15

1836 Kata

Mereka akhirnya sampai di sebuah restoran berkonsep fine dining minimalis dengan pemandangan lampu kota Surabaya dari ketinggian. Dewa menarikkan kursi untuk Lintang—satu lagi act of service yang membuat Lintang merasa seperti tokoh utama dalam novelnya sendiri—sebelum ia duduk di hadapan gadis itu. "Pilih," Dewa menyodorkan buku menu yang tebal dan elegan ke arah Lintang. "Ini terserah aku, kan? Nggak ada batasan harga atau kalori?" tanya Lintang, mencoba mengembalikan mode "reog"-nya untuk menutupi rasa canggung. "Hem," gumam Dewa pendek, matanya beralih ke layar ponsel yang baru saja bergetar menunjukkan notifikasi pesan masuk—kemungkinan besar dari relasi bisnisnya yang tak tahu waktu. "Oke, kalau gitu jangan nyesel ya kalau tagihannya bikin kantongmu nangis," Lintang pun mulai mem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN