Ares ingin sekali mengelak. Tapi sialnya foto di instastory waktu itu terlalu jelas. Setengah mati Ares memutar otak agar bisa mencari alibi.
“Nggaklah! Gue nggak selingkuh!” tepis Ares akhirnya bersuara.
“Terus yang dulu itu apa?”
“Khilaf doang gue. Tapi gue nggak selingkuh.”
“Maksud lo, itu cuma one night stand gitu?” selidik Joe.
“Kinda. Tapi gue bener-bener nggak selingkuh,” jawab Ares masih membela diri.
Joe tertawa kecil. “Kayak gitu lo bilang nggak selingkuh? Emang menurut lo, selingkuh itu apa sih?”
Ares tidak berminat menjawab. Ia hanya diam sambil menyesap air minum dari botol.
“Lo melanggar komitmen. Walaupun cuma satu malem, tetep aja lo udah melanggar,” sambung Joe lagi.
“Hhh….” Ares meletakkan botol di meja. Ia menatap Joe. “Kenapa sih lo peduli banget sama gue yang selingkuh atau enggak?”
Joe tersenyum miring. “Kalo lo udah gak mau sama Anya, biar gue yang jaga dia.”
Ares terkesiap. “Lo… lo suka sama Anya?”
“Siapa sih yang nggak suka sama cewek secantik Anya?”
“Gue pikir lo nggak ada rasa apa pun. Seinget gue, lo yang jadi mak comblang gue sama Anya. Jujur, gue agak kaget dengernya.”
“Gue serius. Gue emang suka sama Anya, jauh sebelum lo kenal sama dia.”
Joe menarik napas panjang. Selama ini ia menyingkirkan perasaannya sendiri demi Anya. Demi Tuhan, ia rela Anya bersama dengan Ares asalkan gadis itu bahagia. Tapi melihat pengkhianatan Ares, rasanya ia tidak bisa tinggal diam.
“Gue udah relain Anya buat lo. Kenapa lo malah nyakitin dia, Res?” ucap Joe pelan. “Lepasin Anya buat gue kalo lo udah ga mau. Gue bakal bahagiain dia.”
Hati Ares trenyuh mendengar permintaan Joe. Ia tidak menyangka akan terjebak dalam situasi seperti ini. Masalahnya, ia dan Anya sudah berjanji satu sama lain. Ares juga tidak mungkin mengatakan soal pernikahan itu pada Joe.
“Lo boleh bilang gue egois. Tapi Joe… gue nggak akan ngelepas Anya,” kata Ares tegas.
Joe menatapnya tajam.
“Anya tau soal cewek itu. Gue udah jujur ke Anya. Dia udah maafin kekhilafan gue. Jadi gue nggak punya alasan untuk melepas Anya buat lo,” sambung Ares lagi.
Joe terlihat kesal dan sedih di waktu bersamaan. Jawaban Ares cukup mengejutkannya. Tapi apalagi yang bisa ia lakukan?
“Ok. Tapi kalau lo udah nggak mau sama dia, bilang ke gue.”
“Gue bakal tetep sama dia sampai kapan pun.”
Joe berdiri. Ia sudah malas berbicara dengan Ares. Rasa kecewanya lebih besar dari apa pun kali ini. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Anya tetap memilih bersama Ares?
“Joe,” panggil Ares.
Langkah Joe tertahan. Ia menoleh. “Kenapa?”
“Thanks ya udah jaga rahasia gue,” ucap Ares tulus.
Joe tidak menyahut lagi. Ia pun melenggang pergi meninggalkan Ares.
Sementara itu, di tempat yang lain….
Farrel kegirangan karena baru saja mendapatkan alamat penjemputan Bella. Senyumnya merekah sangat lebar hingga ia lupa kalau sedang bermain truth or dare. Dan sialnya, mulut botol yang sedang diputar itu mengarah tepat ke arahnya.
“Rel!” panggil Nana.
Farrel tersentak. Nana menunjuk botol itu dengan wajah serius.
“Lo yang kena,” sambung Nana.
“Truth or dare nih?” tanya Marc.
“Truth deh. Truth!” sambar Farrel sambil memasukkan kembali ponsel ke saku.
Sorakan kecewa teman-teman satu gengnya terdengar.
“Ah, nggak asik! Masa daritadi pada pilih truth! Masa gue doang yang pilih dare?!” protes Reyhan, si ganteng yang gaya bicaranya frontal dan savage.
“Pada mental kerupuk,” oceh Chandra menimpali keganasan Reyhan.
“Ga usah ngatain orang. Lo sendiri tadi pilih truth,” balas Reyhan tajam.
Farrel memutar bola matanya dengan malas. “Ya udah! Gue pilih dare!”
“Woeee, mantep Abang Farrel!” puji Nana bertepuk tangan.
“Gitu dong daritadi,” sahut Reyhan puas.
“Siapa yang kasih tantangannya nih?” tanya Marc sambil melihat arah p****t botol itu.
Olalaaa, rupanya p****t botol itu mengarah pada Reyhan. Hah! Pantas saja Reyhan kesal saat Farrel memilih truth. Bisa dipastikan, Reyhan akan balas dendam pada Farrel. Bayangkan saja! Tadi Farrel memberinya tantangan dare yang memalukan: mengunggah video goyang pargoy di sosial media.
Terdengar sederhana, bukan?
Masalahnya, Farrel meminta Reyhan goyang pargoy hanya menggunakan celana kolor dan bra warna pink. Sebagai orang yang dikenal dengan image estetik, tentu tantangan itu sangat melukai level keestetikan seorang Reyhan.
“Gue yang kasih tantangannya,” sahut Reyhan menyeringai.
Farrel hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Apa? Bilang.”
“Lo suka sama Kak Bella, kan?”
“Tau dari mana lo?”
Sontak Reyhan, Marc, Nana, dan Chandra tertawa mengejek bersamaan. Ini antara Farrel yang terlalu polos atau memang dia bloon? Siapapun pasti bisa melihat kalau Farrel menyukai Bella. Sikap Farrel terlalu jelas. Sayangnya, Farrel tidak menyadari itu.
“Sikap lo tuh jelas banget. Ya kali kita nggak tau,” jelas Chandra menepuk-nepuk pundak Farrel dengan prihatin.
Bibir Farrel membulat. “Terus tantangannya apa nih?”
Reyhan berhenti tertawa. Ia mencodongkan tubuh ke arah Farrel. Mendadak situasi terasa mencekam. Yang lain pun ikut mencondongkan badan sehingga mereka terlihat seperti tengah melakukan rapat rahasia.
“Tantangan dari gue…,” kata Reyhan sok misterius.
“Buruan,” desak Chandra.
Reyhan menunjuk batang hidung Farrel. “Lo cium sama Kak Bella, terus kirim ke grup chat kita.”
“Gila lo!” maki Farrel keberatan. Tubuhnya menegak. Wajahnya memerah.
“Gak usah protes! Lo kasih tantangan ke gue juga nggak kira-kira!” dengus Reyhan.
Nana cekikikan. “Harusnya lo seneng lah, Rel. Ini kesempatan buat lo. Kalo lo dimaki-maki, bilang aja lo lagi ada tantangan truth or dare.”
“Atau bikin aja kayak nggak sengaja,” usul Marc.
“Nggak ada yang waras kalian,” maki Farrel pelan.
“Kayak lo waras aja,” sambar Chandra pedas.
“Gue nggak mau tau. Pokoknya hari Minggu paling telat. Lo harus kirim fotonya ke grup,” kata Reyhan kejam. Ia melanjutkan, “Kalo lo nggak mau, denda 8 juta.”
Farrel menggeram kesal. “Oke! Gue bakal lakuin!”
***
Bella sibuk dengan laptop dan ponsel. Bergantian memegang keduanya dengan kening berkerut-kerut. Ada hal serius yang ia lakukan hingga mengabaikan mie yang mulai dingin di meja. Nala mengernyitkan dahi melihat kesibukan Bella.
“Bel, mie lo udah ngembang tuh. Nggak dimakan?” tegur Nala.
“Bentar.”
“Lo lagi ngapain sih?” tanya Nala lalu menyesap jus alpukat.
“Nyadap w******p-nya Ares.”
“Uhukkk!” Nala tersedak.
Reaksi berlebihan Nala tidak membuat Bella berhenti. Wajahnya semakin serius. Kemudian perlahan senyum liciknya terbit.
“Done!” ucap Bella riang.
“Udah bisa?” selidik Nala mendekati Bella.
Bella mengangguk. Dengan hati-hati, ia membuka percakapan chat Ares. Ia sudah sangat yakin akan menemukan sosok gadis yang membuat Ares berpaling darinya. Pokoknya keyakinan Bella sudah menembus 1000%! Ia sudah sangat percaya diri.
“Anjir! Mana sih?! Kok nggak ada?!” keluh Bella sebal.
“Nggak ada chat dari cewek lain,” gumam Nala yang ikut membaca pesan.
Gumaman itu membuat Bella berhenti menggulirkan layar. Ia menatap Nala.
“Isi chatnya cuma kerjaan. Aneh banget nggak sih?”
“Lo tuh aneh deh. Bukannya bersyukur, malah curiga,” decak Nala heran.
“Nggak! Nggak! Gue yakin Ares ada main sama cewek lain!” sambar Bella keras kepala. Dengan raut wajah mengeras, ia meletakkan ponsel. “Gue pasti bakal cari tau. Ares itu punya gue dan selamanya tetap jadi punya gue!”