013. Klarifikasi

1209 Kata
“La! Nala! Buka pintu!” pinta Bella seraya menggedor pintu apartemen Nala. Suara langkah berderap-derap terdengar dari dalam. Pintu pun terbuka. Bella pun merangsek masuk tanpa permisi. Wajahnya terlihat tertekan, frustrasi, dan panik. Ia berjalan mondar-mandir sambil memegangi kepalanya. “Kayaknya lo dijebak Farrel deh.” Hipotesis Nala pun meluncur. Bella masih terlihat seperti orang linglung dan gelisah. “Kalo emang beneran nggak sengaja, ngapain dia rekam-rekam?” sambung Nala lagi. Ia menarik Bella agar duduk tenang. Pada akhirnya, Bella duduk lemas di sofa. Pikirannya mendadak buntu. Urusan menjebak Ares, ia juara satu. Begitu karma datang melalui Farrel, saraf-saraf di otaknya seperti membeku. Enggan diajak berpikir dengan tenang. Setelah duduk, Nala kembali angkat bicara, “Jadi semalem, lo dan Farrel ke hotel? Coba cerita, gue pengen denger lagi.” Mata jernih Bella membulat. “Waktu mau kelar konser, Farrel ngeluh sakit perut. Gue udah nawarin nyetirin. Tapi dia gak mau. Terus tetiba aja dia belok ke hotel. Katanya udah nggak tahan.” Seketika jari Nala menjentik. “Nah! Kan! Gue bilang apa! Fix dia ngejebak lo.” Bella mengusap wajahnya dengan frustasi. “Ngapain sih ngejebak gue?!” “Gak tau. Kenapa nggak nanya langsung ke dia?” “Semalem dia nembak gue,” kata Bella tiba-tiba lemas. Ia menarik napas dalam-dalam. “Terus dia maksa peluk gue. Gue kabur dari mobil.” “Hah?!” Nala terkejut. “Udah gila tuh anak!” “Untung semalem ada Ares yang tiba-tiba nongol.” “Ares??? Kalian nggak sengaja ketemu???” Bella mengangguk. “Ares nyelametin gue. Pake ngaku jadi cowok gue lagi. Gila! Gue seneng banget!” “Oh…. Mukjizat banget,” komentar Nala singkat. “Nggak nyangka gue! Aduh… berasa diselametin pangeran impian gue!” “Ya, syukur ada Ares. Cuma nggak nyangka gue si Farrel bisa begitu. Padahal anaknya kalem, pinter. Bisa b******k juga dia,” komentar Nala tidak habis pikir. “Lo bisa laporin ke pihak kampus atas tuduhan pelecehan seksual.” Di luar dugaan, Bella menggeleng. “Nggak dulu deh kayaknya. Masalahnya nggak akan segede itu. Walaupun cukup traumatis, tapi gue ngerasa nggak perlu ngelaporin dia.” “Lo yakin? Terus foto ciuman lo yang kesebar?” kejar Nala. “Farrel harus klarifikasi. Lagian kampus kita juga gak akan ikut campur gegara foto ciuman,” jawab Bella yakin. Raut wajahnya mulai santai. “Habis ini lo temenin gue ketemu sama Farrel.” *** Sore itu Bella dan Nala sudah duduk manis di kafe. Tujuan mereka hari ini adalah bertemu dengan Farrel dan meminta penjelasan dari pemuda itu. Tadi siang, Bella menghubungi Farrel. Namun ia sama sekali tidak menanyakan perihal foto ciuman yang tersebar di kalangan mahasiswa. Bella hanya bilang, ia ingin bertemu Farrel sore ini. Farrel pun mengiyakan. Selama menunggu, pikiran Bella melanglang buana. Ia kembali memikirkan rentetan kejadian semalam hingga foto ciuman itu tersebar. Tiba-tiba ia menghela napas panjang yang membuat Nala melirik. “Gue kayak kena karma nggak sih?” celetuk Bella aneh. Kedua alis Nala nyaris bertaut. “Karma? Karma apaan?” Sebelum menjawab, Bella melihat ke sekeliling. Setelah memastikan situasi aman, ia menyahut, “Karma gegara gue ngejebak Ares. Jadi gue dapet karmanya lewat Farrel.” Seketika bibir Nala membulat. “Bisa juga lo mikirin karma? Kenapa nggak dari kemaren-kemaren?” Bella memutar bola matanya dengan malas. “Lo tuh bukannya menghibur, malah bikin gue down. Kampret emang.” “Lah lo sendiri deh yang bikin down. Emang gue bahas karma tadi? Kan lo duluan. Daritadi gue udah anteng, masih aja lo su’udzon,” cerocos Nala sebal. Belum sempat Bella menyahut, ia melihat sosok Farrel yang memasuki