014. Farrel Tidak Percaya

1862 Kata
“Cowok itu beneran pacar Kak Bella?” “Emang kurang jelas kemaren dia bilang apa?” Bella balik bertanya dengan wajah yang dingin. Terlalu dingin hingga rasanya Farrel membeku saat itu juga. “Kenapa Kak Bella nggak pernah bilang?” “Ya buat apa juga gue koar-koar ke seisi kampus kalo gue udah nikah?!” “Hah?!” Farrel dan Nala sama-sama shock. Untuk sesaat, suasana mendadak krik krik. Hening dalam kebingungan sekaligus rasa terkejut. Nala mengoreksi dengan hati-hati. “Maksud lo pacaran?” ralat gadis berkulit putih pucat itu. “Emang tadi gue bilang apa?” reaksi Bella seperti benar-benar tidak sadar kalau sudah keceplosan. “Lo bilang nikah….” Seketika bibir dan mata Bella membulat. Raut wajahnya sedikit pucat, tapi ia berusaha terlihat tenang agar Farrel tidak curiga. Sementara itu, Nala meliriknya dengan tatapan kesal sekaligus ingin menghujat ‘bodoh’. “Kak Bella udah nikah sama cowok itu???” selidik Farrel semakin patah hati. Dengan cepat Bella mengibaskan tangannya. “Nggak! Belum. Gue salah ngomong.” “Bella masih mau S2. Nggak mungkin dia nikah muda,” sahut Nala membela Bella. “Udah kan lo? Nggak usah nanya aneh-aneh lagi. Gue nggak mau tau, nama gue harus bersih! Suruh temen segeng lo klarifikasi semua,” pinta Bella mengalihkan topik dengan sebuah ultimatum. Farrel hanya mengangguk lalu terpekur. Di saat bersamaan, ponsel Bella bergetar. Bella meraih ponsel dan terkejut melihat nama di layar. Cepat-cepat ia bangkit dan memasuki toilet kafe. Setelah memastikan pintu terkunci, ia menjawab panggilan itu. “Halo. Kenapa nelpon?” tanya Bella retoris. Padahal ia sudah menduga, pasti Dikta akan menanyakan soal foto ciuman itu. Kakaknya itu memang sangat update. Entah dari mana Dikta mendapatkan informasi secepat itu. Yang jelas, matilah Bella! “Lo masih bisa nanya kenapa?” Dikta melontarkan pertanyaan sarkastik. “Soal foto itu?” “Emang lo bikin masalah yang lain lagi?” Bella memijat kepalanya yang mendadak terasa berat. “Gue lagi ngomong sama Farrel. Dia bakal klarifikasi malem ini. Jadi gue nggak akan jelasin apapun ke lo. Biar lo denger sendiri dari Farrel.” “Lo nggak bosen bikin masalah terus? Dua kali kena skandal yang sama nggak bikin lo belajar?” “Terserah lo deh Kak mau bilang apa. Gue matiin telponnya.” “Bella!” semprot Dikta kesal. “Apaan lagi sih???” “Lo udah nikah! Lo ngapain berduaan sama cowok lain di hotel?!” “Ceritanya nggak kayak gitu. Lo jangan negatif mulu ke gue. Pokoknya Farrel bakal klarifikasi. Lo tunggu aja. Gue capek.” “Ke rumah gue malem ini. Gue tunggu.” Tanpa peduli dengan permintaan Dikta, Bella pun memutus panggilan. *** Di tempat syuting, Ares tengah duduk. Beristirahat sembari menyesap es teh yang sudah disiapkan oleh Dasha. Sementara ia menikmati kesegaran es, Dasha sibuk dengan tabletnya. Tiba-tiba Dasha memperlihatkan layar tablet padanya. “Gue udah atur lo liburan bulan depan ke Lombok,” katanya sambil mengarahkan telunjuk ke layar. “Ini tiket pesawat sama hotelnya. Udah gue booking. Btw, gue juga ikut sebagai asisten lo.” “Sama Anya juga kan?” tanya Ares memastikan. “As you wish. Udah gue atur semuanya.” “Oke,” angguk Ares kembali sibuk dengan camilan dan es tehnya. “Anyway, lo udah liat foto Bella belom?” Dasha mengalihkan topik pembicaraan. Alis Ares terangkat. “Foto apaan?” Dasha menarik kembali tablet pada dirinya sendiri. Ia membuka galeri, lalu memperlihatkan sebuah foto pada Ares. Sontak kedua mata Ares melotot melihat foto ciuman antara Bella dan Farrel itu. “Apaan nih maksudnya?! Ini foto kapan?!” ucap Ares kesal. “Gue sih dapetnya tadi pagi. Ada yang unggah di Facebook.” Ares meletakkan botol the dengan cukup keras di meja. Kerutan di dahinya mendadak muncul. Rahangnya mengeras. “Anjir tuh cewek. Gue udah susah payah jaga nama baik, dianya malah seenak jidat,” gerutu Ares lalu meraih ponsel. Ia berencana untuk menghubungi Bella. Namun Dasha menahannya. “Jangan ngomong di sini. Gawat kalo ada yang denger. Lo kelarin masalahnya di apartemen aja, Res,” pinta Dasha pelan sambil mengambil kembali tabletnya. Ares mendengus sebal. Ia meletakkan kembali ponselnya. “Kayaknya hp gue dibajak deh,” katanya tiba-tiba. “Banyak chat yang udah kebaca duluan. Padahal gue nggak ngerasa udah buka. Tapi siapa coba yang iseng ngebajak hp gue?” “Oh ya? HP yang mana? Yang buat kerjaan atau buat personal life lo?” selidik Dasha hati-hati. “Yang buat kerjaan. Siapa ya kira-kira yang bajak?” Dasha mengangkat bahu. “Mau ganti nomer aja?” “Gue mau tau siapa pelakunya. Ini soal kerjaan. Kacau kalau pelakunya sampe macem-macem.” “Tapi sejauh ini HP lo aman kan? Nggak ada chat yang aneh-aneh?” tanya Dasha lagi. Ares menggeleng. Memang sejauh ini masih aman. Tapi siapa yang tahu kalau besok-besok si pelaku jahil dan mengacaukan semua pekerjaannya? Namun ada satu hal yang patut disyukuri Ares: pelaku itu tidak membajak ponsel yang berisi hal personal. Gawat kalau sampai dibajak. Ponsel itu berisi tentang hubungannya dengan Anya. Bisa-bisa publik heboh dan jadi skandal. “Apa jangan-jangan si Bella, ya?” tuduh Ares tiba-tiba. “Lo nuduh Bella gini alesannya apa?” “Gatau. Feeling doang,” jawab Ares sekenanya. “Hati-hati lo. Ntar kena pasal pencemaran nama baik.” “Santailah. Bilangnya cuma ke elo kok,” respon Ares lalu menghabiskan es tehnya. Ia melanjutkan, “Ntar gue mau cari tau. Siapa tau beneran dia.” *** Setelah lampu hijau menyala, Bella berbelok yang sontak membuat Nala mengernyitkan dahi. Perasaan arah ke apartemen Nala lurus dari persimpangan. Kenapa Bella justru belok? “Kak Dikta maksa gue harus ke rumah,” tutur Bella seolah mengerti kebingungan Nala. Ia melirik sahabatnya sekilas. “Seneng kan lo ketemu abang gue?” Nala membuang muka dengan semburat merah di pipi. “Ngapain dia nyuruh lo ke rumah? Gegara foto sama Farrel?” “Apa lagi emang?” “Cepet banget kakak lo update. Punya mata sakti kali ya,” komentar Nala lalu membisu. Ia mendadak teringat rencana ke Pantai Mutiara yang tertunda karena Dikta sibuk. Sampai detik ini, Dikta sama sekali belum menjanjikan kapan mereka bisa pergi. Oh ya, Bella sama sekali tidak tahu soal itu. Nala hanya tidak ingin Bella menggodanya. Ia malu. Setelah memarkir mobil, Bella dan Nala bergegas masuk rumah. Di ruang tamu, Dikta menyambutnya dengan wajah menyeramkan. “Duduk,” perintah Dikta tegas. “Ga usah disuruh juga gue bakal duduk,” gerutu Bella pelan. Ia menarik tangan Nala agar duduk di sampingnya. Ada alasan kuat kenapa Bella mengajak Nala. Setidaknya emosi Dikta bisa sedikit reda karena ada kecenderungan untuk menjaga image di depan cewek lain. Itu teori random dari Bella saja sih. Belum ada jurnal atau penelitian soal perilaku Dikta. “Ngapain sih nyuruh gue ke sini?” oceh Bella lagi. “Lo harus je—" “Tunggu!” tahan Bella sambil mengambil ponselnya yang berdering. Keningnya berkerut melihat nama Ares. Tanpa pikir panjang, ia pun bangkit dan menyingkir dari sana. Setelah cukup jauh, barulah ia menjawab panggilan itu. “Kenapa lo nelpon gue?” “Kenapa belum balik?” Ares balik bertanya. “Oh, lo peduli juga sama gue? Lo bilang, kita hidup masing-masing. Jangan ikut campur. Lo nggak lupa ingatan kan?” sindir Bella pelan karena takut ketahuan Dikta. “Nggak usah kepedean. Gue nanya karena ada yang harus kita bicarain. Lo kapan balik? Lo nggak sedang open BO lagi kan?” balas Ares tajam. Seketika emosi Bella melejit. “Mulut lo kenapa pedes banget sih? Gue nggak open BO!” “Terus kenapa belum balik???” “Ini baru jam delapan malem, Ares. Lo nggak usah kayak orang kolot gitu. Emang lo mau ngomong apa sih? Ngomong aja. Ribet amat dah lo,” cerocos Bella semakin jengkel. “Gue udah liat foto lo ciuman sama cowo tengil itu.” Bella terkejut, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ia tidak menyangka foto sialan itu sampai di penglihatan Ares. Gilaaa…. Bisa hancur rencananya. Bisa-bisa Ares benci padanya. Padahal sudah bagus kemarin-kemarin Ares peduli padanya. “Terus lo mau bahas apa? Lo bilang kan terserah gue mau ngapain,” ujar Bella berusaha tenang. “Jam berapa lo balik? Gue nggak mau bahas ini di telpon.” “Gue lagi di rumah Kak Dikta. Ntar juga gue balik. Nggak usah nyariin gue,” jawab Bella langsung mengakhiri panggilan. Aduh, kepalanya mendadak berat. Perihal foto saja sudah membuatnya ketar-ketir. Sepertinya ini juga yang Ares rasakan ketika Bella menjebaknya. Situasi yang kacau dan begitu tiba-tiba membuatnya pusing dan kesulitan berpikir jernih. Pantas saja Ares membuat keputusan ceroboh dengan cepat. Well, ‘karma does exist’ is real for her now. Sekali lagi, Bella menarik napas panjang sebelum kembali ke hadapan Dikta. Begitu pantatnya menyentuh sofa, Nala angkat bicara. “Farrel udah post video klarifikasi.” Kedua alis Bella terangkat. Nala segera memperlihatkan video itu dan menaikkan volume agar Dikta juga bisa mendengarnya. Bella menahan napas. Sementara itu Dikta mendekati Nala agar bisa ikut menyimak. Seketika wangi parfum Dikta tercium oleh Nala. Rasa-rasanya Nala ingin meleleh saat ini juga, tapi situasi memaksanya tetap berlagak biasa saja. “Halo semuanya. Gue Farrel.” Suara Farrel di video mulai terdengar. “Gue tau, gue udah bikin kegaduhan karena foto yang nggak pantes. Gue mau minta maaf. Dan di sini gue mau sekalian klarifikasi. Pertama, gue dan Kak Bella nggak pacaran. Kedua, Kak Bella sama sekali nggak salah. Di sini Kak Bella cuma jadi korban game truth or dare gue dan geng.” Ada jeda beberapa detik. Bella melirik Dikta. Berusaha menilai-nilai ekspresi sang kakak saat melihat video itu. Dikta terlihat marah sekaligus frustasi. Namun pemuda itu tidak mengatakan apapun. Matanya masih fokus dengan video klarifikasi Farrel. “Kenapa gue dan Kak Bella bisa ke hotel bareng juga ada ceritanya. Kronologisnya, gue habis nonton konser berdua sama Kak Bella. Terus gue sakit perut dan booking hotel buat buang air doang. Karena baju gue basah, gue minta tolong Kak Bella bawain baju ganti dari mobil.” Jeda kembali terjadi. Kali ini Dikta menatap Bella dengan sorot mata melunak. “See? Gue nggak salah,” ucap Bella merasa menang. Dikta tidak menyahut karena fokus pada video klarifikasi itu sampai selesai. Akhirnya semuanya sudah jelas: Bella tidak bersalah. Tapi tetap ada satu hal yang Dikta masih pertanyakan. “Oke. Gue udah ngerti. Tapi ada satu hal yang gue pengen tau,” kata Dikta tajam. “Apa lagi???” “Ngapain lo nonton konser berdua doang sama Farrel?” todong Dikta. “Ya lo tau kan gue ngefans sama Ardhito Pramono! Ada yang kasih tiket gratis, masa gue tolak sih?” balas Bella. “Tapi nggak harus nonton berdua doang sama cowok lain kan?” “Ya emang kenapa sih?! Ares aja nggak apa-apa kok gue nonton sama dia. Kenapa lo yang ribet deh!” sahut Bella gregetan. Ia menyambar tas dan lengan Nala. “La, balik yuk. Ares udah nyariin gue.” Bella menarik paksa Nala untuk meninggalkan tempat itu. Dikta tidak berusaha menahan sang adik. Namun ada satu hal yang ingin ia katakan secepatnya pada Nala. Sebelum sosok Nala menghilang dari hadapannya, Dikta membuka suara. “Nala! Ntar gue telpon!” Seketika Nala menoleh dengan wajah berbinar. Ia hanya tersenyum sambil mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN