Aku bukan type orang yang akan melampiaskan semuanya dengan minuman yang bertengker banyak di pesta ini, entah mengapa aku membeku setelah ucapannya, otakku seakan berhenti berfungsi sementara Cathy berlalu menyambut teman-temannya dan di sampingnya Andrew tanpa menoleh ke arahku, padahal semua orang tahu aku lah calon Cathy selama ini, semua seolah menunggu kabar terbaik dari kami namun nyatanya malam ini seolah tak ada yang peduli denganku ada apa sebenarnya ini? Bahkan orang tua Cathy tidak ada nampak menyambutku. Apa karena kabar perusahaanku yang diambang kehancuran? Atau mereka semua memang sebenarnya seperti dan pura-pura di hadapanku? Atau apa pun itu kemungkinannya cukup menyakitiku.
"Lo! ahhhh! Gea yang entah datang dari mana seolah prustasi menatapku, "Anj*** lo!" Sepertinya Gea mengumpat dan entah apa arti umpatannya itu. "Balik sama Gue sekarang kalau lo nggak mau di permalukan disini, mereka mau mengumumkan pertunangan Cathy dengan Mario!" Bentak Gea.
"Dari mana kamu tahu?" Tanyaku sepontan.
"Andrew" Kali ini ia tidak memberikan teka-teki. "Lo gob*** atau gimana sih?" Umpatnya kembali. Entah kenapa wanita ini sering mengumpat saat bicara denganku. "Ayok!" kali ini dia menyeretku, sontak menjadi tatapan orang-orang, wanita yang menarikku cukup mencolok dengan warna kulit sawo matang dan perawakan tidak terlalu tinggi, wajah Asia nya cukup kentara walau tak aku pungkiri dia cantik untuk ukuran orang Asia, tanpa ada blasteran dengan belahan bumi mana pun. Yang jadi perhatian orang-orang selain penampilannya, bahasanya dan interaksinya denganku, mungkin mereka hanya mengira-ngira dari ekspresinya.
"Lo kenapa sih?" Tanyanya saat aku mengikutinya dan masuk ke mobilnya.
"Kamu bertanya?" Aku malah balik bertanya tidak mengerti.
"Astaga gue ngomong sama bule oon." Ucapnya yang entah apa artinya. "Lo temuin nyokap gue sekarang yah!" Lanjutnya kembali sebelum aku membuka mulutku dia seolah meralat kembali ucapannya "my mom" Aku hanya mengangguk pasrah di tengah hati dan otakku yang entah kenapa malam ini seakan tidak ada pada ragaku, mereka berkelana berpisah seolah ragakku kosong, hanya cangkang saja.
"Lo bengong lagi gue gampar!" Dengus wanita yang tidak ada lembut-lembutnya walau sudah bergaun cantik, entah bagaimana tampilan Ibunya apakah sama dengan dia, seketika aku jadi penasaran.
Akhirnya kita sampai di sebuah hotel, jujur aku baru pertama kali memasukinya, fasalnya hotel ini berada jauh di pinggiran kota dan terlihat seperti bangunan tua,
"Kamu yakin ibumu menginap disini? Ini bukan spot yang biasa di datangi oleh pebisnis atau pun orang berlibur."Ujarku.
"Lo maennya kurang jauh." Aku mengerutkan dahi. Dan menirukan cara dia berkomunikasi.
"Dan elo maennya kejauhan." Jawabku. Dia tergelak tertawa, sementara aku sedang tidak ingin bercanda atau pun tertawa. Ada yang unik saat memasuki loby hotel ini penampakannya seperti hotel yang sudah tua namun terawat, alunan musik klasik yang unik menurutku, namun semakin di dengar serasa instrumen ini seolah familiar di telingaku, yah aku terbelalak saat mengingat alunan instrumental ini, ini sountrack sebuah film di sebuah platform TV La Casa De Papel, Bella Ciao jangan tanya artinya bagiku mengerikan tempat apa ini? Aku sedikit ragu, melihat ekspresiku wanita bar-bar di sampingku tersenyum.
"Tenang, tottaly normal kok!"
"Normal? I think otherwise" Jawabku. Dia semakin terkekeh, tempat apa ini? Tuhan tolong aku harus memikirkan perusahaanku, Cathy ya Cathy bagaimana dia bisa seperti itu? aku masih belum mengerti dan percaya semua ini terjadi begitu saja, seolah dia bisa membaca pikiranku kata-kata Gea cukup mengejutkan,
"Ini tidak terjadi begitu saja semua sudah terencana, dan maafin gue, gue baru tahu beberapa bulan ini dan sengaja mendekati Andrew, gue sudah nggak bisa menghentikannya." Jawabnya.
"Kamu tahu ini terencana kenapa malah cuek terhadapku?"
"Karena lo terlalu bu-cin" ia menekan kata bucin entah apa makna kata itu terlalu banyak kata yang aku cari padanan artinya di kamus pun tidak di temukan, lantas itu serapan bahasa atau bahasa apa yang ia gunakan, mungkin bahasa daerahnya mengingat bahasa di Indonesia sangat beragam pikirku.
Saat lift terbuka entah ini lantai atas atau bawah karena angka yang tertera sungguh aneh hanya symbol-symbol yang aku tak mengerti terlebih Gea menggunakan kartu akses untuk pergi, pemandangannya sungguh membuatku tercengang, ini super mewah 180° berbeda dengan nuansa di loby tadi. Aku melihat wajah-wajah Asia di sini, si sipit putih, si mata bulat dengan kulit eksotis, what tempat apa ini bahkan orang-orang yang berlalu lalang membawa nampan pun berwajah Asia yang aku yakini mereka adalah pelayan dari seragam yang mereka kenakan mereka tampak tersenyum memberi hormat ke arahku dan Gea. Seolah Gea sudah terbiasa di tempat ini dia jalan tanpa ragu dan aku merasa kita ada di dunia yang sungguh berbeda.
"******? (Huìyì jiéshùle ma? : apakah rapatnya sudah selesai)" Gea kepada seseorang. Bahasa apalagi yang wanita ini gunakan? Mandarin kah? Aku hanya tercengang melihatnya, entah apa yang sedang mereka bicarakan masalahnya otakku terlanjut loading.
"Bro, kita nunggu di ruang sebelah, ruang nyokap gue." Ajak Gea, aku hanya menurut saja. Tempat apa ini? Aku kita keluargaku adalah keluarga kaya yang bisa punya segalanya, nyatanya tidak ada apa-apanya buktinya aku tidak pernah mengetahui ada tempat seperti ini di dunia.