kafe. Sontak ia menyenggol lengan Nala, lalu memberikan kode melalui gerakan kepalanya. Nala mengikuti arah pergerakan kepala Bella. “Here we go…,” celetuk Nala lalu menyesap minumannya. Farrel pun duduk di hadapan Bella dan Nala. Wajahnya terlihat takut, khawatir, sekaligus panik. Pemuda itu hanya memandangi makanan dan minuman yang sudah Bella pesankan untuknya. “Hhh, gue udah capek pencitraan di depan adik tingkat,” kata Bella menghela napas. “Lo tau kan kenapa gue minta ketemu?” Farrel tidak berani menyahut. Ia masih membisu sambil melihat tetesan air di gelas minumannya. Sikap Farrel membuat Bella kesal. Rasanya ia ingin menyiram jus itu ke wajah Farrel saat ini juga! “Lo ngejebak gue?” tembak Bella frontal. Farrel masih diam. “Tujuan lo apa ngerekam yang semalem? Lo sengaja ke hotel terus pura-pura jatoh?” kejar Bella dengan emosi yang kian meninggi. “Iya.” Akhirnya Farrel mengangguk pasrah. “Kak Bella bener. Aku nggak akan membela diri.” Sumpah! Tangan Bella sudah sangat gatal ingin menampar Farrel. Tapi ia tidak ingin membuat keributan. Ia tidak ingin seseorang merekam pertengkarannya, lalu mengunggah ke sosial media. Bisa-bisa nama baik keluarganya yang terpandang itu ikut terseret. “Lo tau? Gue pengen banget gampar lo, Farrel,” aku Bella terang-terangan. “Aku memang salah, Kak. Aku minta maaf.” “Motif lo apa? Lo emang sengaja nyebar foto itu?” Nala ikut menimpali. Buru-buru Farrel menggeleng. “Nggak, Kak! Demi Tuhan, enggak!” “Terus?” kejar Nala. Farrel terdiam dan menunduk sejenak. Bella dan Nala menatapnya dengan kening berkerut sekaligus hati dongkol. Beberapa saat kemudian, Farrel mengangkap kepalanya. “Bukan aku yang nyebarin, Kak.” “Kalo bukan lo, terus siapa???” desak Bella. “Reyhan,” jawab Farrel singkat. “Reyhan??? Kok bisa?!” “Sebenernya aku cium Kak Bella buat tantangan truth or dare. Aku pilih dare. Temen-temenku suruh aku cium Kak Bella terus difoto dan harus dikirim ke grup untuk bukti. Aku nggak nyangka kalo Reyhan nyebarin foto itu ke luar grup,” jelas Farrel pelan dengan kepala kembali tertunduk. Bella kehabisan kata-kata. Ia menatap Farrel dengan benci. “Lo harus klarifikasi,” pinta Nala mewakili suara hati Bella. “Klarifikasi gimana, Kak Nala?” “Lo harus klarifikasi di sosial media lo. Lo harus cerita yang sebenernya gimana. Bersihin nama Bella.” Farrel mengangguk. “Baik, Kak. Demi Kak Bella, aku bakal klarifikasi.” “Gue tunggu paling lambat nanti jam 11.59 malam. Lebih dari itu, gue bakal aduin lo ke kampus. Termasuk tentang pelecehan seksual yang lo lakuin ke gue semalem. Ngerti?” ancam Bella akhirnya buka suara. Seketika wajah Farrel pucat pasi. “Jangan dong, Kak! Jangan laporin ke kampus!” “Makanya lo klarifikasi cepet! Gue nggak mau tau soal truth or dare lo. Gue cuma mau semuanya clear.” “Iya, Kak! Iya. Aku bakal klarifikasi secepetnya.” “Good,” angguk Bella. Ia mengambil buku kecil dan pulpen dari tas. “Yang ada di grup chat lo siapa aja? Tulis di sini.” Bella menyodorkan kedua benda itu ke hadapan Farrel. Meskipun bingung, akhirnya Farrel tetap menuliskan nama-nama member di grup chat. Selesai menulis, Bella langsung menyambar buku dan pulpen itu. Ia mengangguk-angguk. “Suruh Reyhan klarifikasi juga! Kalau kalian nggak klarifikasi, gue bakal kasih nilai D ke tugas-tugas kalian. Gue bakal minta Pak Sarwono buat nggak lulusin kalian. Fyi, yang gue maksud kalian itu adalah lo dan semua member grup chat lo. Sampe sini, paham?” “Iya! Paham, Kak!” “Lo boleh pergi,” usir Bella pelan. “Kak, sebelum aku pergi. Boleh nanya?” pinta Farrel. “Banyak maunya lo, ya. Nanya apa? Buruan,” sahut Bella tidak suka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN