Bella menyeringai. “Gue sengaja bikin dia kesel. Dan gue jamin, dia bakal menderita.” Nala menghela napas. Sepertinya ia mulai bisa menebak arah pembicaraan Bella. “Lo udah ngrencanain apa lagi buat Ares?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN